Mantan Reserse Terlibat Aksi Teroris

Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menjenguk korban penyerangan Pos Polisi WBL Lamongan yang dirawat di RS Bhayangkara, Selasa (20/11). Korban berpangkat bripka tersebut mengalami luka di mata kiri akibat penyerangan yang dilakukan dua mantan polisi menggunakan ketapel dengan pelor kelereng. ZAIM ARMIES/JAWA POS

SURABAYA – Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan memastikan penyerangan terhadap Bripka Andreas Dwi Anggoro usai insiden penyerangan pos polisi Wisata Bahari Lamongan (WBL) merupakan aksi terorisme. Pelakunya dua orang, Eko Ristanto, mantan anggota Satreskrim Polresta Sidoarjo dan rekannya M Syaif Ali Hamdi. Pelaku kini masih diperiksa intensif oleh Densus 88 Antiteror di Mapolres Lamongan.

Hal tersebut disampaikan Luki saat menjenguk Andreas yang baru saja menjalani operasi di RS Bhayangkara Polda Jatim siang kemarin. Dia menuturkan, kondisi Andreas membaik. Hanya saja, belum sadarkan diri lantaran masih terpengaruh obat bius. Luka di mata Andreas, kata Luki, tidak sampai merusak kornea mata. “Yang luka serius di kelopak matanya. Robek. Makanya dioperasi,” sebutnya.

Mantan Waka Baintelkam Polri itu memastikan, dua orang penyerang Andreas terlibat kelompok radikal. “Saat penggeledahan tadi (kemarin-Red) banyak ditemukan buku terkait kelompok radikal,” ucapnya.

Wakapolda Jatim Brigjend Pol Toni Harmanto, lanjut Luki, sempat mendalami langsung kejadian tersebut. Dia mendatangi TKP dan berkoordinasi dengan Densus 88. Awalnya, kasus ini didalami oleh Polres Lamongan. Namun, sejak siang kemarin, insiden penyerangan tersebut sudah diambil alih Densus 88.

Motif penyerangan Eko ke pos polisi WBL masih didalami. Ada dua dugaan yang menguat. Antara sakit hati lantaran dipecat dari kesatuan hingga memang murni terlibat dalam kelompok radikal. “Entah sakit atau yang lain-lain, kami dalami nanti,” ungkapnya.

Namun, Luki menyebut kasus ini sudah mulai menemui titik terang. Sebab, jaringan kelompok pelaku teror sudah diketahui. Hal tersebut akan mempermudah anggota untuk melakukan pengembangan penyidikan. Meski begitu, jenderal bintang dua itu masih enggan membeberkan dari jaringan mana Eko dilahirkan. “Masih pengembangan ini. Jangan kesana dulu ya,” katanya.

Eko dan Syaif menyerang pos polisi WBL pukul 01.00. Mereka melemparkan batu ke arah pos polisi dan mengakibatkan kaca pecah. Andreas dan sekuriti WBL yang mengetahui aksi tersebut segera mengejar pelaku ke arah barat.

Bukannya takut dikejar polisi, Eko malah menyerang balik dengan melesatkan kelereng menggunakan ketapel ke arah Andreas. Kelereng mengenai mata kanan korban. Meski terluka, Andreas tetap mengejar pelaku. Eko justru semakin nekat. Dia menabrakkan motor yang dikendarainya ke arah Andreas. Keduanya terjatuh sehingga Eko berhasil diamankan. Syaif yang dibonceng Eko juga terjungkal. Kedua pelaku lantas diamankan Andreas bersama sekuriti WBL.

Berdasar penelusuran, Eko Ristanto terakhir menjadi polisi pada Maret 2012 silam dengan pangkat Briptu. Dia divonis bersalah dan dihukum 11 tahun oleh PN Sidoarjo karena menembak mati Riyadhus Solihin usai menyerempet Briptu Widiarto di area GOR Sidoarjo. Saat itu Eko, Widiarto dan tiga rekannya baru saja pulang mabuk-mabukan. Tak terima rekannya diserempet, mereka lantas mengejar Sholihin dan menembaknya di kawasan Sepande, Candi, Sidoarjo.

Usai menjalani hukuman di lapas, Eko tak lagi tinggal di Lajuk, Porong, Sidoarjo. Dia memilih tinggal bersama istrinya di dusun Geneng, Brondong, Lamongan.

Kerja serabutan dijalani Eko setiap hari. Dia diketahui kerap menjadi tukang panggul ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong. “Setiap hari dia hidup sama istri. Kerjanya tukang panggul di TPI sana,” ungkap sumber yang mewanti-wanti agar tak disebutkan namanya itu. (JPG/RBG)