JAKARTA – World Wildlife Fund (WWF) Indonesia memperingati Hari Harimau Internasional di Senayan City Jakarta, Jumat (29/7) kemarin.

Pada peringatan ini, WWF Indonesia memamerkan sebanyak 371 replika harimau Sumatera sebagai simbol dari jumlah populasi hewan yang dikenal buas itu.

Direktur Komunikasi dan Advokasi WWF Indonesia, Nyoman Iswarayoga mengatakan ratusan Harimau Sumatera itu kini dalam kondisi terancam.

“Populasi Harimau Sumatera, termasuk Aceh hingga Lampung tinggal 371 ekor. Itu pun mengacu pada data WWF 2015. Sementara di seluruh dunia ada 3.871 ekor. Populasi ini termasuk warning bagi Indonesia karena disfungsi hutan-hutan di Pulau Sumatera terus meningkat,” papar Nyoman.

Ia mengatakan berkurangnya populasi juga dipengaruhi oleh perburuan liar dan Hutan Tanaman Industri (HTI), yang semakin meningkat di Sumatera.

“Perburuan produk Harimau Sumatera seperti taring, kulit atau pengawatan satwa masih banyak terjadi. Kebanyakan produk ini diekspor ke luar negeri dan kebanyakan yang diekspor adalah Harimau Summatera. Selain itu pemerintah harus mengatur lagi soal penyebaran HTI agar tidak mengganggu habitat asli mereka,” harap Nyoman.

Menurut data yang dihimpun WWF Indonesia, tercatat sebanyak 19 kasus kematian Harimau Sumatera sepanjang 2010-2014. Kematian tersebut didominasi akibat perburuan liar dan sisanya karena faktor alamiah.

“Semoga dengan perayaan Hari Harimau Internasional ini, masyarakat semakin peduli dengan keberlangsungan top predator darat ini. WWF juga berterima kasih kepada beberapa selebriti untuk membantu kampanye ini agar lebih bersuara lagi,” tutup Nyoman. (mg5/jpnn)