Mantan Dirut PT BGD Sering Minta Uang Jamuan untuk Dewan

BGD
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperlihatkan amplop berisi uang yang digunakan Ricky Tampinongkol untuk menyuap anggota DPRD Banten dalam sidang lanjutan dugaan suap pembentukan Bank Banten dengan terdakwa Ricky Tampinongkol di Pengadilan Tipikor Serang, kemarin. (Foto: Yan Cikal)

SERANG – Ricky Tampinongkol, mantan Dirut PT Banten Global Development (BGD), ternyata sering meminta uang untuk menjamu anggota DPRD Banten agar proses pembentukan Bank Banten berjalan lancar.

Keterangan itu diungkap Manajer Keuangan PT BGD Miriam Budiarti dalam sidang lanjutan dugaan suap pembentukan Bank Banten di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Serang, Rabu (2/3/2016) seperti dilansir Harian Radar Banten.

“Ada. Jamuan makan. Waktu itu lagi rapat. Biasanya, yang dijamu anggota Dewan. Kurang lebih Rp20 juta tiap kali rapat,” kata Miriam di hadapan majelis hakim yang diketuai M Sainal.

Miriam dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Ricky Tampinongkol. Selain Miriam, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga menghadirkan enam saksi lain. Di antaranya, karyawan PT BGD Budi Kristianto, staf bidang akuntansi PT BGD Arnianti Ayuningtyas, Sekretaris PT BGD Fatma Ratnasari, Sekretaris Direksi PT BGD Meta Oktavia Wiharya, sopir FL Tri Satriya Santosa bernama Asep Komarudin alias Endang (sopir), dan sopir pribadi Ricky Tampinongkol bernama Dendi Rahman.

“Ada tidak uang lain yang dikeluarkan terkait Bank Banten?” tanya Sainal

Miriam mengaku, pernah diminta Ricky menyiapkan enam amplop berisi masing-masing Rp10 juta dan USD1.000. Instruksi terdakwa oleh Miriam diteruskan kepada Arnianti Ayuningtyas. “Saya minta kepada Ayu untuk menyiapkan uang tersebut,” kata Miriam.

Amplop berisi uang diserahkan kepada Budi Kristianto. Sesuai instruksi terdakwa, Budi menyerahkan amplop itu kepada Asep Komarudin alias Endang. “Saya enggak langsung kasihkan. Saya yakinkan dulu, yang datang itu Endang. Saya telepon, ternyata memang yang datang Endang. Atas instruksi Pak Ricky uang diserahkan kepada Endang. Beliau (Endang-red) sopirnya Pak Sony (Tri Satriya Santosa-red),” jelas Budi.

Sementara itu, selama setahun terdakwa mendapat dana operasional sebagai Dirut PT BGD sebesar Rp825 juta. Kebijakan 25 kali gaji terdakwa itu tertuang dalam surat keputusan (SK) direksi PT BGD. “(Sebanyak-red) 25 kali gaji dirut,” kata Miriam.

Sementara, gaji terdakwa selaku Dirut PT BGD setiap bulan mencapai Rp33 juta. Kebijakan dana operasional itu dibuat saat terdakwa menjabat dirut PT BGD. “Sejak Pak Ricky masuk jadi direktur, 22 Mei 2015. Yang membuat SK Pak Ricky,” kata Miriam.

Dana operasional tersebut meliputi uang jalan, bensin, dan uang parkir. Penggunaan dana itu hanya diaudit secara eksternal. “Tidak ada (audit internal-red),” kata Miriam.

Selain dana operasional, terdakwa juga kerap meminta uang untuk keperluan pribadi, di antaranya untuk biaya wisuda anaknya. “Waktu itu anaknya mau wisuda di luar negeri,” kata Miriam.

Selain itu, terungkap dana penyertaan modal pendirian Bank Banten oleh Pemprov Banten tahun 2013 sebesar Rp314,6 miliar disimpan di empat bank berbeda. Di antaranya, Bank Bukopin, Bank Danamon, Bank Pundi, dan Bank BNI.

Pada rekening Bank Pundi dana tersimpan sebesar Rp100 miliar dan di rekening BNI sebesar Rp50 miliar. Sisanya disimpan dalam deposito Bank Danamon dan giro Bukopin. PT BGD memperoleh bunga dari Bank Bukopin sembilan persen, Bank Danamon 8,25 persen, Bank Pundi sembilan persen. Sementara, bunga dari BNI tidak terungkap di persidangan.

Bunga dari deposito Bank Danamon dan giro Bukopin digunakan untuk dana operasional direksi PT BGD. “Bunganya di Bukopin. Bunga dari deposito (Bank Danamon-red) buat operasional. Deposito per bulan, perpanjangan (otomatis-red),” jelas Miriam.

Namun, setelah Ricky ditangkap oleh KPK, dana tersebut disatukan pada rekening di Bank Bukopin. “Enggak tahu alasannya apa (alasan pemindahan-red),” kata Miriam.

Saksi Fatma Ratnasari menjelaskan, Bank Pundi dipilih PT BGD untuk diubah menjadi Bank Banten setelah melalui proses seleksi. Sebagai bukti keseriusan mengakuisisi Bank Pundi sebagai Bank Banten, PT BGD mendepositkan sejumlah uang. “Bank Pundi terpilih, sudah. Tapi, pemegang saham belum ada hasil (keputusan-red),” kata Fatma.

Seusai mendengarkan keterangan para saksi, terdakwa tidak keberatan. “Mereka menjawab dalam kondisi grogi,” kata Ricky saat dimintai tanggapan majelis hakim. (RB/nda/alt/dwi)