Masalah Kota Cilegon Masih Menumpuk

Walikota Cilegon Edi Ariadi memberikan santunan kepada warga usai istighotsah yang dilaksanakan di Masjid Nurul Iman kawasan Puspemkot Cilegon, Senin (27/4).

CILEGON – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC) menggelar unjuk rasa di Landmark Kota Cilegon, dalam aksi itu mahasiswa mengkritisi masih menumpuknya masalah di Kota Cilegon.

Aksi dilakukan dengan cara teatrikal, sedangkan kritikan mahasiswa dituangkan dalam lembaran-lembaran karton yang dibentangkan mengeliling landmark.

Ketua IMC Rizki Putra Sandika menjelaskan, di usia ke-21 tahun banyak masalah klasik yang belum dituntaskan oleh pemerintah.

Ia mencontohkan,  persoalan pengangguran di Kota Cilegon tak kunjung tuntas, bahkan angkanya semakin meningkat.

Masalah klasik lainnya yaitu fasilitas kesehatan yang masih buruk, banjir, ketidakmerataan infrastruktur pendidikan, serta pusat pemerintahan yang masih berdiri di atas lahan milik PT Krakatau Steel.

Mahasiswa menilai dengan letak Kota Cilegon yang strategis dan banyak industri besar hingga kecil seharusnya persoalan tersebut bisa dituntaskan oleh pemerintah.

“Persoalan pengangguran misalnya, dengan masuknya investasi harusnya menjadi solusi, meski investasi padat modal, seharusnya bisa membuat industri hilir atau seperti yang terdata di RPJMD one vilage one product. Ini sepertinya pemerintah tidak serius,” ujar Rizki, Senin (27/4).

Ia meyakini belum tuntasnya berbagai masalah klasik di Kota Cilegon sebagai cerminan buruknya birokrasi. “Lakukan reformasi birokrasi di Kota Cilegon, Pemkot harus serius dalam mengatasi masalah pengangguran lakukan pembangunan dan tata kota yang sistematis dan terkonsep serta sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, kritikan pun disampaikan oleh sejumlah mahasiswa dari organisasi lain.

Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Cilegon, Syaihul Ihsan menuturkan, tingginya angka pengangguran di Kota Cilegon menjadi ironi di tengah-tengah gencaran investasi yang masuk ke Kota Cilegon selama ini.

Kata Ihsan, banyaknya industri-industri skala besar yang berdiri belum mampu menyerap tenaga kerja yang berasal dari Kota Cilegon. Padahal, hadirnya industri-industri tersebut merebut mata pencaharian masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian dan perikanan.

“Kota Cilegon seringi dijuluki Kota Baja atau Kota Industri, hal ini sangat wajar karena industri-industri kelas kakap ada di Kota Cilegon, wajar jika laju pertumbuhan ekonomi nya pesat, akan tetapi hadirnya investasi baik PMA maupun PMDN di Kota Cilegon masih belum dirasakan oleh masyarakat seluruhnya,” papar Ihsan.

Belum efektifnya gempuran investasi dalam menyerap tenaga kerja, diperparah dengan tidak seriusnya pemerintah dalam merealisasikan program-program prioritas pembangunan yang tertuang dalam RPJMD.

Padahal, program-program pembangunan tersebut dirumuskan sendiri oleh pemerintah. “Pemerintah tidak konsisten sama arah perjuangan RPJMD yang ia bikin sendiri. RPJMD Cilegon nya mantap, cuma enggak dijalankan buat apa,” tutur Ihsan.

Ihsan berharap momen HUT Kota Cilegon itu menjadi titik introspeksi oleh pemerintah atau pemangku kebijakan di Kota Cilegon. Sehingga persoalan-persoalan yang masih dihadapi oleh masyarakat bisa dituntaskan sepenuhnya.

TANPA PERAYAAN

Sementara itu, kemarin, peringatan HUT Kota Cilegon tahun ini berjalan sederhana, tanpa perayaan besar-besaran, bahkan tanpa rapat paripurna istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Peringatan HUT Ke-21 Kota Cilegon tahun ini bahkan hanya dengan menggelar istighotsah di Masjid Nurul Iman, kawasan pusat pemerintahan Kota Cilegon. Jumlah orang yang mengikuti istighotsah pun hanya terbatas.

Istighotsah sekaligus doa bersama hanya dihadiri oleh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) perwakilan pejabat serta perwakilan masyarakat dan ulama saja.

Walikota Cilegon Edi Ariadi menjelaskan,  berbedanya peringatan HUT Kota Cilegon tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya karena persoalan pandemi Covid-19.

Menurutnya, sejumlah rangkaian perayaan yang telah direncanakan dibatalkan karena berpotensi menjadi ajang penyebaran virus tersebut. “Kita masih bersyukur di tengah pandemi kita masih diberi kesehatan,” ujar Edi, Senin (27/4).

Kendati diperingati dengan cara yang sangat sederhana, Edi berharap HUT Kota Cilegon tetap menjadi momentum memantapkan niat dan semangat untuk membangun Kota Cilegon lebih maju.

Wabah Covid-19 ini menurut Edi tak hanya berdampak pada peringatan HUT ke 21 Kota Cilegon, melainkan program pemerintah secara menyeluruh.

Menurutnya wabah ini membuat program pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah terhambat.

Edi  mengakui di usia ke-21 tahun masih banyak persoalan di Kota Cilego yang belum terselesaikan. Misalnya pengangguran, serta sejumlah RPJMD yang belum tuntas

Karena itu ia mengajak kepada seluruh pihak untuk bersama-sama dengan pemerintah menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. (bam/air)