Warga Kampung Lebaksawo, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cinangka, melakukan istighotsah di Masjid Al-Ikhlas, Senin (31/12/2018) malam. Foto: Rozak/Radar Banten

SERANG – Pascabencana tsunami Selat Sunda, (22/12/2018), malam Tahun Baru di kawasan wisata Anyar-Cinangka sepi pengunjung. Sementara, di beberapa kampung sekitar, warga melakukan istighotsah di masjid.

Pantauan Radar Banten, Senin (31/12/2018) sekira pukul 19.30 WIB hingga pukul 00.00 WIB, arus lalu lintas di Anyar-Cinangka sepi kendaraan. Pintu gerbang hotel dan pantai tampak terbuka. Namun, tidak ada pengunjung yang berwisata. Lampu penerangan hanya dinyalakan di bagian depan saja, sementara pada bagian kamar-kamar dan vila dimatikan lantaran tak berpenghuni. Hingga detik-detik malam pergantian Tahun Baru, tidak ada kembang api dan suara terompet yang ditiup berbarengan.

Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, kawasan wisata Anyar-Cinangka selalu menjadi tempat untuk menghabiskan akhir tahun bagi wisatawan. Seluruh hotel dan pantai menyiapkan fasilitias kembang api. Hotel dan vila di kawasan wisata bahari itu biasanya selalu penuh satu minggu sebelum perayaan malam Tahun Baru.

Kondisi pariwisata di Anyar-Cinangka itu juga membuahkan kerugian bagi pengelola wisata. Libur panjang yang biasanya meraup keuntungan miliaran rupiah, akan tetapi pada malam Tahun Baru ini minim pemasukan. Bahkan, mayoritas pantai dan hotel sama sekali tidak ada pengunjung.

Dari sederetan tempat wisata di Anyar-Cinangka, malam itu Radar Banten hanya melihat wisatawan di Pantai Pasir Putih Sirih, Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka. Sejumlah pengunjung yang menaiki sepeda motor dan angkutan umum tampak sedang asyik menikmati malam Tahun Baru. Ditambah lagi, penampilan organ tunggal yang disiapkan oleh pihak pengelola pantai.

Pengelola Pantai Pasir Putih Sirih Asep mengatakan, sepanjang libur Tahun Baru, wisatawan yang berkunjung ke pantainya sebanyak 2.000 orang. Biasanya, pengunjung mencapai puluhan ribu orang. “Biasanya kita bisa meraup miliaran rupiah, tapi sekarang sulit sekali,” katanya.

Menurut Asep, sepinya pengunjung yang datang ke pantainya lantaran ada bencana tsunami. Padahal, Pantai Pasir Putih Sirih tidak terkena dampak tsunami. “Kami pastikan wilayah pantai di sini aman,” ujarnya.

Kerugian juga dikeluhkan oleh pihak hotel di Cinangka. General Manajer The Acaci Hotel, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cinangka, Norman mengatakan, sejak 21 Desember 2018 semua kamar sudah terpesan. Namun, pesanan kamar dibatalkan wisatawan karena takut bencana tsunami. “Liburan kali ini hotel kita kosong,” katanya.

Norman mengatakan, kerugian per hari diperkirakan mencapai Rp60 juta. Karena, setiap tahun baru biasanya kamar terpesan penuh hingga satu minggu. “Tapi, hotel tetap buka, karyawan tetap masuk dan kita gaji,” ujarnya.

Sementara itu, warga pesisir di Kecamatan Anyar-Cinangka melakukan istighotsah di masing-masing kampung. Seperti di Masjid Al-Ikhlas, Kampung Lebaksawo, Desa Sindanglaya, Kecamatan Cinangka. Warga yang sebelumnya mengungsi kembali ke kampung masing-masing untuk melakukan istighotsah.

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Ikhlas, Kampung Lebaksawo, Rohiman mengatakan, istighotsah dilakukan sebagai rasa syukur karena sudah bertemu dengan tahun baru 2019 dengan selamat. Selain berdoa menghindari musibah di kampungnya. “Kita berdoa semoga terhindar dari bahaya seperti yang terjadi tsunami,” katanya.

Tokoh pemuda Kampung Lebaksawo Ahmad Rosidi menambahkan, kondisi di kampungnya sudah mulai kondusif. Sebagian warga sudah pulang ke rumah masing-masing dari tempat pengungsian. “Alhamdulillah sampai hari ini (kemarin-red) sudah aman, tapi sebagian warga masih ada yang mengungsi,” ujarnya.

Data yang diterima Radar Banten dari Polsek Anyar, dari 23 hotel dan vila di Kecamatan Anyar hanya satu hotel yang terisi, yakni Hotel Marbella. Jumlah kamar dari 23 hotel sebanyak 1.319 kamar, sementara yang terisi hanya 24 kamar dengan jumlah pengunjung 75 orang.

General Manager Aston Anyer Beach Hotel Doddy Faturahman mengatakan, pada tahun ini, hotel memang tidak mengadakan malam perayaan Tahun Baru. Itu juga sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban bencana yang terjadi. “Kami tidak mengadakan, tetapi ada tamu yang menginap,” katanya.

Kata dia, pascabencana, Aston Anyer Beach Hotel tetap mendapatkan kepercayaan dari para tamu. Setidaknya ada sepuluh kamar yang terisi, dari 101 kamar yang tersedia. “Alhamdulillah, masih ada tamu yang mau datang menginap,” katanya.

“Manajemen memahami betul bahwa bencana tsunami yang terjadi adalah kuasa Tuhan dan berdampak pada psikis para tamu. Tamu masih trauma sehingga mengurungkan niat untuk bertahun baru di pantai,” tuturnya. (Rozak/Susi KN)