SERANG – Jumadi (33), warga Kampung/Desa Kubang Puji, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, penderita gangguan kulit langka Epidermodysplasia Verruciformis butuh uluran tangan untuk pengobatannya. Penderita penyakit kulit yang kerap disebut sebagai ‘manusia akar’ ini kesulitan untuk berobat karena minim biaya. Penghasilan tak menentu sebagai buruh serabutan tak memungkinkan mencukupi biaya pengobatannya.

Jumadi menderita penyakit akar sejak sekira delapan tahun lalu. “Tahun 2012 pernah berobat ke RSCM, tapi karena kekurangan biaya ya terpaksa terhenti,” ujarnya, Senin (2/2/2015).

Jumadi sudah mengantongi kartu jaminan kesehatan dari BPJS Kesehatan. Namun ia khawatir menggunakan fasilitas kesehatan tersebut karena tidak semua obat ditanggung oleh BPJS. “Belum lagi untuk makan dan transportasi selama pengobatan,” ujarnya.

Mengutip dari wikipedia.com, manusia akar adalah sebutan untuk penderita gangguan kulit langka Epidermodysplasia verruciformis atau Lewandowsky-Lutz dysplasia yang menyebabkan penderitanya ditumbuhi kutil raksasa di sekujur tubuh, terutama tangan dan kaki, sehingga menyebabkan penampilan seperti akar pohon. Biasanya gangguan ini dihubungkan dengan infeksi HPV tipe 5 dan 8, yang sebenarnya ditemukan di 80 persen populasi normal tanpa memperlihatkan gangguan.

Penyakit ini didokumentasikan pertama kali oleh Felix Lewandowsky dan Wilhelm Lutz sehingga diberi nama yang sama. Namun sebutan manusia akar atau tree man lebih populer untuk penderita gangguan kulit ini.

Hingga kini gangguan ini dianggap belum ditemukan penyembuhannya, sehingga yang bisa dilakukan adalah membuang kutil yang sudah membesar dan mengoleskan salep Cidofovir yang mengandung cito megalo virus untuk membunuh virus HPV. Namun kutil akan kembali membesar seiring waktu. (QIZINK)