Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah didampingi Ketua DPRD Banten Asep Rahmatullah dan Rektor Untirta Sholeh Hidayat saat menghadiri kegiatan pengenalan kampus, di kampus Untirta, Kota Serang, Senin (13/8). Foto: Qodrat/Radar Banten

SERANG – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengingatkan ribuan mahasiswa baru Untirta mengenai ancaman penjajahan gaya baru (neo-kolonialisme) di Indonesia sehingga mahasiswa pun dengan mudah diadu domba.

Basarah menyebut, pola penjajahan di era sekarang berbeda dengan penjajahan di masa lampau. “Namun, pola yang digunakan adalah tetap sama, yaitu politik adu domba. Politik pecah belah,” kata Basarah saat memberikan kuliah kebangsaan pada kegiatan pengenalan kampus (KPK) mahasiswa baru Untirta di lapangan kampus A Untirta, Pakupatan, Kota Serang, Senin (13/8).

Basarah membeberkan, Indonesia yang dahulu masih bernama nusantara, berhasil dikuasai Kolonial Belanda karena menggunakan politik adu domba. Sebagai contoh, Kesultanan Banten diadu domba, begitu juga Kesultanan Bone dengan Kesultanan Gowa, dan seterusnya.

Inti dari politik adu domba, kata Basarah, untuk melemahkan persatuan dan kesatuan. Setelah perpecahan terjadi, Kolonial Belanda kemudian masuk dan menguras kekayaan alam tanah air.

“Kekayaan alam bangsa kita yang demikian banyak membuat bangsa asing tertarik untuk datang ke sini,” sambung Basarah.

Ia mengatakan, meskipun bangsa Indonesia sudah merdeka, bukan berarti kaum imperialisme berhenti melakukan penjajajahan. Model atau pola yang digunakan saat ini lebih canggih. Bung Karno menyebutnya dengan neo-imperialisme. Sebagai contoh, mereka masuk dan menguasai sektor ekonomi dan politik. Di sektor ekonomi, misalnya adalah masuknya investasi besar-besaran untuk menguasai dan menjarah kekayaan alam bangsa Indonesia dan membuat berbagai macam regulasi dunia melalui lembaga-lembaga dunia yang mereka ciptakan dan kendalikan. “Mau contoh. Coba lihat semua produk yang kita gunakan sehari-hari mayoritas produk perusahaan asing. Mulai dari urusan dapur, handphone, hingga kendaraan bermotor dikuasai produsen asing dan bukan oleh produsen bangsa kita sendiri,” beber Basarah.

Basarah juga mengingatkan, 3.877 mahasiswa baru Untirta harus memahami tantangan dengan baik. “Tahun ini ada 1,4 juta lulusan SMA/SMK, tapi tidak semua dapat melanjutkan belajar ke perguruan tinggi. Ini sesuatu yang harus disyukuri oleh mahasiswa baru Untirta,” ungkapnya.

Di akhir kuliah kebangsaannya, Ahmad Basarah berpesan dan mengingatkan mahasiswa baru Untirta bahwa mereka adalah penerus bangsa yang saat ini harus bergelut dengan pendidikan yang mencerdaskan dan sekaligus tantangan global seperti disinformasi soal hoax yang berpotensi memecah belah bangsa. “Seperti kata Bung Karno, para mahasiswa, bercita-citalah setinggi langit. Kalau engkau jatuh maka di antara bintang-bintang. Seperti saya, cita-cita ingin jadi presiden, jatuhnya wakil ketua MPR. Jadi, mahasiswa sebagai aset bangsa ke depan harus punya visi kebangsaan untuk Indonesia,” ujar Basarah.

Rektor Untirta Sholeh Hidayat dalam sambutannya mengatakan, tahun ini ada 3.877 mahasiswa baru yang telah diterima di Untirta dari puluhan ribu yang mendaftar. “Kegiatan ini diharapkan dapat mengarahkan mahasiswa baru agar dapat segera menyesuaikan diri dan mampu berkarya secara baik, dengan suasana akademik yang ada di kampus ini, dan dapat membagi waktu dengan baik dan menjadi faktor penting dalam pembelajaran,” katanya.

Ia menambahkan, Untirta merupakan salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Atas dasar itu, mahasiswa Untirta wajib melakukan berbagai upaya positif untuk mengembangkan kampus agar selalu unggul di berbagai ajang kompetisi, baik tingkat regional maupun nasional sesuai visi Untirta, yakni terwujudnya Untirta maju, bermutu, berdaya saing, dan berkarakter dalam kebersamaan tahun 2025. “Selamat berkarya dan belajar di Untirta sebagai bekal hidup di masa depan dan kemajuan bangsa,” tutupnya. (den/aas/dwi)