Masjid Pusat Logistik Covid-19

Ilustrasi (pixabay)

Oleh Ahmad Lutfi

Wabah covid-19 yang menerjang dunia, termasuk Indonesia membawa dampak sangat signifikan. Sendi-sendi perekonomian menjadi lumpuh. Banyak perusahaan yang mem-PHK karyawan karena sudah tidak sanggup lagi membayar upah karyawan lantaran perusahaan sepi order karena covid-19. Begitu juga beberapa retail besar menutup usaha sementara waktu yang berimbas pada pemutusan hubungan kerja bagi tenaga kontraknya.

Hal sama juga nyaris terjadi di beberapa usaha kecil menengah. Banyak di antara usaha kecil menengah itu akhirnya ‘menyerah’ untuk berproduksi. Sementara pedagang kelontongan yang tiap hari mangkal di sekolah pun kena imbas yang sama. Mereka juga tidak lagi dapat berjualan di area dekat-dekat sekolah karena siswa diliburkan oleh pemerintah hingga beberapa bulan.

Begitulah dampak yang ditimbulkan covid-19. Luar biasa menyerang sendi perekonomian. Terjadi pembengkakan jumlah pengangguran yang disumbang oleh penganggguran baru terdampak covid-19. Bila tidak diantisipasi, maka pengangguran dan pengangguran baru ini akan menjadi masalah sosial serius, yang bisa menjadi bom waktu. Bisa meledak kapan saja dan di mana saja. Tentu kita tidak menginginkan hal itu terjadi.

Tidak hanya itu, covid-19 juga membuat ratusan orang di Indonesia meninggal dunia. Korbannya tidak mengenal kasta, agama, suku, dan ras. Virus ini menyerang siapa saja dan di mana saja.

Melihat begitu besarnya, dampak yang ditimbulkan covid-19, dituntut semua pihak untuk mengambil bagian-bagian perannya. Ya pemerintah, LSM, Lembaga Pendidikan, Yayasan, dan personal yang peduli dengan kemanusiaan. Mereka harus bahu membahu bersinergi untuk memutus mata rantai covid-19. Tanpa sinergi, rasanya mustahil, penyebaran covid-19 dapat dihentikan. Tanpa kerja sama, mustahil, virus covid-19 ini tidak menyerang kehidupan warga. Disitulah dituntut saling pengertian, saling kerja sama, dan saling menguatkan. Itu adalah modal sosial yang sangat kuat dan tak terkalahkan untuk memutusrantai penyebaran covi-19.

PERAN MASJID
Lalu, di mana peran masjid? Apakah rumah peribadatan kaum muslim ini dapat mengambil peran? Tentu saja bisa. Bahkan masjid dapat mengambil posisi terdepan dalam menanggulangi dampak covid-19.

Masjid adalah sumbu utama kaum muslim. Di dalamnya, kaum muslimin bersatu dalam shaf yang rapi. Di masjid, mereka bertemu dan saling berinteraksi satu sama lainnya. Jamaah yang berbeda-beda baik secara ekonomi maupun sosial ini adalah kekuatan besar bila dihimpun.

Dalam situasi wabah covid-19, maka jamaah dapat dimenej dengan baik untuk dapat membuka kran-kran donasi. Artinya, pengurus masjid (DKM) harus mengetuk hati jamaah yang kaya untuk dapat menghimpun sebagain kekayaannya ke masjid untuk donasi covid-19. Rasanya tidak sulit untuk mengetuk hati jamaah lewat masjid. Sebab masjid dipercaya sebagai simbol Islam yang dihormati, sehingga apa pun keputusan DKM tentu akan diikuti oleh jamaah.

Selain itu, DKM juga harus menggerakkan orang-orang kaya lainnya untuk berpartisipasi sama lewat masjid. Misalnya mengajak para pengusaha, anggota dewan dan sebagainya untuk juga dapat menyumbang lewat masjid. Dilakukan secara massif sehingga muncul kesadaran kolektif untuk bersama-sama saling menguatkan.

Logistik yang dikumpulkan di masjid berupa kebutuhan pokok, masker, dan hand sanitizier. Bantuan logistik ini akan disebar kepada warga terdampak covid-19 yang jumlahnya sangat banyak itu.

Jadi, menjadikan masjid sebagai posko logistik covid-19 adalah hal yang urgen saat ini. Karena disitulah, peran masjid bagi kerja-kerja sosial kemanusiaan. Bagi lingkungan sekitarnya, sehingga kehadiran masjid dapat dirasakan.

Sudah selayaknya, masjid tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah ritual semata, namun juga harus mampu memberikan solusi bagi sejumlah persoalan kemasyarakatan, termasuk masalah dampak covid-19. Amal-amal sosial yang digerakkan lewat masjid akan berimbas luas bagi kehidupan warga sekitar masjid dan bagi masyarakat umum yang terdampak Covid-19.(*)