Mahasiswa Harus Kritis dan Berkomunikasi

SERANG – Sebanyak 4.108 mahasiswa baru program sarjana dan diploma III tahun akademik 2019-2020 mengikuti Kegiatan Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (KPKMB) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) di kampus Untirta. KPKMB itu dilakukan agar mahasiswa dapat mengenal kampus yang akan menjadi tempat mereka belajar.

Hal itu disampaikan Rektor Untirta Prof Sholeh Hidayat. “Melalui pengenalan kampus ini sejumlah aturan, norma, dan etika disampaikan untuk dijunjung tinggi oleh semua warga kampus Untirta,” ujar Sholeh, Selasa (13/8).

Sholeh mengatakan, dengan kondisi saat ini, mahasiswa tidak cukup hanya belajar di kelas saja, tapi juga melakukan penelitian dan pemanfaatan ilmu yang diperoleh melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Untuk itu, ia meminta para mahasiswa untuk kritis, menjadi problem solving, memiliki kreativitas dan inovasi, serta memiliki kemampuan berkomunikasi.

“Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui ilmu pengetahuan saja, tapi juga harus punya bekal untuk terjun ke masyarakat atau self skill,” terangnya.

Mahasiswa harus memiliki kemampuan meyakinkan jejaring. Hal itu banyak didapatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi ekstra kampus. Namun, Sholeh juga mengingatkan, kegiatan ekstrakurikuler maupun organisasi ekstra kampus dapat menjadi bencana apabila para mahasiswa tidak dapat memanajemen waktu antara belajar dengan aktivitas sebagai pengayaan. “Kalau tidak me-manage ya bisa tertindas oleh waktu, jadi drop out,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, hadir juga Gubernur Banten Wahidin Halim. Pria yang akrab disapa WH itu berdialog bersama ribuan mahasiswa baru Untirta. Dalam dialog itu, WH menyampaikan, mahasiswa tidak hanya harus pintar, tapi juga mampu berinovasi dan terampil agar menjadi sumber daya manusia (SDM) siap pakai, baik bergabung dalam industri maupun menciptakan industri sendiri.

Ia menjelaskan, Pemprov Banten selama ini terus menjalin hubungan industrial yang baik dengan para pengusaha besar dan menengah di Banten. Hubungan tersebut berupa kerja sama pemerintah dengan pihak industri dalam menyediakan SDM yang siap diterjunkan dalam dunia kerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki.

“Karena tidak jarang, sewaktu kuliah anaknya pintar tapi ketika terjun ke dunia kerja tidak berhasil. Bisa dipengaruhi berbagai faktor, tapi yang paling dominan karena jenis pekerjaan tidak sesuai dengan keahlian. Makanya, kami coba fasilitasi agar di satu sisi kami berupaya tekan pengangguran, di sisi lain kami ingin SDM yang direkrut bisa sukses dalam pekerjaannya,” tuturnya.

WH mengatakan, kehadirannya di KPKMB Untirta salah satunya untuk mengenalkan Banten kepada para mahasiswa baru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia berharap, para mahasiswa ini mempunyai niat dan semangat untuk membangun Banten. “Dapat mengimplementasikan ilmu yang didapatnya untuk Banten,” tutur mantan walikota Tangerang dua periode itu.

Saat itu, salah seorang mahasiswa asal Papua, Tinus Laboa, juga sempat diajak berdialog dengan WH. WH menanyakan alasannya memilih menempuh program keguruan dan ilmu pendidikan Untirta sebagai tempatnya menimba ilmu.

Mahasiswa tersebut menyampaikan bahwa di daerahnya tidak ada satu pun guru yang bisa mengajar sehingga anak-anak Papua sulit mendapatkan pendidikan. Oleh karenanya, ia bertekad kuat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi guru. “Karena kalau bukan saya, tidak ada lagi yang menjadi guru di daerah kami,” ujar Tinus. (nna/air/ira)