Curah hujan turun cukup deras. Hari juga mulai gelap. Saat itu, Radar Banten bersama Relawan Phase menuju Kecamatan Sumur, baru sampai Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang.

Bandul jam menunjukkan pukul lima sore. Tak ada pilihan lain untuk melanjutkan perjalanan. Apalagi, petunjuk peta dari GPS hanya memperlihatkan jarak tempuh dari Cigeulis menuju Kecamatan Sumur hanya kurang 4,5 kilometer lagi.

Sepanjang jalan, rasa waswas memang menghantui. Terlebih, pilihan jalan hanya bisa melalui sepanjang jalan yang jaraknya dengan bibir pantai berkisar antara 100 sampai 150 meter. “Bismillah saja,” ujar Koordinator Phase Titin Kholawiyah meyakinkan Kak Andi Robies yang menyopir kendaraan kami.

Selain hujan yang tak kunjung reda, angin cukup kencang. Sepanjang jalan, puing-puing bekas gelombang tsunami masih berserakan di tepi jalan. Juga puing-puing reruntuhan cottages di tepi pantai.

Meski waswas, perjalanan itu mengundang decak kagum. Itu ketika kami melintasi jalan, tampak sejumlah petugas PLN masih membenahi beberapa tiang listrik yang rubuh. “Coba lihat, saat yang lain menepi mereka masih tetap bekerja,” kata Titin memotivasi lagi.

Jarak 4,5 kilometer itu ternyata tak semulus yang dibayangkan. Medan menuju Kecamatan Sumur cukup terjal dan bergelombang. Belum lagi, banyak aspal jalan mengelupas yang mebuat banyak kubangan yang membuat kendaraan harus berjalan lebih pelan. Mobil hanya bisa dikendarai tak lebih 10 kilometer per jam.

Setelah tiga jam berjalan di tepi pantai, perjalanan mulai masuk Kecamatan Sumur. Bau kurang sedap terasa menyengat di hidung. Entah bau bangkai atau sampah. Kami tak tahu pasti.

Kami tetap melanjutkan perjalanan. Dengan pelan, perjalanan mulai memasuki dataran agak tinggi di Desa Cibening. Rasa waswas pun mulai menghilang.

Setengah jam kemudian, perjalanan kami hentikan di Desa Cigorondong. Desa ketiga paling ujung Pandeglang setelah Desa Ujungjaya dan Desa Tamanjaya.

Tepat pukul 21.00 WIB, mobil kami hentikan di Posko Relawan Ujungkulon Adventure yang dikoordinatori Deden Andriana. “Mangga semuanya,” sambut Deden ramah.

Suasana desa tampak lengang. Hanya ada beberapa kerumunan warga di pos-pos yang didirikan secara mandiri oleh relawan bersama warga sekitar.

Desa itu juga gelap gulita. Akses listrik mati. Relawan yang berada di posko hanya menggunakan penerangan lampu emergency. Juga dengan api unggun kecil. “Setiap malam memang gelap begini,” Deden memberi tahu.

Dari penuturan Deden, pascatsunami menerjang warga setiap malam tidak berani meninggali rumahnya. Mereka memilih mengungsi di sanak famili atau di daerah perbukitan. “Paling di sini ada beberapa bapak-bapak saja yang jaga,” ujar pria bertumbuh tambun ini.

Relawan berjaga bergantian. Sebagian lagi memantau kondisi para pengungsi yang mengungsi di daerah perbukitan. Sebagian lagi mengurus kebutuhan para pengungsi yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki.

Warga yang mengungsi, biasanya akan kembali lagi ke permukiman saat ayam berkokok. “Pagi balik. Paling ibu-ibu yang hamil dan anak-anak yang tinggal di sana (pengungsian-red),” aku Deden.

Setelah mendengarkan informasi di pengungsian, Deden mempersilakan rombongan untuk istirahat. Ia bersama beberapa rekannya juga melanjutkan aktivitas penjagaan.

Belum kami istirahat, Relawan Banten yang membuat posko tak jauh dari posko Ujungkulon Adventure, Abdul Rosyid singgah di posko yang menggunakan pos kampling warga. Rosyid menginformasikan bahwa tempat pengungsian yang menggunakan bekas kandang sapi di Desa Tamanjaya. Di pengungsian tersebut ada ratusan warga. Bahkan ada satu perempuan yang hamil tua. Juga satu perempuan yang menyusui anaknya yang baru berusia lima bulan. (Ken Supriyono)