Madrasah Boleh KBM Tatap Muka

Menag Fachrul Razi (kiri) didampingi Rektor UIN SHM Banten, Fauzul Iman memberikan sambutan pada acara monitoring SSE, UM-PTKIN Aula Rektor, Kampus UIN SMH Banten, Kamis (6/8).

SERANG – Kementrian Agama memperbolehkan sekolah madrasah membuka kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka. Keputusan penerapannya diserahkan kepada tiap kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Demikian diungkapkan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi saat melakukan monitoring Sistem Seleksi Elektronik (SSE) Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) di Kampus UIN Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten, Kamis (6/8).

Menurut Fachrul Razi, keputusan madrasah dibuka kembali diserahkan kepada pihak sekolahnya masing-masing dan pemerintah daerah. “Sudah punya kesepakatan (dengan Menteri Pendidikan-red) untuk sekolah-sekolah yang madrasah maupun sekolah umum yang akan buka silahkan buka,” ujarnya.

Mantan Wakil Panglima TNI ini menegaskan kebijakan pemerintah terkait kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka tidak berdasarkan zonasi. Menurutnya, status zona merah di satu Kabupaten/Kota tidak serta merta bagi kelurahan atau desa. “Bisa saja Kabupaten Kota zona merah sebutulnya desa- desa sudah hijau,” katanya.

Fachrul Razi menegaskan, saat mengeluarkan KBM tatap muka, pihak sekolah harus mempertimbangkan kondisi lingkungan sekolah, guru, dan siswa aman dari Covid-19. “Utamanya, menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kalau itu dilakukan Insyaallah baik,” katanya.

Pria kelahiran Sumatera Barat itu mengatakan, saat ini ribuan sekolah madrasah di lingkungan pondok pesantren telah dibuka. “Buktinya sudah sekian ribu yang membuka, yang kena Covid-19 kalau enggak salah hanya tiga. Kalau hitungan persentasenya, 0,0000 sekian persen,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Banten, Bazari Syam mengakui banyak pondok pesantren di Banten telah membuka kembali aktivitas belajar mengajar tatap muka. “Kalau yang di luar ponpes, belum. Tapi, pondok pesantren modern sudah banyak yang dibuka. Catatannya, boleh buka tapi perhatikan protokol dengan baik,” katanya.

Sementara untuk sekolah madrasah di luar pondok pesantren di wilayah Banten, hingga kini belum ada yang membuka proses belajar tatap muka. “Kita ingin memastikan lingkungan aman dari Corona (Covid-19). Tenaga kependidikannya aman, siswa dan rekomendasi Gugus Tugas. Tapi memang saat ini ada kelonggaran,” terangnya.

PESERTA MENINGKAT

Sementara terkait UM-PTKIN, Fachrul Razi mengungkapkan, jumlah pendaftar setiap tahun terus meningkat.

Berdasarkan catatan Kemenag, pada 2018, pendaftar UM-PTKIN berjumlah 103.444 orang. Pada 2019 berjumlah 122.981 orang, dan pada 2020 sebanyak 135.44 orang. “Kita perlu bersyukur, di tengah pandemi ini, ujian masuk PTKIN yang dilakukan secara online, tadinya kita membayangkan peminatnya menurun, namun ternyata jauh bertambah dari tahun sebelumnya,” katanya.

“Dan lebih senang lagi, yang mendaftar tidak hanya berasal dari lulusan Madrasah Aliyah tapi juga dari sekolah umum dengan jumlah yang hampir seimbang. Kita bisa melihat bahwa PTKIN diminati oleh siswa yang memimpikan masa depan yang lebih baik,” tambah politisi partai Hanura itu.

Kata Fachrul, dalam pelaksanaan SSE UM-PTKIN perdana ini, ada beberapa kendala yang telah menjadi catatan. (fdr/nda)