Mahasiswa Tewas di Tengah Jalan, Orangtua Yakin Akibat Kecelakaan

0
1.236 views
Motor Putra Pratama masih utuh disimpan di Mapolres Serang. FOTO: MERWANDA

ORANGTUA mendiang Putra Pratama masih meyakini bahwa kematian anaknya akibat kecelakaan lalu lintas pada Sabtu (11/2) dini hari. Senada dengan keterangan polisi, mahasiswa Fakultas Teknik Untirta itu disebutkan terjatuh ketika mengendarai sepeda motor kemudian terlindas kendaraan roda empat sehingga kepalanya terpenggal.

“Saya yakin, anak saya meninggal karena kecelakaan. Orang lain bilang karena begal atau sengaja dijahati orang. Saya punya analisa sendiri, saya yang lebih paham. Itu anak saya,” jelas Cece, ayah kandung Putra Pratama di rumah duka, Kompleks Taman Cimuncang Permai, Blok F 20/02, RT 04 RW 15, Kota Serang, Senin (13/2).

Di mata Cece, anaknya merupakan mahasiswa cerdas, aktif, dan supel sehingga memiliki banyak teman. Cece juga tidak pernah mendengar anak lelaki pertamanya itu berselisih dan berkelahi dengan orang lain sejak duduk di bangku sekolah dasar.

“Kalau dibegal, barang-barang anak saya masih utuh, tas isi laptop dan motor tidak diambil. Kalau ada yang jahat (dibunuh-red), sehebat apa sih anak saya,” ungkap Cece.

Pihak kepolisian juga menyimpulkan bahwa Putra Pratama tewas akibat kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Serang-Cilegon, Desa Pelamunan, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Kendati kepala korban sampai terpenggal, polisi menyebutkan, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau kejahatan pada jasad Putra Pratama. Peristiwa ini terjadi ketika korban hendak pulang ke rumahnya. Selama ini, korban indekos di Kota Cilegon, tak jauh dari kampus Fakultas Teknik Untirta.

“Sesuai hasil visum, tidak ada ke arah sana (dugaan pembunuhan-red). Bukan luka tebasan, tulang di dadanya remuk seperti tertekan,” jelas Kanit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Serang Inspektur Polisi Satu (Iptu) Rezki Parsinovandi, kemarin.

“Sekarang masih penyelidikan. Dugaannya memang tabrak lari. Saat kejadian tidak ada saksi mata karena terlalu malam,” ujarnya.

Keyakinan bahwa kepala Putra Pratama terpenggal akibat bagian lehernya terlindas kendaraan roda empat tidak bisa dibuktikan oleh dokter forensik. Hasil visum luar terhadap jasad korban, ungkap Kepala Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) RS dr Dradjat Prawiranegara dr Budi Suhendar Sp.F, bahwa tidak ditemukan bekas roda atau ban pada jasad korban. Sebaliknya, tim forensik menemukan luka goresan.

“Sementara ini tidak ada (bekas ban kendaraan di jasad korban-red). Kami juga belum keluarin hasil resmi visumnya,” jelas dr Budi.

Soal kepala korban yang terpenggal, dr Budi menduga, diakibatkan oleh kekerasan benda tumpul. “Jika dikaitkan dengan satu peristiwa dugaan kecelakaan, masih bisa masuk,” ujarnya.

Senin (13/2) dini hari, Radar Banten bisa menjumpai seorang saksi. Dia perwira pertama kepolisian bernama Nia Kurnia. Anggota kepolisian yang bertugas di sebuah kesatuan di Mabes Polri itu mengatakan bahwa ada lima lelaki lain yang bisa dijadikan saksi atas kasus Putra Pratama.

“Kebetulan saya lewat. Ada lima lelaki muda di sekitar korban. Saat itu belum ada siapa-siapa selain kelima orang itu,” tutur Nia.

Namun, dia menyebutkan, perilaku kelima lelaki itu bukan mencerminkan kebiasaan warga di lokasi kecelakaan. Kelima lelaki itu tidak memberikan informasi kepada Nia dan dua pengemudi mobil lain yang sempat berhenti karena laju mobilnya terhalang oleh sepeda motor Yamaha Mio A 2311 RX, bagian badan korban, dan kepala korban yang berada di tengah jalan. Mereka justru seperti menghindar.

“Umumnya, orang di lokasi kecelakaan akan menghentikan pengendara mobil dan meminta agar korban (kecelakaan-red) diantar ke rumah sakit. Ini tidak. Mereka malah seperti ketakutan dan langsung pergi,” tukas inspektur polisi dua itu.

Soal dugaan bahwa Putra Pratama mengalami kecelakaan tunggal kemudian menjadi korban tabrak lari, Nia menyangsikan. Fakta bahwa tidak banyak darah di lokasi kejadian maupun jasad korban, sepeda motor dan helm yang nyaris tidak rusak, mematahkan hal itu, serta jejak ban di jasad korban mematahkan kesimpulan sementara polisi. (Merwanda-Agus P/Radar Banten)