Mayat Bayi Dibuang di Pekarangan Rumah

PANDEGLANG – Warga Kampung Kahuripan, Desa Sukadame, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang digegerkan oleh temuan mayat bayi lelaki, Minggu (1/12). Mayat bayi itu tergeletak di pekarangan rumah milik Rohayah (47).

Mayat bayi itu kali pertama ditemukan Rohayah sekira pukul 07.00 WIB. Sebelumnya, Rohayah sedang ngobrol dengan Oyati, tetangganya di depan rumah. Sepintas Rohayah melihat benda mencurigakan tersangkut di tanaman lidah buaya.

Lantaran penasaran, Rohayah bersama Oyati mengeceknya. Keduanya kaget mendapati benda tersebut adalah tubuh telanjang bayi lelaki. Temuan itu dilaporkan kepada warga sekitar dan ke Mapolsek Pagelaran.

“Kami kaget ternyata orok (bayi-red), kami mengabarkan ke warga hinga warga berdatangan termasuk petugas kepolisian,” kata Rohayah, kemarin (1/12).

Tak lama polisi mendatangi lokasi kejadian. Garis polisi dipasang di lokasi kejadian untuk memudahkan polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (Inafis) Polres Pandeglang juga datang ke lokasi. Mayat bayi lelaki itu pun dibawa ke RSU dr Drajat Prawiranegara Kota Serang. Mereka ingin mengecek deoxyribonucleic acid (DNA) bayi tersebut untuk mengungkap orangtua bayi.

Kapolres Pandeglang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sofwan Hermanto sedang mengumpulkan keterangan saksi. Berdasarkan keterangan Emi Hartini (49), bayi tersebut disinyalir anak dari MRT (16). Perawat di Puskesmas Pagelaran itu menduga siswi SMA itu yang membuang bayi malang tersebut.

Dugaan itu bukan tanpa alasan. Sabtu (30/11) sekira pukul 22.30 WIB, perempuan asal Kampung Bojongkondang, Desa Sukadame, Kecamatan Pagelaran itu diperiksa oleh Emi. MRT mengeluh sakit perut akibat menstruasi. “Pasien mengeluhkan sesak napas, lemas, dan perut terasa sakit dengan alasan menstruasi,” kata Sofwan.

Namun, jelas Sofwan, Emi curiga, keluhan sakit perut MRT bukan akibat menstruasi. Soalnya, kondisi perut MRT terasa keras dan payudara layaknya orang hamil. Bahkan, Emi sempat menyarankan agar orangtua pasien membawa anaknya ke rumah sakit. “Tetapi pasien enggak mau alasannya MRT tidak membawa BPJS. Emi juga sempat menayakan kepada MRT, untuk memastikan hamil atau tidak, namun MRT enggak menjawab. Pasien dan keluarganya meninggalkan tempat praktik Emi pukul 23.20,” katanya. (her/nda/ags)