Love Story: Wortel, Telur, atau Kopi?

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Akhir pekan di awal 2016, Dina (33), nama samaran, memutuskan pergi ke Sukabumi. Ibu dua anak yang tengah berurusan dengan kasus perceraian ini ingin menyendiri di rumah bibinya, sebut saja Tini (45). Rupanya rumah Tini biasa menjadi tempat pelarian Dina jika mengalami masalah. Sementara, kali ini masalah yang dialami Dina cukup berat karena menyangkut keutuhan rumah tangganya.

Membawa beberapa potong pakaian dan cemilan khas Rangkasbitung, Lebak, Dina berkendara sendirian melalui jalur Jasinga, Bogor. Mobil miliknya sudah terbiasa melintasi jalur yang terkenal dengan belokan-belokan tajamnya itu.

Anak-anak Dina yang masih kecil dititipkan kepada sang ibu. Ia datang sendiri tanpa ditemani siapa pun. “Saya biasa pergi kemana-mana sendirian kok. Ada mobil ini kan,” kata Dina saat ditemui di Pengadilan Agama, pekan lalu.

Sebelum pergi, tentunya Dina terlebih dahulu menghubungi Tina. Ia mengaku ingin menyendiri sekaligus curhat tentang persoalan rumah tangganya. “Biasanya sih kalau saya mau pergi, banyak yang ingin ikut. Namun berhubung saya sedang ada masalah, mereka enggan ikut saya. Jadinya pergi sendirian saja,” akunya.

Cukup panjang perjalanan Dina, membutuhkan waktu delapan jam agar sampai di kediaman Tini. Setiba di Sukabumi, Dina langsung curhat tentang rumah tangganya kepada Tina. Ia mengatakan, prinsip hidup antara dirinya dengan Juki (36), nama samaran suami Dina, sudah tidak selaras. Ini pemicu serentetan pertengkaran yang membuat rumah tangganya tidak nyaman. “Persoalan saya dengan Mas Juki memang sudah berlangsung lama. Nah akhir tahun lalu sudah memuncak. Kami bertengkar hebat lalu saya ajukan cerai ke Pengadilan Agama,” aku Dina.

Prinsip-prinsip yang dimaksud Dina tidak lain kebiasaan-kebiasaan mereka yang saling bertolak belakang. Contohnya, Dina wanita cekatan namun Juki orang yang terlalu santai, lalu Dina orang yang sangat hati-hati dengan pengeluaran sementara Juki boros dengan keuangannya. “Mas Juki kalau keluar uang itu tidak pernah mikir dua kali. Itu saya tidak suka sekali,” jelasnya.

Dina memang tipikal perempuan keras, dia kurang tolerir dengan hal-hal yang bersifat lelet. Pada sisi positif memang Dina terlihat sebagai perempuan cekatan, namun di sisi lain Dina bukan orang penyabar. “Kelemahan saya memang di situ, inginnya yang instan dan cepat. Kalau ada urusan ingin cepet selesai, kalau lama itu suka bikin jengkel,” tuturnya.

Usai mendengarkan panjang lebar, Tini tidak langsung memberikan nasihat. Ia hanya tersenyum kemudian meminta Dina mengikutinya ke dapur. “Ikut saya dulu sebentar, begitu kata Bi Tini waktu itu,” jelas Dina.

Tini kemudian memasak air, sementara Dina diminta untuk mengambil tiga gelas kaca. Selain gelas, Tini pun meminta Dina mengambil wortel, telur mentah, serta kopi. Dina tentu saja bertanya-tanya, orang lagi curhat kok malah ngajak masak. Tapi waktu itu Tini tidak sedang mengajak masak, namun ingin menunjukkan sebuah filosofi. “Dia bilang itu filosofi air panas,” kata Dina.

Setelah air mendidih, Tini menuangkan air panas itu ke dalam gelas. Kemudian Dina diminta memasukkan wortel, telur mentah, serta kopi tersebut ke masing-masing gelas. Saat itulah nasihat kepada Dina meluncur dari mulut Tini. Sang bibi mengatakan, masalah dunia tidak jauh berbeda dengan air mendidih. “Bi Tini bilang, kalau orang punya masalah pasti bawaannya selalu panas seperti air mendidih,” ujarnya.

Tidak lama kemudian, wortel dalam air mendidih yang sebelumnya keras menjadi lunak. Berbeda dengan wortel, telur yang awalnya lembek malah mengeras. “Sementara yang kopi, bibi tambahin gula lalu diaduk. Di minum oleh dia,” tutur Dina.

Tina kemudian mengatakan, ada tiga tipe manusia jika sedang dirundung masalah. Tipe pertama menjadi lembek seperti wortel, tipe suka mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Tipe kedua menjadi keras seperti telur, tipe pemarah dan senang menyalahkan orang lain.

Nah, tipe ketiga adalah kopi, menjadi harum, kuat, serta bijaksana. Apalagi ketika ditambah gula dan diminum bersama, menjadi media keakraban antar teman, kerabat, sahabat, juga rumah tangga. “Kata bibi saya, semua itu tergantung diri masing-masing, apakah memilih menjadi wortel, telur, atau kopi, ketika menghadapi masalah. Tentu saya bilang kopi,” katanya.

Menjadi kopi, lanjut Tini, akan membuat masalah menjadi media mempererat tali persaudaraan. Semakin banyak masalah yang dilalui, semakin harum dan bijak diri masing-masing. “Perbedaan ternyata bukan hal yang memisahkan, bahkan membuat rumah tangga semakin indah. Selisih pendapat pun seharusnya tidak usah diperkeruh, apalagi sampai melibatkan Pengadilan Agama. Jika dibicarakan baik-baik dan dicari solusi, pasti akan ada jawabannya,” tuturnya.

Nasihat-nasihat Tini menjadi inspirasi untuk Dina. Ia berhasil menyelesaikan persoalan dengan Juki tanpa lewat debat kusir di Pengadilan Agama. Berhasil mengatasi persoalan rumah tangga secara baik-baik, ia kemudian melakukan pencabutan gugatan cerai. “Itu pelajaran berharga buat saya. Kemarin saya terlalu cepat emosi, karena saya memilih seperti itu. Itikad saya untuk menjadi istri yang baik tetap harus dijaga. Saya tidak akan lemah lagi dengan permasalahan,” katanya. (Sigit/Radar Banten)