Masuk Semester II 2019, Ekonomi Banten Diprediksi Melambat

SERANG – Memasuki semester kedua 2019, kondisi ekonomi Banten diprediksi bakal melambat. Bank Indonesia mencatat, perlambatan lebih disebabkan melemahnya perekonomian di triwulan I (Januari-Maret), hanya tumbuh 5,42 persen year on year (yoy). Untuk triwulan II (April-Juni), BI masih memprediksi bahwa ekonomi Banten akan tumbuh lebih tinggi di kisaran 5,6 – 6,00 persen (yoy).

Namun, prediksi ini di triwulan II 2019 lebih didorong masih kuatnya konsumsi masyarakat terutama di momen Ramadan dan Idul Fitri yang didukung meningkatnya penghasilan masyarakat. Selain itu, kinerja ekspor sampai dengan April juga menunjukkan peningkatan terutama untuk komoditas baja, makanan, kimia, dan tembaga. Ekspor antar-daerah juga berpotensi meningkat seiring masuknya momen Idul Fitri.

Sementara itu, berdasarkan lapangan usaha, pertumbuhan di triwulan II 2019 akan didorong LU industri pengolahan, perdagangan, dan transportasi. Ketiganya masih didorong oleh momen Ramadan dan Idul Fitri.

Meski demikian, Pjs Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erry P Suryanto menilai, secara umum perekonomian nasional 2019 akan tumbuh lebih lambat dibandingkan level pertumbuhan 2018. Ini seiring melemahnya proyeksi ekonomi global dan world trade volume. Kondisi ini dianggap dapat memengaruhi kinerja investasi dan ekspor secara negatif.

Pertumbuhan 2019 diperkirakan di kisaran 5,5 – 5,9 persen (yoy). “Beberapa faktor antara lain kinerja kondisi dunia usaha diharapkan kondusif dan dapat terus tumbuh ditopang oleh upaya stabilitas moneter. Yakni, berupa suku bunga acuan BI 7-days reverse repo rate dan nilai tukar rupiah serta bauran kebijakan dengan tools lainnya,” katanya kepada Radar Banten, kemarin.

Kondisi ini tak lepas dari konsumsi rumah tangga yang diperkirakan juga cenderung melambat. Hal tersebut, kata Erry, bisa dilihat dari indeks ekspektasi konsumen (IEK) yang lebih rendah dari posisi sebelumnya. Termasuk indeks kegiatan usaha enam bulan mendatang yang juga menunjukkan penurunan.

Masih menurutnya, ekspor diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan 2018. Ini seiring melambatnya proyeksi pertumbuhan PDB Global consensus forecast dari 3,6 persen di tahun 2018 menjadi 3,3 persen di tahun 2019.

Untuk itu, katanya, sektor pertanian, konstruksi, informasi dan komunikasi, dan industri pengolahan diharapkan tumbuh cukup tinggi meskipun sebagian besar masih akan ditopang oleh permintaan domestik. “Jika ada industri yang mengalami lesu, sejauh ini tidak terlalu jelas industri mana yang dimaksud mengalami pelemahan daya beli. Keluhan tersebut beragam untuk tiap lapangan usaha,” ungkapnya.

TERENDAH DI PULAU JAWA

Sementara itu, pengamat ekonomi Untirta Hadi Sutjipto menilai lambatnya laju pertumbuhan ekonomi di Banten pada awal 2019 akibat beberapa hal. Di antaranya melemahnya permintaan domestik dan masih rendahnya penyerapan pengeluaran pemerintah daerah. “Meskipun mengalami keterlambatan dibandingkan akhir 2018, tapi pertumbuhan ekonomi Banten masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional. Hanya saja paling rendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa,” urainya.

Untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, ia menilai perlu upaya menggairahkan kembali konsumsi rumah tangga domestik terhadap produk yang dihasilkan perusahaan atau unit usaha di Banten. “Daya beli masyarakat yang meningkat seiring naiknya standar upah baru oleh para pekerja pada akhir Januari 2019, perlu dijaga dari tekanan inflasi yang secara siklus di triwulan I 2019 relatif menurun,” ungkapnya.

Pemerintah daerah, tambah Hadi, baik provinsi maupun kabupaten kota juga perlu meningkatkan serapan belanja daerah, termasuk di dalamnya komponen pengeluaran pemerintah. “Memang hampir selalu terjadi di triwulan I serapan belanja pemerintah daerah masih rendah, padahal perencanaan kegiatan dan program serta anggaran sudah disepakati dan diputuskan bersama,” bebernya.

TEKAN INFLASI

Di bagian lain, Sekda Banten yang juga merupakan Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Banten, Al Muktabar, mengaku memiliki strategi jitu menekan inflasi guna menstabilkan laju pertumbuhan ekonomi. “Rata-rata tekanan besar itu dari bahan pokok,” ujar Al.

Menurutnya, Hari Raya Idul Fitri yang menjadi momen peningkatan kebutuhan bahan pokok sangat berkontribusi besar terhadap inflasi. Namun, situasi harga saat ini makin membaik dan balance (seimbang-red) antara supply (kebutuhan-red) and demand (dan permintaan-red).

Kata dia, momen-momen memanfaatkan sumber daya yang memengaruhi inflasi itu kini sudah semakin terkendali. “Kami akan melakukan langkah-langkah, terutama dengan BI dan stakeholder lainnya. Kami akan pantau itu. Termasuk juga ke statistik untuk melakukan perhitungan yang variabelnya bisa ditambahkan untuk lokal, karena parameter nasional tidak relevan,” ungkapnya. (skn-aas-den-nna/air/del/ags)