Tepat pada hari ini, 24 Januari 2019, film Matt dan Mou
rilis loh. Ini adalah film pertama yang memasangkan sepasang kekasih Prilly
Latuconsina dan Maxime Bouttier sebagai pemeran utama.

Cerita film ini tentang Matt (Maxime Bouttier) dan Mou
(Prilly Latuconsina), dua sahabat yang berteman sejak kecil walaupun sifat
mereka saling bertolak belakang. Matt sangat over protektif terhadap Mou
termasuk ketika ada Reza (Irsyadillah) yang mendekati Mou. Reza, cowok yang
mendekati Mou, diberikan syarat oleh Matt apakah Reza layak menjadi kekasih
Mou.

Mou pun akhirnya menjodohkan Matt dengan sepupu Reza bernama
Retha agar Matt memiliki kesibukan selain mengurus dirinya. Namun, Mou merasa
ada yang berubah dari Reza. Ia juga merasa ada yang dilakukan Matt tanpa
sepengetahuan dirinya.

Dalam kehidupan nyata, Prilly dan Maxime, meski pada awalnya
sempat ragu karena bermain film dengan kekasih, keduanya pun berhasil bermain
film secara profesional.

Bagi Maxime, karakter Prilly dengan Mou cukup jauh berbeda.
Sifat Prilly jauh lebih pendiam dari Mou yang manja. Begitu juga dirinya yang
berperan sebagai Matt

“Prilly lebih diam lebih kalem. Kalau Mou cerewet dan
aslinya cerewet juga. Dia lebih manja daripada aslinya. Kalau Matt lebih wise
dari aku di saat 17 tahun. Aku masih main-main,” ujar Maxime saat di salah
satu acara di Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (18/1) malam.

Film berdurasi 96 menit produksi MD Pictures ini disutradarai
Monty Tiwa. Film ini diangkat dari novel laris Wulan Fadi berjudul sama.
Seperti diceritakan dalam novelnya, mereka saling memendam rasa karena mereka
cuma sahabat. Dalam buku, diceritakan kehidupan mereka mulai dari cerita awal
mereka berteman, dan tentu saja ada cerita tentang Mou yang digebet dan menggebet
cowok.

Matt ini cowok antisosial yang bisa ditemui di pojok kelas
atau di kantin dengan buku bacaan tebalnya. Benar-benar tertutup. Apalagi soal
perasaan. Kematian ayahnya semakin membuat Matt enggan membuka diri.

Lain lagi dengan Mou. Cewek hiperaktif yang bisa kau temui
di keramaian kantin, atau di lapangan sekolah sebagai pemandu sorak.
Benar-benar terbuka. Apalagi soal perasaan. Perceraian orangtuanya membuat Mou
terpaksa menutupi kesedihan dengan tawa.

Keduanya bersahabat karena kegigihan Mou. Lalu, dalam
persahabatan timbul kata cinta. Inilah yang diungkap dalam novel yang berkisah
dua sahabat yang memendam rasa, tetapi tak berani mengambil kesempatan. Sebuah
novel yang menyentuh hati banyak pembaca dan membuat mereka menguraikan air
mata.

Apakah filmnya akan seperti novelnya? Langsung ke bioskop
ya. (Hilal Ahmad)