Love Story: Tinggal di Rumah Mertua, Siap-siap Tebalkan Telinga

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Dalam Islam, pernikahan menjadi salah satu syarat kesempurnaan beragama. Meski begitu, menikah tidak hanya tentang ijab kabul dan bulan madu, tapi juga modal untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Maka wajar jika para mertua selalu menuntut modal untuk menjamin kehidupan anaknya kelak dalam kehidupan rumah tangga.

Hal ini dirasakan Mamat (32 tahun), bukan nama sebenarnya. Ia harus berbesar hati menanggung malu dengan keluhan mertuanya setiap hari. Pasalnya, Mamat yang menikahi Badriah (28), bukan nama sebenarnya, sejak enam tahun lalu belum memiliki rumah sebagai tempat tinggal keluarga kecilnya. “Mau gimana lagi. Dengan penghasilan pas-passan untuk makan, mana cukup buat membangun rumah?” terang Mamat.

Mamat menceritakan, dirinya tidak menyangka ketika mengetahui sifat asli sang mertua yang matre. Padahal di awal pertemuan, ibu mertuanya jauh dari tampang matre dan terlihat seperti menerima keadaan Mamat yang hanya berprofesi sebagai supir angkot. “Ternyata setelah beberapa minggu tinggal bersama di rumahnya, saya kaget karena tahu watak asli ibu mertua saya,” akunnya.

Marni (45), bukan nama sebenarnya, ibu mertua Mamat ini terkenal di lingkungan tetangganya sebagai ibu yang bawel dan selalu ingin tahu urusan tetangga. “Kalau sudah begini ya harus terima, walaupun sebenarnya nggak tahan setiap hari disindir karena belum punya rumah,” tambah Mamat.

Empat tahun yang menjengkelkan harus dilalui Mamat. Kondisi ini tak jarang membuatnya harus cek-cok dengan ibu mertua. Wanita tua itu sudah menjadi single fighter alias menjanda selama sepuluh tahun dan menghidupi enam anaknya sendirian.

Mertua bawel nan matre ini menjadi cobaan bagi Mamat. Namun karena cintanya kepada Badriah yang telah melahrikan dua buah hatinya yakni Sanah (5) dan Suni (3), bukan nama sebenarnya, membuat Mamat harus menebalkan telinga dan melapangkan dada untuk menghadapi ibu mertua yang mengeluhkan pendapatan Mamat sehari-hari.

Di usia lima tahun rumah tangganya, Mamat memilih mengungsi dan tinggal sementara di rumah ibu kandungnya. “Bayangin aja, tiap saya pulang ke rumah istri pasti ibunya ngomel dan nyindir. Udah capek seharian muter nyari penumpang eh datang ke rumah malah ditambah masalah lagi. Daripada makin panjang masalahnya, malam itu juga saya langsung ajak istri dan anak untuk mengungsi,” tuturnya.

Keputusannya untuk mengungsi, ternyata ditanggapi dengan buruk oleh Marni. Wanita ini tidak terima putri keduanya yang tak lain si Badriah diajak mengungsi. Marni khawatir anaknya akan terlantar, mengingat penghasilan Mamat seadanya dan tak menentu.

Konflik ibu mertua dan menantu pun memanas, sehingga membuat renggang hubungan keduannya. Meski begitu, Mamat bertekad untuk tetap mengungsi dengan Badriah dan kedua anaknya menggunakan angkot yang sehari-hari digunakan untuk mencari nafkah.

“Dari kejadian malam itu saya memutuskan sedikit demi sedikit membangun rumah di tanah yang saya miliki, hasil dari bagian harta warisan keluarga. Meski modal untuk membeli bahan bangunan menghutang, yang penting bismillah membangun rumah sendiri,” jelas Mamat.

Setahun berlalu, rumah yang dibangun secara bertahap pun berdiri. Meski masih beralaskan tanah saja Mamat bersyukur bisa memiliki rumahnya sendiri untuk ditinggali keluarganya. Dan hubungan Mamat dan Marni secara perlahan membaik. “Meski sakit hati, tapi saya jadikan motivasi,” pungkasnya. (Wivy-Zetizen/Radar Banten)