Maulid Nabi di Mata Milenial, Dari Panjang Mulud Sampai Tablig Akbar

Setiap Rabiul Awal, umat Islam di beberapa daerah memiliki tradisi perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. Nah, di Serang dan sekitarnya memiliki tradisi panjang mulud. Seberapa penting milenial Banten merayakan hari lahir Nabi Muhammad Saw ini? Apakah mereka mengetahui perayaan ini?

Maulid tidak pernah dirayakan saat Nabi Muhammad Saw masih hidup. Peringatan ini pertama kali dilakukan oleh Muzhaffaruddin Al kaukabri, Raja Irbil yang berada di wilayah Irak sekira abad ke-7 Hijriah. Perayaan itu dilakukan pada Rabiul Awal dan dirayakan secara besar-besaran. Tradisi ini berkembang pesat dan luas di dunia hingga Indonesia tak terkecuali Banten.

Tercatat dalam situs Kemendikbud, masyarakat Serang memperingati Maulid Nabi dengan membuat panjang mulud. Biasanya ‘panjang’ ini berbentuk kapal atau masjid atau bisa juga bentuk-bentuk lain. Panjang diisi dengan berbagai macam makanan dan barang, seperti baju, kain, peralatan masak, dan lain-lain. Bahkan, ada beberapa daerah di Serang yang menghias panjang dengan uang.

Sebelum diarak, panjang terlebih dahulu diberkati dengan doa di masjid. Setelah itu, beberapa panjang diberikan kepada warga untuk diperebutkan. Terkadang seremonial itu perlu, perayaan panjang mulud menjadi ajang untuk mengenang dan meneladani kisah Nabi Muhammad Saw.

Azmi Attamimi, anggota Rohis SMAN 1 Pandeglang berpendapat, antusiasme kalangan pelajar pada kegiatan Maulid Nabi Muhammad yang tahun ini dalam kalender Masehi jatuh pada 9 November begitu tinggi. “Kalau di sekolah biasanya kita mengadakan kajian atau ceramah untuk seluruh warga Sambadha,” jelasnya.

Azmi menambahkan, setiap daerah memiliki tradisi dalam merayakan kelahiran nabi. “Mungkin di Serang ada tradisi panjang mulud. Kalau di Pandeglang kita biasanya ada pawai obor di Alun-alun. Pesertanya ramai banget, biasanya eskul rohis dari tiap sekolah diundang untuk datang di sana,” tukas Azmi.

Sebagai generasi milenial, Nazdah Khoirotun Tamimah berpendapat, perayaan Maulid Nabi sangat penting sebagai syariat yang menimbulkan kecintaan kita terhadap Rasulallah Saw. “Biasanya kalau perayaan di kampung halaman, di rumah. Ada sejenis perlombaan antar RT dan pemotongan tumpeng. Dongdang alis membuat replika masjid, unta dari jerami yang biasa di dalamnya itu ada makanan. Setelah pawai, berkumpul di pondok salafi. Di sana makanan yang ada di dalam dongdang dibagikan ke masyarakat,” jelas Nazdah dengan antusias.

Sebagai santri pesantren, Nazdah merasakan suasana yang ceria dan semangat mendekati perayaan Maulid Nabi di pondoknya. “Alhamdulillah selalu dilimpahkan rezeki berupa makanan. Biasanya sih, kalau di pondok perayaannya dengan menampilkan sebuah acara sejenis tablig akbar gitu,” tuturnya.

Organisasi kepemudaan seperti DPK KNPI Kaduhejo Pandeglang ikut memperingati Maulid Nabi, dengan menggelar semarak Maulid Nabi Muhammad Saw pada Minggu (3/11) di lapangan utama Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang. “Kegiatan Maulid Nabi itu sangat penting, itu merupakan cara kita menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah Saw dan mengingat sauri teladan Nabi Muhammad Saw,” ungkap Saeful Falah, Ketua DPK KNPI Kaduhejo.

Falah menambahkan, berbagai tujuan dari perayaan itu di antaranya mengingat keteladanan Rasulullah Saw, mempersatukan masyarakat dan menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah. “Dari kegiatan yang kita garap salah satunya mempersatukan masyarakat melalui kegiatan ini, juga untuk memulai pergerakan pemuda agar berperan aktif di kecamatan,” imbuhnya.

Bagi mahasiswa UIN SMHB satu ini, peringatan Maulid Nabi bukan sekadar membuat perayaan. “Perayaan Maulid Nabi penting karena untuk menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah Saw. Namun, bukan sekadar membuat perayaan, tapi menjalankan sunahnya itu termasuk menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah,” ungkap  Ahmad Fauzan Hidayat, mahasiswa pendidikan bahasa Arab itu.

Tidak jauh berbeda, mahasiswa Untirta satu ini juga bilang, perayaan Maulid Nabi tidak diwajibkan. “Memang sangat penting merayakan Maulid Nabi, tetapi sebenarnya perayaan Maulid Nabi itu tidak diwajibkan, hanya saja kita harus menghormati dengan membuat acara-acara islami seperti santunan anak yatim dan kajian-kajian tentang Maulid Nabi,” ungkap Muhammad Alifiansyah, mahasiswa fakultas ilmu sosial dan politik itu.

Dengan adanya maulid, muslim diharapkan bisa tergugah kembali untuk selalu berikhtiar secara konstan dalam meneladani dan mengamalkan ajaran-ajaran serta akhlak baginda Nabi Muhammad Saw. (fikar-daman zetizen/zee/alt/ira)