Lumbung Pangan dan Amal

 HM Ali Mustofa*

“Dan Tolong Menolonglah Kamu dalam Perbuatan Baik dan Takwa dan Jangan Tolong Menolonglah Kamu dalam  Perbuatan Dosa dan Permusuhan”  (QS. Al-Maidah : 2)

Lumbung pangan pernah ada pada masa dulu disekitar tahun 70an hingga tahun 80an.  Ketika itu lumbung pangan berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan pangan terutama padi milik masyarakat pada saat panen dan didistribusikan pada saat musim paceklik. Pada saat panen produksi padi melimpah diikuti dengan penurunan harga. Jika semua hasil panen dijual maka petani akan merugi dan yang paling merugi saat musim paceklik tiba dimana stok bahan pangan langka di masyarakat. Akibatnya terjadi kekurangan pangan, kelaparan dan aneka penyakit kekurangan gizi timbul di tengah masyarakat.

Orang tua kita zaman dulu membuat lumbung pangan sebagai tempat menyimpan dan mendistribusikan bahan pangan milik masyarakat. Prinsipnya adalah dari dan untuk masyarakat. Modal utamanya adalah kepercayaan (trust) anggota masyarakat terhadap seseorang yang dituakan atau ditokohkan. Seorang tokoh yang dijadikan sebagai ketua lumbung adalah mereka yang memiliki legitimasi untuk mengelola lumbung. Ia dipercaya untuk mengelola lumbung dari mulai panen, saat paceklik dan panen lagi. Honornya didapat dari sumbangan sukarela anggota lumbung sebagai simbol ungkapan rasa terimakasih atas jasa perawatan padi selama berada di lumbung pangan.

Pengelola lumbung Insyallah mendapatkan limpahan pahala karena walau mungkin honornya alakadarnya tapi pengelola lumbung merasa senang dan merasa puas. Mengapa? Ia merasa senang karena mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menjadi pengelola (manajer lumbung). Kepercayaan adalah salah satu tolok ukur pribadi yang berintegritas yang merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam manajemen dan kepemimpinan. Rasulullah SAW adalah teladan bagi pribadi yang berintegritas. Masa mudanya diberi gelar  Al Amin yang artinya terpercaya. Dengan gelar Al Amin beliau sukses menengahi kisruh antar tokoh masyakakat Quraish untuk meletakan Hajar Aswad saat renovasi ka’bah. Beliau juga sukses menjadi kepercayaan Siti Khadijah –seorang saudagar kaya- dalam menjalankan syirkah bisnisnya sehingga mampu meraih keuntungan  material dan spiritual. Menjadi orang yang dipercaya dalam situasi sekarang yang serba transaksional tidaklah mudah. Tidak jarang seseorang yang berkepentingan untuk mendapat kepercayaan sebagai manajer dan jabatan public harus mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit.

Kembali kepada manajer lumbung tadi, disamping merasa senang ia juga merasa puas. Kepuasan pertama karena dengan jabatannya itu, ia mendapat kesempatan untuk menjadi pelayan masyarakat. Sebagai pelayan ia sadar posisinya berada di bawah anggota lumbung yang diyakini sebagai tuannya. Pelayan adalah pelaksana amanah yang berfungsi mengoperasikan titipan agar titipan itu sampai kepada yang menitipkan. Meski yang dititipkan wujudnya padi (gabah) tapi makna spiritualnya adalah titip  kepercayaan yang artinya jika khianat maka kepercayaan itu akan tereduksi sesuai dengan kadar khianatnya.  Inti dari amanah adalah kejujuran. Sama halnya saat kita saat ini dititipi amanah untuk melaksanakan shaum Ramadhan sebulan penuh yang pelaksanaannya dicicil sehari demi hari sampai dengan akhir bulan. Jika tidak jujur boleh jadi lahiriahnya mengaku sedang berpuasa tapi sejatinya dibelakang layar berbuka alias tidak berpuasa. Artinya menjadi manajer lumbung atau pemangku jabatan public harus jujur sejujur orang yang sedang melaksanakan shaum Ramadhan.  

Kepuasaan berikutnya adalah kesabarannya dalam menjaga titipan gabah pada lumbung yang dikelolanya sampai bisa didistribusikan saat ada anggota yang membutuhkan, saat paceklik dan saat panen tiba. Sepanjang masa penjagaan itu manajer lumbung mungkin menghadapi ujian kepercayaan seperti kritikan, gunjingan dan bahkan umpatan yang berpotensi mereduksi kepercayaan yang diberikan anggota lumbung.  Tapi sebagai pengemban amanah manajer lumbung menghadapi semua kritikan, gunjingan dan umpatan yang memancarkan energy negatif itu dengan senyuman dan amal shalih. Senyuman memiliki makna simbolik muhasabah atas keterbatasan pengetahuan pengkritik, penggunjing dan pengumpat yang mereka lakukan seringkali  atas dasar dugaan yang tidak sepenuhnya benar tapi disampaikan dengan merasa benar.

Sedangkan amal sahlih adalah perbuatan baik yang didasarkan pada keikhlasan dan pengharapan terhadap ridha Allah SWT semata. Saat dikritik, digunjing maupun diumpat dikembalikan pada dirinya sendiri dengan melakukan muhasabah. Sesudah ditemukan bahwa pada dirinya terdapat begitu banyak kekurangan dan kelemahan maka ia istighfar dan memohon pertolongan kepada  Allah SWT agar diberi petunjuk untuk mendapatkan solusi terbaik. Di sini manajer lumbung membutuhkan kapitalisasi keikhlasaan untuk memacu kinerja sehingga menghasilkan kebaikan-kebaikan pada pekerjaan yang dilakukannya.

Kapitalisasi keikhlasan berarti meninggkatkan daya legowo terhadap aneka kritikan, umpatan dan gunjingan dengan penuh kesabaran. Ia tidak menghadapinya dengan emosi tapi sekali lagi dengan penuh kesabaran. Gagal melakukan muhasabah terhadap dirinya berati ia gagal pula menemukan keikhlasan pada dirinya yang seharusnya diwakafkan kepada masyarakat saat ia bersedia diangkat menjadi manajer lumbung.  Seandainya ia emosional menghadapi  aneka kritikan, umpatan dan gunjingan maka ia gagal menemukan dasar-dasar keikhlasan pada dirinya.  Ekspresi perbuatan yang ditampilkan biasanya serba artifisial jauh dari nilai-nilai keikhlasan. Perbuatan baik yang dilakukan namun tidak berangkat dari nilai-nilai keikhlasan tidak mengakumulasi menjadi amal shalih. Perbuatan baiknya tidak bermakna melayani tapi lebih mengkspresikan perlawanan untuk menjaga citranya agar tidak rusak .  

Menjaga citra berarti menutupi kekurangan-kekurangan dirinya dengan aneka asesoris atau mungkin juga dengan topeng-topeng. Seandainya  Allah SWT tidak menutupi kekurangan atau aib-aib seseorang niscaya keburukannya akan telanjang. Kebaikan yang dilakukan seseorang memberi manfaat akan menutup keburukannya.  Karena itu tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan takwa itu dianjurkan dan sebaliknya tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan itu dilarang.

Dalam situasi Pandemi Virus Covid-19 seperti yang dirasakan sekarang ini tolong menolong dalam kebaikan itu sangat diperlukan. Seseorang yang terinfeki Virus Covid-19 jiwanya terancam ia membutuhkan pertolongan dokter dan para medis untuk membebaskannya dari ancaman virus Covid-19.  Sementara itu untuk menolong dokter dan para medis diperlukan dukungan masyarakat agar bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Dan untuk mengendalikan penyebaran virus secara massal pemerintah memberlakukan PSBB (pembatasan Sosial Berskala Besar). Sukses tidaknya PSBB juga diperlukan pertolongan masyarakat untuk mentaatinya.

Pandemi juga tidak hanya berdampak terhadap kesehatan tetapi berdampak pada kehidupan social dan perekonomian. Dalam kehidupan social pertemuan-pertemuan besar dilarang. Dalam pertemuan-pertemuan yang diizinkan harus mematuhi protocol kesehatan seperti menggunakan masker, menerapkan physical distanting, menggunakan hand sanitizer hingga harus sering cuci tangan. Banyak kiyai dan ustadz yang kehilangan pekerjaan sebagai khatib, juru do’a hingga qori karena kegiatan-kegiatan ibadah dan ritual yang mengumpulkan banyak orang dilarang. Dalam kehidupan perekonomian pertumbuhan ekonomi melambat, pabrik-pabrik berhenti berproduksi, kegiatan ekspor impor dan perdagangan umum melambat. Daya beli menurun, PHK  dan pengangguran meningkat.

Sektor-sektor ekonomi di luar pertanian pada umumnya terdampak secara serius namun untuk sector pertanian memiliki daya tahan yang baik. Untuk bisa bekerja, belajar dan beribadah dari rumah  dibutuhkan dukungan logistik yang kuat khususnya beras. Namun tidak semua anggota masyarakat memiliki cadangan beras yang cukup. Jika seandainya Lumbung Pangan yag didirikan masyarakat seperti pada tahun 70 dan 80 an itu saat ini eksis maka Lumbung Pangan bisa menjadi andalan masyarakat yang membutuhkan logistic. Manajer lumbung menjadi pekerja yang paling sibuk dalam mendistribusikan gabah atau berasnya kepada anggota yang membutuhkannya. Bahkan tidak hanya kepada anggota tetapi juga kepada masyarakat luas. Lumbung Pangan dalam situasi ini akan menjadi lumbung pahala karena turut menyelamatkan banyak jiwa yang terancam kelaparan seperti halnya dokter dan para medis yang menyelamatkan banyak jiwa yang terancam kematian akibat infeksi virus Covid-19.  

Pada masyarakat perkotaan lumbung pangan bisa didesain dengan memfungsikan masjid. Pasokan logistik disimpan dan didistribusikan melalui masjid. Pada desa-desa tertentu seperti yang ada di Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang beberapa masjid memiliki wakaf sawah produktif yang cukup luas.  Sawah wakaf milik masjid digarap oleh jamaah masjid dengan system bagi hasil (paroan). Setiap musim masjid menerima bagi hasil gabah dari penggarapnya. Renovasi dan kegiatan memakmurkan masjid dibiayai dari dana masjid bahkan pada musim paceklik gabah masjid dikeluarkan untuk dipinjamkan kepada masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Mesjid dalam hal ini sudah memfungsikan diri sebagai lumbung pangan sekaligus lumbung amal karena telah berkiprah menyelamatkan jama’ahnya dari ancaman kelaparan. 

Selain masjid lembaga keagamaan yang potensial untuk berperan sebagai lumbung pangan adalah pondok pesantren. Dengan populasi lebih dari 4000 lembaga dan dengan sebaran yang merata dari perkotaan hingga perkampungan, pondok pesantren (pontren) di Banten berpotensi penting untuk menjaadi lumbung pangan sekaligus juga lumbung amal. Meskipun tidak semua pontren memiliki sawah produktif seperti halnya beberapa masjid di Kecamatan Pontang Kabupaten Serang, akan tetapi setiap pontren pasti memiliki pekarangan walapun sempit. Sawah dan pekarangan pontren potensial untuk dijadikan basis ketahanan pangan masyarakat dengan budidaya  padi,  sayuran, ikan dan ternak. Hasilnya tidak hanya digunakan untuk konsumsi domestic pontren tapi juga untuk masyarakat sekitar.

Dalam situasi Pandemik Covid-19 dimana pontren-pontren pun turut mengalami lockdown maka bagi pontren yang memiliki sawah diperkirakan memiliki daya tahan logistic lebih baik dibandingkan dengan pontren-pontren yang basis pendapatannya dari warung santri. Pontren yang memiliki sawah diperkirakan mampu bertahan 4 hingga 8 bulan ke depan mingikuti ritme umur panen padi sedangkan bagi pontren-pontren yang basis pendapatnnya dari warung-warung santri daya tahan logsitiknya kurang dari 4 bulan.

Dari perbedaan ini maka prinsip ta’awun antar pontren dan antar pontren dengan masyarakat sekitar penting dilakukan. Pontren yang memiliki sawah dapat didesain menjadi lumbung sedangkan yang tidak memiliki sawah menjadi sasaran sistribusi logistic sesudah pada masa panen pontren yang tidak memiliki sawah turut membeli padi dan menyimpannya di lumbung milik pontren. Jika desa memiliki BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) maka Pontren juga seharusnya memiliki Badan Usaha Milik Pontren (BUP) yang salah satu sayap usahanya adalah mengelola lumbung pangan.

Dengan demikian saat para kiyai, ustadz, santri dhuafa dan masyarakat dhuafa sekitar pontren terdampak secara ekonomi dan social pontren tetap berkiprah mengalirakan kebaikannya dalam bentuk distribusi logistik melalui Gerakan Amal Umat (Gamat) menghimpun dan mendistribusikan 10.000 paket sembako.  Seandainya lumbung pangan pontren tersebut terealisasi maka kiprah Gamat terus berlanjut dan yakin lumbung pangan pontren akan menjadi lumbung pahala yang terus mengalirkan kebaikan untuk umat.

Penulis adalah Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 MUI Provinsi Banten.