Masyarakat Labuan Dilatih Simulasi Tsunami

Bupati Irna Narulita (tengah) menerima alat pendeteksi dini atau EWS dari Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo (kiri) di kawasan shelter tsunami di Kecamatan Labuan, Rabu (14/8). Foto Humas Pemkab Pandeglang For Radar Banten

PANDEGLANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan simulasi menghadapi tsunami di Kecamatan Labuan, Rabu (14/8). Kegiatan itu sengaja dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat saat bencana tersebut terjadi. Tujuannya, untuk meminimalisasi jumlah korban jiwa.

Hadir di acara tersebut, Kepala BNPB Letnan Jenderal (Letjen) Doni Monardo, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Bupati Irna Narulita, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemkab Pandeglang Pery Hasanudin, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan perwakilan pegawai lintas sektor lainnya.

Kepala BNPB Letjen Doni Monardo mengatakan kegiatan simulasi tsunami merupakan rangkaian acara ekspedisi desa tangguh bencana (destana) yang dilakukan di semua wilayah pesisir pantai selatan Indonesia mulai dari Banyuwangi hingga Provinsi Banten.

Tujuannya, kata dia, sebagai bentuk antisipasi penanganan bencana tsunami. “Bencana kapan terjadi tidak ada yang tahu, kita hanya bisa meningkatkan kesiapsiagaan agar dapat mengantisipasi saat terjadinya bencana,” katanya, Rabu (14/8).

Doni menerangkan kegiatan yang dilakukan lembaganya akan terus dijalankan secara rutin, agar masyarakat mengerti dan memahami apa yang harus diperbuat ketika bencana terjadi.

“Ke depan akan lebih menyentuh hingga tingkat paling bawah yaitu keluarga, sehingga masyarakat sudah paham apa yang harus dilakukan jika bencana itu datang,” katanya.

Kepala BMKG Pusat Dwikorita Karnawati mengatakan, lembaganya telah melakukan pemasangan alat pendeteksi gempa di semua wilayah Indonesia. “Jika terjadi gempa, alat itu akan memberikan peringatan dini dalam waktu lima menit setelah gempa. Kita punya alat pendeteksi gempa, sehingga bisa diketahui pusat gempa dimana. Jika berpotensi tsunami BMKG langsung mengirimkan ke BPBD Provinsi,” katanya.

Dia meminta kepada masyarakat agar mencari tempat aman dan tinggi, apabila terjadi gempa. Apabila pusat gempa berada di laut, lanjutnya, masyarakat harus menjauh dari bibir pantai khawatir terjadi tsunami. “Jika gempa dibarengi tsunami diperkirakan membutuhkan waktu 10 sampai 20 menit. Pokoknya jika ada gempa, hitung dalam hitungan 10 detik, jika masih gempa berlanjut, segera lari dan cari tempat yang tinggi walaupun sirene belum berbunyi,” katanya.

Sementara itu, Bupati Irna Narulita berharap, melalui kegiatan tersebut masyarakat bisa lebih memahami mengenai bencana. “Kesiapsiagaan terus kita tingkatkan karena tinggal di daerah yang rawan bencana. Dengan adanya ekspedisi, akhirnya masyarakat yang biasanya mereka acuh tak acuh, sekarang akan terlatih dan tetap survive tinggal di daerah rawan bencana,” katanya.

Irna berharap semua pihak ikut berpartisipasi mengatasi persoalan potensi bencana di Kabupaten Pandeglang. “Ada beberapa hal yang memang diperkirakan dapat mengantisipasi terjadinya tsunami yaitu alat pengukur gempa. Alat pengukur gempa bantuan dari pusat akan dipasang di 40 titik di tanah yang termasuk aset daerah. Kita juga akan imbau owner hotel untuk bersinergi agar memasang penerangan ke arah laut,” katanya. (dib/zis)