Mantan Istri Dilamar, kok Gusar?

Penyesalan memang selalu datang belakangan, mungkin begitulah yang dialami Joni (43), nama samaran. Rumah tangganya bersama Yuli (41), bukan nama sebenarnya, berantakan karena masalah ekonomi. Tapi, saat Yuli dilamar lelaki lain, Joni malah gusar dan emosi.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Kragilan, Joni siang itu sedang memarkir kendaraan di depan minimarket. Sambil berteduh karena cuaca panas, Joni tidak menolak diajak mengobrol soal rumah tangga. Penasaran kan? Begini ceritanya.

Joni mengaku tidak bisa mengontrol emosi waktu bertengkar dengan Yuli, karena sering disindir suami tidak bisa cari nafkah, keluarlah kata cerai. Peristiwa yang terjadi lima tahun lalu itu membuat Yuli ikut emosi, perceraian pun terjadi. “Padahal dalam hati saya enggak ada niat sedikit pun pisah sama istri,” kata Joni.

Apalagi, katanya, Yuli termasuk wanita cantik dan tipe istri yang perhatian. Bodinya juga lumayan, enggak kalah sama istri-istri tetangga. Begitu juga dengan Joni, meski kulitnya hitam, tapi muka sih lumayan tampan, badannya juga tinggi ideal.

Teringat waktu pertama bertemu di Tangerang, mereka dikenalkan teman kerja saat nonton bioskop bersama. Biasalah, awal-awal sok jaim, tapi setelah dapat nomor telepon dan intens komunikasi, keduanya cepat akrab dan sering jalan berdua. “Soalnya dari awal, saya sudah tahu kalau dia naksir saya, mungkin dia juga begitu kali,” katanya kepedean.

Tiga bulan pendekatan, Joni dan Yuli pun resmi pacaran. Mereka menjalani kisah asmara selama setahun. Lalu, Yuli meminta dinikahi, awalnya Joni meminta waktu untuk mengumpulkan uang lebih banyak, tapi karena Yuli yang terus memaksa, mereka pun segera menikah. “Saya sih kasih uang seadanya, yang lebih banyak keluar duit mah keluarga dia,” katanya.

Rumah tangga keduanya pun mulanya berjalan lancar. Mereka membeli rumah bersubsidi, Joni dan Yuli masih bekerja dan sama-sama berjuang memenuhi biaya hidup. Dua tahun kemudian dikaruniai anak, rumah tangga semakin berwarna. Tahun ketiga, lahir lagi anak kedua.

Sampai anaknya masuk sekolah dasar, Joni mulai merasa bosan kerja pabrik. Waktu itu ia dapat warisan tanah di pinggir jalan di Kecamatan Kragilan dari orangtua. “Saya maksa istri pindah ke Kragilan, jual rumah, terus buka usaha jualan sepatu,” katanya.

Meski Yuli menolak, tapi karena Joni sudah terlanjur berhenti kerja, mereka pun pindah. Sejak itulah cobaan rumah tangga mulai datang. Uang yang tadinya direncanakan untuk modal buka usaha jualan sepatu, malah habis untuk bangun rumah. “Istri kerjaanya setiap hari ngomel terus,” keluhnya.

Joni pun mulai meminjam uang ke sana-sini. Sampai utangnya menumpuk dan tidak bisa bayar, setiap hari ada saja orang datang ke rumah menagih utang kepada Yuli. Waktu itu Yuli pun mulai menyindir suami yang tidak becus cari nafkah. Perceraian pun terjadi.

Seminggu setelah kejadian itu, Yuli pindah ke rumah kontrakan. Dua minggu kemudian, Yuli sudah terlihat bergandengan dengan lelaki temannya dahulu waktu kerja di Tangerang. “Saya tahu lelaki itu, baru dua minggu katanya dia mau dilamar. Parah banget kan?” tukas Joni. Ya mungkin memang ngebet pengin menikah kali, Kang.

“Saya enggak terima, orang cerai juga baru sebatas omongan doang belum ngurus suratnya,” katanya.

Joni marah-marah kepada Yuli. Meski sempat terjadi keributan, Yuli akhirnya kabur ke Tangerang bersama lelaki barunya. Sampai sekarang, Joni hidup bersama satu anaknya dan belum punya istri lagi, sedangkan Yuli membawa satu anak bontotnya dan hidup bahagia. Ya ampun, sabar ya, Kang.

Sudah lupakan saja Teh Yuli, sekarang cari istri baru yang bisa menerima keadaan Kang Joni. (mg06/zee/ira)