Masyarakat Ogah Isolasi di Trans Hotel

0
1805
SEPI: Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel di Kecamatan Cibeber terlihat sepi, Senin (8/2). Pemkot menyiapkan wisma ini untuk keperluan isolasi bagi OTG namun mereka enggan untuk menempati wisma itu. (BAYU MULYANA/RADAR BANTEN)

Malah Memilih di Rumah

CILEGON-Sejumlah masyarakat yang terkonfirmasi positif Covid-19 tanpa gejala ogah untuk menjalani isolasi di Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel di Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon.

Padahal fasilitas itu disiapkan pemerintah untuk kepentingan isolasi bagi pasien orang tanpa gejala (OTG). Pemerintah tidak memungut biaya apa pun untuk bisa menggunakan fasilitas tersebut.

Ogahnya masyarakat menggunakan fasilitas Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel terungkap saat rapat evaluasi pelaksanaan protokol kesehatan Covid-19 khusus wilayah Kecamatan Citangkil, Cibeber, dan Jombang di ruang rapat aula Sekretariat Daerah (Setda) Kota Cilegon.

Informasi tersebut diungkapkan oleh Walikota Cilegon Edi Ariadi kepada wartawan. “Sekarang lebih dari 14 kamar (di Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel) kosong,” ujar Edi kepada wartawan, kemarin.

Edi menyesalkan banyak masyarakat lebih memilih melakukan isolasi mandiri di rumah padahal kondisi rumahnya tidak layak  untuk dijadikan tempat isolasi. Lebih parah, diinformasikan jika terdapat sejumlah masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri justru keluyuran di luar rumah.

“Saya mengimbau lagi, dicek lagi mana yang betul-betul perlu diisolasi, ya diisolasi,” ujar Edi.

Hal tersebut kembali ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon Dana Sujaksani.

“Kita menyiapkan Trans Hotel banyak yang kosong, sedangkan banyak masyarakat positif OTG lebih suka di rumah walaupun tidak memenuhi syarat, bahkan bandel ke luar rumah,” papar Dana.

Informasi yang diterima Dinkes, sejumlah masyarakat ogah menjalani isolasi di Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel karena hawati terkekang.

Dijelaskan Dana, pemerintah telah menyusun serangkaian agenda yang dilakukan oleh masyarakat saat menjalani isolasi di Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel, misalnya jadwal olahraga, makan, hingga berjemur diatur.

Hal itu dilakukan agar masyarakat yang sedang menjalani isolasi disiplin. “Bukan mengekang, tapi mendisiplinkan masyarakat, jadi waktunya makan ya makan, waktunya olahraga ya olahraga, agar cepat sehat,” papar Dana. 

Menyikapi persoalan tersebut, menurut Dana, melalui Satgas Kecamatan, pemerintah akan melakukan upaya asesmen dan edukasi kepada masyarakat agar mau isolasi di Wisma Isolasi Bersama Trans Hotel.

“Jika rumahnya tidak memenuhi syarat, banyak penghuninya, akan kita alihkan ke Trans Hotel,” ujarnya. (bam/alt)