Masjid Tak Berbadan Hukum, Bisakah Dapat Hibah?

Aspirasi Warga Banten

0
167

BANTEN sejak zaman kesultanan sudah terkenal dengan karakter masyarakatnya yang majemuk dan memiliki toleransi yang tinggi. Itu terjadi, karena sejak dulu masyarakat Banten memegang keyakinan atau agama yang berbeda-beda. Islam, Kristen, Hindu, Budha, semua ada pengikutnya, namun Banten tetap aman dari bentrokan-bentrokan yang mengatasnamakan agama.

Subadri, warga Kasemen, Kota Serang, mengatakan, di daerah Kasemen mayoritas masyarakatnya adalah beragama Islam, tapi ada juga yang memegang keyakinan Kristen maupun agama lain. Sebagai daerah yang dekat dengan lokasi kraton atau Banten Lama, banyak rumah ibadah khususnya masjid dan mushola.

Rumah ibadah, bagi masyarakat Kasemen merupakan bagian elemen yang penting, karena selain sebagai sarana ibadah, juga sebagai sarana silaturahmi khususnya pada waktu-waktu tertentu. Seperti di hari-hari besar Islam, misalnya Maulid Nabi, dan lainnya.

“Masjid jadi tempat kami untuk silaturahmi dan sekaligus memperingati Maulid Nabi, atau pada Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, kami selalu ada kegiatan untuk memperingati hari besar itu, dan tempat yang kami pilih masjid,” kata Subadri, Selasa (2/2/2016).

Mengingat peran masjid atau rumah ibadah sangat besar, infrastruktur masjid yang baik dan menunjang sangat dibutuhkan, tapi jika sepenuhnya diserahkan pada swadaya masyarakat, bukan tidak bisa, namun membutuhkan waktu lama. Beberapa tahun sebelumnya, ada asa bagi masyarakat bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah, dari dana hibah.

Namun belum lama, seperti yang banyak diberitakan, penerima hibah harus punya badan hukum, sedangkan masjid tidak punya, melalui rubrik aspirasi ini, saya ingin tanyakan, apakah rumah ibadah masih bisa mendapatkan bantuan? Semoga ada jalan untuk membantu masyarakat. (Bayu)