Masyarakat Sering Keliru Tangani Luka

Salah satu pembicara pada simposium dan workshop penanganan luka dan luka bakar di RS Fatimah, Kota Serang, Kamis (29/11).

SERANG – Selama ini, masyarakat kerap keliru menangani luka. Untuk itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Banten menggelar simposium dan workshop bagi para dokter umum untuk penanganan luka dengan harapan pengetahuan yang didapat dapat disosialisasikan kepada masyarakat. Dengan begitu, tak ada lagi penanganan luka yang keliru.

Sekretaris Umum IDI Wilayah Banten dr Hadiwijaya mengatakan, selama ini masyarakat kerap keliru menangani luka. “Penanganan luka yang pertama sebenarnya cukup dengan air mineral saja yang netral,” ujar dr Hadi di sela-sela simposium dan workshop yang diselenggarakan di RS Fatimah, Kota Serang, Kamis (29/11).

Selama ini, lanjutnya, banyak masyarakat yang menggunakan berbagai bahan yang sebenarnya tak dianjurkan untuk luka seperti mentega, pasta gigi, kecap, hingga bubuk kopi. Meskipun bubuk kopi mempunyai daya serap yang kuat, tetapi apabila terjadi luka bacok yang disertai pendarahan, masyarakat cukup menutup luka dengan kain yang bersih. Apabila menggunakan bubuk kopi, dikhawatirkan akan masuk ke dalam bagian tubuh dan menjadi benda asing. Apabila itu terjadi, dokter yang menangani akan kewalahan untuk membersihkannya. Selain itu, bagian tubuh yang terkena luka hendaknya diangkat ke atas agar darah tak terus mengalir. Kemudian, pasien agar segera dibawa ke pusat pelayanan kesehatan terdekat.

dr Hadi juga mengimbau para produsen aki untuk tidak menggunakan botol yang menyerupai air mineral. Lantaran, ia pernah menerima tiga pasien yang meminum dan mencuci luka dengan air aki karena dikira air mineral.

Ketua IDI Cabang Serang dr Budi Suhendar mengatakan, luka sering kali dialami masyarakat, termasuk luka bakar. Namun, sering kali penanganan awalnya belum benar karena belum tersosialisasi dengan baik. Untuk itu, penanganan luka bakar menjadi salah satu topik utama IDI tahun ini.

“Makanya para dokter umum mengikuti simposium dan workshop ini dengan tujuan agar masyarakat yang membutuhkan penanganan dapat tertangani dengan baik,” tuturnya. Kalaupun pasien akan dirujuk, maka dalam kondisi sebagaimana mestinya.

Namun, tambah dr Budi, selain memberikan skill dan pengetahuan kepada dokter umum, tujuan kegiatan ini juga agar wawasan tersebut dapat disosialisasikan kepada masyarakat. “Nantinya dokter-dokter umum di fasilitas kesehatan itu dapat membuat kelompok penggerak diskusi mengenai aspek kesehatan. Salah satunya penanganan luka bakar,” terangnya.

Dengan begitu, ia berharap, ada kesinambungan dan harmonisasi sehingga akan tercipta pengetahuan yang merata di seluruh masyarakat Banten mengenai hal ini. Ke depan, pengetahuan itu menjadi kebiasaan dan budaya yang baik. “Mudah-mudahan tak hanya luka bakar, tapi juga tentang kesehatan lainnya seperti serangan jantung dan pingsan yang dapat ditangani dengan baik,” ujarnya.

President Elect atau Wakil Ketua Pengurus Besar IDI dr M Adib Khumaidi mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan bukan hanya untuk kebutuhan dokter saja, tapi juga meningkatkan pelayanan dan akses kesehatan kepada masyarakat. Pengetahuan yang diterima oleh dokter untuk disosialisasikan kepada masyarakat itu juga sebagai upaya mengedukasi tentang kesehatan. “Karena kami termasuk ujung tombak di pelayanan kesehatan,” tuturnya.

Selain itu, kegiatan ini juga untuk me-re branding profesi dokter di mata masyarakat. Dengan meningkatnya kompetensi dokter, maka para dokter juga akan memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyararakat. Hadir juga pada kesempatan itu, Ketua IDI Wilayah Banten dr Hendrarto, Ketua Perapi Jaya dr Irena Sakura Rini, serta narasumber lainnya. (Rostinah/RBG)