Mahasiswa Universitas Airlangga Buat Sabuk untuk Memperlancar Buang Air Kecil

0
954 views
Ayu Septia Malinda dan rekan-rekannya mencoba pengunaan Abdomen Belt Vibration. Foto : Ayu Septia Malinda for JawaPos.com

Tingginya kejadian infeksi saluran kemih (ISK) di Indonesia memunculkan ide membuat alat inovatif bernama Abdomen Belt Vibration. Alat ini berfungsi memberikan getaran pada dinding abdomen, sehingga isi kandung kemih dapat luruh secara maksimal karena efek kontraksi yang didapat.

Alat yang diciptakan oleh Ayu Septia Malinda, Dwi Eri Retno, Eka Fitriyah Rohmah, Masunatul Ubudiyah, dan Lukman Handoyo yang merupakan mahasiswa Universitas Airlangga tersebut diharapkan dapat bermanfaat bagi pasien yang mengalami imobilisasi dan diduga menderita ISK.

Ayu mengatakan, metode umum yang selama ini digunakan untuk mengoptimalkan hasil urinalisis adalah skipping dan jumping. Pasien sebelum buang air kecil diminta melompat-lompat kecil. Namun pada pasien yang tidak mampu untuk bergerak, hal itu dapat menjadi kendala.

“Ketika praktik di rumah sakit, kami melihat pasien-pasien yang lemah untuk bergerak, bahkantidak bisa bergerak sama sekali, mereka banyak mengalami dugaan komplikasi ISK. Kami prihatin karena hasil urinalisis pasien kurang optimal dan akurat, seharusnya pasien itu benar terdiagnosis ISK tetapi karena hasil laborat pada urinnya tidak menunjukkan demikian, makapenanganannya jadi terlambat,” ujar Ayu, dilansir JawaPos.com.

Hasil penelitian ini kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC). Bahkan, setelah melalui penilaian yang ketat oleh Dirjen Dikti, proposal ini dinyatakan lolos dan berhak memperoleh dana hibah penelitian dalam program PKM Kemenristekdikti tahun 2017.

Dalam penggunaannya, Abdomen Belt Vibration dipasang pada bagian perut pasien. Alat ini berbentuk ikat pinggang besar dengan lebar 13 cm dan panjang 125 cm, yang didalamnya terdapat 6 buah penggetar berbasis pemrograman Arduino Nano.

Ketika dipasang pada perut pasien, penggetar-penggetar dan harus berada di tengah-tengah perut, sehingga efek kontraksi kandung kemih dapat berjalan optimal. Lama penggetarannya hanya cukup sekitar 5 menit. Kekuatan getarannya juga dapat diatur sesuai dengan ketebalan lemak perut pasien, sehingga pada pasien dengan ketebalan lemak di bagian perut yang berlebih, pengaturan getarannya harus lebih kencang. (ina/JPG)