Ilustrasi

JAKARTA – Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) yang diterapkan oleh pemerintah ternyata justru membebani maskapai. Maskapai penerbangan pun melakukan sejumlah penutupan rute-rute yang dinilai tidak menguntungkan untuk mengurangi beban keuangan akibat penurunan TBA.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan penutupan rute tersebut dapat merugikan masyarakat di wilayah yang rutenya ditutup. “Akses ke sana akan sulit begitu pun dengan mereka juga akan kesulitan akses untuk ke wilayah lain,” ujarnya, Senin (27/5). Apalagi, beberapa rute yang ditutup merupakan rute yang menghubungkan beberapa wilayah ke Indonesia Timur seperti Langgur, Maluku Tenggara.

Dia mengatakan jika memang pemerintah ingin maskapai tetap mempertahankan sejumlah rute yang telah ditutup maka harus konsisten dengan memberikan subsidi ke maskapai di rute tersebut. “Seperti rute Belitung – Singapura itu kan dibuka tetapi pemerintah memberikan subsidi kepada Garuda sekitar Rp 8 miliar tetapi ternyata belum dibayarkan jadi pemerintah ya harus konsisten. Pada dasarnya maskapai kan tetap harus untung,” urainya.

Sebelumnya, Garuda Indonesia memaparkan untuk mempertimbangkan menutup sejumlah rute akibat penurunan TBA. Selama ini, Garuda melakukan subsidi silang terhadap sejumlah rute yakni beberapa rute gemuk seperti Jakarta – Jogja, Jakarta – Surabaya, Jakarta – Denpasar, Jakarta – Semarang dan lainnya mensubsidi rute yang rugi. Hanya saja, penutupan ini akan disesuaikan dengan kebijakan subsidi masing-masing pemerintah daerah. Jika pemerintah daerah menyediakan subsidi, maka rute tetap diterbangi, namun jika tidak, akan ditutup.

“Kami sudah tidak bisa mensubsidi dari jalur-jalur gemuk,” imbuh Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara. Dia memperkirakan pada April 2019 pihaknya akan mengalami kerugian lantaran menurunkan TBA sebesar 35 persen setara USD 18 juta per bulan. Sedangkan saat ini penurunan masih sekitar 15 persen maka masih setara dengan BEP (Break Even Point).

Garuda menutup rute Singapura – Belitung serta akan mengurangi rute penerbangan ke Pulau Morotai, Maumere dan Bima. Salah satu alasannya lantaran bahan bakar di daerah tersebut jauh lebih mahal dibandingkan daerah lain. Selain itu, jam operasional di sejumlah rute tersebut juga terbatas hanya sampai jam 16.00 waktu setempat. Sehingga, jika terlalu malam perseroan harus mengeluarkan biaya tambahan seperti biaya parkir dan menginap kru maskapai.  (jpg)