Masjid Al-Muhajirin Lautze Jadi Pusat Bimbingan Konseling Mualaf

Di masjid ini banyak mualaf baru yang diberikan bimbingan konseling untuk lebih mengetahui ajaran Islam, Kamis (23/8).

Di wilayah Desa Curugsangereng, Kecamatan Kelapadua, Kabupaten Tangerang berdiri  sebuah masjid bernama Al-Muhajirin Lautze. Masjid yang dibangun dua puluh tahun lalu, atau persisnya tahun 1998 itu menjadi simbol penyebaran mualaf keturunan Tionghoa di Tangerang.

KHOIRUL UMAM – KELAPADUA

PADA awalnya, pembangunan masjid tersebut dirasa perlu ketika warga yang tinggal di kompleks perumahan Gading Serpong terus bertambah. Apalagi kala itu, masyarakat lokal setempat yang tinggal di Kampung Anggris juga belum mempunyai masjid untuk kegiatan ibadah sehari-hari.

Sampai akhirnya ada seorang mualaf keturunan Tionghoa mengusulkan kepada tokoh masyarakat sekitar agar dibangun masjid di wilayah itu. Namun karena warga tak punya lahan untuk pembangunan masjid, akhirnya mengusulkan ke Pemkab Tangerang.   ”Alhamdulillah, pemkab memberikan lahan sekitar 1.000 meter persegi untuk dibangun masjid dan sarana penunjang lainnya. Dan kini berdiri megah Masjid Al-Muhajirin Lautze sebagai salah pusat ibadah dan bimbingan konseling mualaf,” kata Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin Lautze Nasrul Ramadan, Kamis (23/8).

Nasrul menambahkan, awalnya masjid yang dibangun hanya berukuran 6×6 meter persegi. Seiring perkembangan jamaah, sekarang luasnya sudah 22×22 meter persegi. ”Saya cerita dulu ya, ketika masjid pertama kali berdiri diberi nama Masjid Lautze. Ini lantaran, para jamaah yang tinggal di sekitar masjid terutama Gading Serpong banyak para muslim keturun Tionghoa atau mualaf. Dan sampai saat ini identik hingga melekat,” tambahnya.

Nama Lautze diambil lantaran di Jakarta Pusat, tepatnya di Pasar Baru, sudah lebih dulu masjid yang diprakarsai para mualaf muslim Tionghoa. Dan kemudian masjid di Curugsangereng itu diberikan nama yang sama dengan masjid yang di Pasar Baru itu.

Genap dua tahun berdiri, nama masjid ditetapkan menjadi Masjid Al-Muhajirin Lautze. Dua kata ini berasal dari bahasa yang berbeda. Al-Muhajirin berasal dari bahasa Arab yang artinya hijrah.

Selain itu, diambilnya nama Al-Muhajirin sebagai nama masjid, dikarenakan banyak mereka yang lewat atau melintas jalan ini dan kemudian salat. Sedangkan nama Lautze berasal dari bahasa Cina atau Tiongkok. Artinya yaitu guru. Diberikannya nama Lautze karena dari masjid inilah para mualaf bisa mengetahui apa itu Islam. (*)