Masih Ada 500 Orang Buta Aksara di Kota Serang

0
107
Kepala Dindikbud Kota Serang Akhmad Zubaidillah sedang mengetes seorang perempuan yang sudah melek aksara pada peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Kota Serang di Museum Negeri Banten, Selasa (4/9). Warga itu diminta membaca tulisan dan angka yang tertera pada uang kertas.

SERANG – Pada tahun terakhir masa kepemimpinan Walikota Tb Haerul Jaman dan Wakil Walikota Serang Sulhi, angka buta huruf di Kota Serang akan dientaskan. Sejak 2007, tahun ini masih ada sisa sekira 500 warga Kota Serang yang buta aksara.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang Akhmad Zubaidillah saat membacakan sambutan Walikota Serang Tb Haerul Jaman mengatakan, di periode terakhir Jaman-Sulhi, pembangunan Kota Serang sejak terbentuk tahun 2007 silam dapat dilanjutkan dan dikembangkan. “Agar masyarakat sejahtera lahir dan batin,” ujar Zubaidillah di sela-sela peringatan Hari Aksara Internasional tingkat Kota Serang di Museum Negeri Banten, Selasa (4/9).

Kata dia, berdasarkan pendataan terakhir, masih ada 500 warga yang buta aksara. Pemberantasan buta aksara itu dilakukan sejak Kota Serang berdiri pada 2007 silam. “Saya sudah minta ke Bidang PAUDNI (Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal Informal) agar dituntaskan tahun ini,” tegasnya.

Ia mengatakan, melalui peringatan Hari Aksara Internasional yang bertema ‘Pengembangan Keaksaraan dan Keterampilan’, program yang diberikan Dindikbud tidak hanya berlatih membaca, tetapi juga dibarengi dengan life skills. “Kami berhasil membawa usia produktif yang selama ini tidak tersentuh pendidikan formal, tapi kini bisa membaca, mengenal angka dan huruf,” urainya.

Saat ini, lanjut Zubaidillah, ada 56 pusat kegiatan belajar mengajar di Kota Serang. Selain itu, ada juga 52 taman bacaan masyarakat untuk menunjang minat baca masyarakat. “Namun, hanya 25 yang aktif, sisanya mati suri, tapi kami coba untuk dibangunkan kembali,” ujarnya.

Ia menerangkan, untuk bisa membaca, warga membutuhkan waktu sekira tiga sampai enam bulan. Selain itu, kepandaiannya juga tergantung dari program yang diikuti.

Meskipun tahun ini hanya tersisa empat bulan lagi, Zubaidillah yakin target penuntasan buta aksara itu dapat dilakukan. Itu lantaran programnya dilaksanakan sejak April lalu.

Kepala Bidang PAUDNI Dindikbud Kota Serang Cucum Sumiarsih mengungkapkan, pada 2007 lalu, jumlah warga yang buta aksara mencapai 17 ribu orang. Dengan waktu 11 tahun ini, jumlah itu dientaskan baik melalui dana dari APBN maupun APBD Kota Serang.

Menurutnya, apabila ditemukan lagi adanya masyarakat yang belum melek aksara, hal itu dapat disebabkan dua faktor, yakni migrasi ke Kota Serang sehingga tak terdata, atau sudah dilatih tapi tidak meningkatkan kemampuan. “Sehingga kembali lagi menjadi buta aksara,” ungkapnya.

Agar hal itu tidak terjadi, kata dia, warga belajar kembali dari apa yang diberikan pelatih. Selain itu, warga juga diharapkan untuk meningkatkan pelatihan dari keaksaran dasar ke keaksaraan usaha mandiri. Dengan begitu, selain mampu membaca, yang bersangkutan juga mempunyai keterampilan lain untuk meningkatkan perekonomiannya.

“Semua programnya gratis dari APBN dan APBD,” ujar Cucum. Saat ini pihaknya memprioritaskan penuntasan buta aksara di usia produktif mulai 30 tahun sampai 55 tahun. (Rostinah/RBG)