Ketua LPA Kesultanan Banten Tb Abbas Wasse (kiri) pada acara mapag Ramadan di Banten Lama, Minggu (5/5). Foto: LPA Kesultanan Banten for Radar Banten

Setelah seratus tahun lebih hilang, tradisi Mapag Ramadan di lingkungan Kesultanan Banten kembali dihidupkan. Tradisi penyambutan puasa Ramadan itu dilakukan di Alun-alun Kawasan Kesultanan Banten, Minggu (5/5).

Rangkaian acara dimulai dari kediaman Ketua Lembaga Pemangku Adat (LPA) Kesultanan Banten Tb Abbas Wasse sekira pukul 16.30 WIB. Iring-iringan musik terbang gede dan salawat dilakukan hingga Alun-alun Masjid Agung Banten Lama.

Sesampainya di lokasi, rombongan membacakan hadarat kepada Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan-sultan Banten lainnya. Lalu, Tb Abbas Wasse menabuh beduk sebagai tanda tibanya bulan suci Ramadan.

Abbas menjelaskan, pasca Sultan Abul Mufakir Mahmud Abdul Kadir Kenari, tradisi mapag sudah tidak ada lagi. “Sekarang sudah sekian ratus mati suri, kami lembaga pemangku adat menghidupkan kembali,” katanya di sela sela acara.

Acara tersebut sebagai salah satu warisan budaya dari Kesultanan Banten. Meski berlangsung secara singkat, acara mengundang perhatian warga yang berkunjung di Kawasan Kesultanan Banten. Mereka ikut menyaksikan proses penabuhan beduk dan pementasan rampak beduk di Alun-alun kawasan tersebut.

Tradisi Mapag Ramadan rencananya akan kembali digelar secara rutin setiap memasuki bulan puasa. “Mudah-mudahan bisa rutin, karena warga juga antusias,” katanya.

Mapag Ramadan tidak hanya sebagai ritual tradisi semata. Kata Abbad, ada pesan moral kepada seluruh umat Muslim untuk lebih mawas diri. “Ramadan harus menjadi ukuran kebahagiaan kita semua yang masih diberi umur panjang bertemu puasa,” katanya.

Bulan suci Ramadan, lanjut Abbas, sebagai bulan penuh berkah juga menjadi momentum melakukan instrospeksi diri. Menginsyafi makna kemanusiaan dan jalan hidup yang akan dituju. ”Jangan sampai kita hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang-orang di sekitar kita,” ujarnya. (Ken Supriyono)