Masyarakat Harus Tahu Naskah UU Cipta Kerja

0
286 views
Foto : Iwan tri wahyudi/ FAJAR INDONESIA NETWORK

JAKARTA – Pemerintah diminta mengedepankan pemenuhan hak warga negara secara luas. Yaitu terjaminnya keterbukaan informasi publik. Dalam konteks ini adalah akses publik terhadap naskah final UU Ciptaker. Pemerintah mestinya lebih dewasa dan lapang dada. Jika memang yang dilakukan itu benar untuk rakyat. Tidak perlu khawatir rakyat mempertanyakan aspirasinya.

Anggota Komisi I DPR RI Sukamta mengaku prihatin dengan kondisi yang terjadi. Karena beberapa warga juga ditangkap oleh aparat hukum dengan tuduhan menyebar hoaks yang menimbulkan keonaran di masyarakat.

“Padahal masyarakat itu protes karena kabar berseliweran tidak jelas, sebab naskah final yang resmi belum ada, sementara sejak naskah awal RUU dari pemerintah banyak point yang meresahkan masyarakat. Jadi wajar saja masyarakat protes karena menunjukkan kepedulian akan nasibnya sendiri,” terangnya.

Ia menjelaskan, bahwa tanpa ada naskah asli yang diterima publik, menjadi aneh jika kemudian pemerintah melakukan penegakan hukum terhadap warganya sendiri.

“Apalagi tema ini bukan menyangkut hubungan personal, tapi menyangkut kepentingan semua rakyat Indonesia, harusnya aparat penegak hukum lebih bijak. Pemerintah harusnya bisa memastikan dulu dengan mendesak DPR agar segera mengeluarkan naskah finalnya,” bebernya, Senin (12/10).

Sukamta juga menekankan bahwa polemik UU Ciptaker ini cukup pelik. Dari prosedur pembahasan dan pengesahan saja sudah bermasalah.

“RUU Ciptaker dibahas dan disahkan dengan sangat terburu-buru sehingga mengesampingkan prosedur yang baku dalam pembahasan sebuah RUU. Bahkan saat Rapat Paripurna 5 Oktober yang lalu pun naskah final UU Ciptaker belum bisa diterima oleh anggota DPR, apalagi publik secara luas. Padahal salah satu syarat pengesahan sebuah RUU mengharuskan adanya naskah final yang diterima setiap anggota DPR,” papar Sukamta.

DPR, lanjut Sukamta, harusnya tidak boleh menahan naskah final UU Ciptaker sampai berhari-hari dengan alasan masih ada koreksi bahasa. Lagipula kalau memang belum selesai, kenapa terburu-buru disahkan saat Paripurna kemarin?

“Di sinilah sumber hoax itu sebetulnya. Karena tidak ada naskah yang final, akhirnya banyak bertebaran naskah UU Ciptaker, meme, infografis dan postingan-postingan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan valid atau tidaknya. Inilah yang diterima oleh publik,” ujarnya.

Sedangkan untuk menilai valid-tidaknya mau pakai acuan apa, katanya, sementara naskah finalnya saja belum beredar, sudah disahkan pula.

“Dan sekali lagi, pengelola negara ini seolah seperti membiarkan hal ini terjadi. Ini tidak adil. Karenanya, saya mendesak aparat hukum agar segera membebaskan pihak-pihak yang telah ditangkap dengan dugaan penyebar hoaks, karena sebetulnya mereka hanya korban dari polemik ini,” ujarnya.

Terpisah, Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar mengatakan draf final RUU Ciptaker masih dalam tahap perbaikan formatnya. Diketahui. Aturan sapu jagat ini berisi 1.035 halaman. Nantinya, akan difinalkan oleh Baleg sebelum dikirim kepada Presiden Jokowi.

Sebelumnya, nama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin belum ada pada draf yang tersebar di dunia maya berisi 905 halaman. Selain itu, ia mengatakan bahwa perubahan juga terdapat pada jenis spasi dan format huruf, serta perbaikan redaksi.

“Kemarin kan spasinya belum rata semua. Hurufnya segala macam, nah sekarang sudah dirapikan. Redaksinya, segala macam itu, yang disampaikan pak Aziz itu. Iya, itu yang dibahas terakhir yang surat 1.035,” kata Indra.

Indra mengatakan selain itu tidak ada lagi yang berubah. Perbaikan redaksi juga hanya dilakukan pada kesalahan tipografi dan format. Adapun perubahan halaman dari 905 ke 1.035, menurut Indra, karena spasi yang terdorong-dorong.

“Kan format dirapikan, kan jadinya spasi-spasinya kedorong semua halamannya. Enggak ada (substansi yang berubah). Itu hanya (perbaikan) typo dan format,” kata Indra. Selanjutnya, Indra pun menjelaskan bahwa draf RUU Cipta Kerja belum dikirim ke Presiden hari ini karena belum tujuh hari kerja. (khf/fin)