Endra Maradona Pane, mantan polisi Polda Kepri yang dikeroyok segerombolan preman di Simpangdam, Mukakuning, Seibeduk, Rabu malam lalu mendapat perawatan serius di IGD Casa Medical Panbil, Kamis (24/12). F. Dalil Harahap/Batam Pos

Endra Maradona Pane, 31, mantan anggota polisi dengan pangkat terakhir Brigadir dikeroyok puluhan orang di Kampung Aceh Mukakuning Seibeduk, Rabu (23/12) malam.

Alhasil korban yang terakhir tugas di Polda ini mengalami luka yang cukup serius, kepala mengalami luka jahitan sebanyak 125 jahitan sementara pergelangan tangan kanan patah serta kondisi wajah yang babak belur serta hidung patah.

Menurut korban saat ditemui di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Camatha Sahidya (Casa) Panbil, Jumat (25/12) dini hari, pengeroyokan terjadi di dalam kamar kos-kosan korban.

“Katanya aku nyekap cewek, itu alibi mereka saja. Saya gak tahu alasan pastinya apa,” kata Endra, lemas seperti dikutip dari batampos.co.id (group JPNN), Jumay. Terlihat dua lingkar matanya bengkak membiru serta bagian badan yang lain juga memar.

Wanita yang dimaksud adalah Ti yang baru dikenalnya sekitar satu bulan. Dia membantah telah menyekap Ti, menurutnya Ti datang bertamu ke kamar kos-kosannya sekitar pukul 19.00 WIB pada hari kejadian atas kemauan sendiri.

Beberapa jam kemudian gerombolan orang yang diduga kawanan Mi mendatangi kosnya. Diantara gerombolan tersebut ada Jo yang merupakan ayah angkat Ti. Awalnya Jo meminta ponsel milik Ti dan hanya berdiri di depan pintu.

Korban lantas memberikan ponsel yang dimaksud pada Jo, setelah ponsel diberikan dan hendak menutup pintu, gerombolan tersebut menghajar korban dalam kamar.

“Ada sekitar 20 orang, tanpa ngomong apa-apa mereka masuk dan keroyok. Mereka pakai benda seperti kayu, kalau pakai tangan gak mungkin pecah seperti ini,” kata Endra menahan rasa sakit. Diantara gerombolan tersebut ada empat orang yang dikenal pasti oleh korban yakni Ud, Pu, Mi, serta Jo.
Sejatinya jumlah kamar di kos-kosan tersebut ada 7 kamar termasuk kamar korban. Namun saat kejadian para penghuni kos tak berani keluar untuk melerai, padahal Ti sempat teriak minta tolong. “Gak ada yang berani keluar, setelah kejadian baru keluar,” katanya. Para penghuni kos lantas melarikan korban ke RS Casa Panbil.

Menurutnya kejadian tersebut juga  memancing warga sekitar untuk melihat namun lagi-lagi tak satupun warga yang melerai.

“Banyak yang histeris. Orang kira saya mati, darah berserak-serak. Muka aja ini sampai-sampai gak nampak,” ucap Duda ini.

Kini korban berharap pihak berwajib dapat menindak lanjuti kasus pengeroyokan tersebut. “Saya harap pihak bekerja dengan baik,” harapnya.

Endra menambahkan pihak rumah sakit telah memberikan izin untuk keluar, Jumat (25/12) pagi.  (cr13/ray/JPNN)