Melacak Makna Laylat Al-Qadr dan Proses Turunnya Alquran

Ilustrasi Pixabay.

Oleh Salim Rosyadi

Bagi umat muslim, Ramadhan dimaknai sebagai bulan al-Qur’an, karena ia menjadi tonggak sejarah di mana al-Qur’an pertama kali diturunkan, serta menjadi simbol pertama kali pengangkatan kenabian Muhammad Saw. Tak heran, tadarus dan peringatan Nuzul al-Qur’an menjadi tradisi Ramadhan yang tak dapat dilewatkan. Namun, apakah kita menyadari, bagaimana wahyu itu diturunkan?

Sejatinya, Allah menurunkan al-Qur’an dengan caranya sendiri. Setidaknya para ulama menyoroti dalam hal ini bahwa al-Qur’an diturunkan melalui dua acara, sebagaimana Jalaluddin al-Suyuthi dan Syaikh ‘Ali al-Shabuni mengemukakan.

Cara pertama, Allah menurunkan al-Qur’an secara sekaligus melalui Jibril dari Lauh Mahfudz yang kemudian disimpan di langit dunia (السماء الدنيا) yang dinamakan Bayt al-Izzah. Hal ini didasarkan firman Allah:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. (Qs. al-Qadr [97]:1)

Al-Baidhawi dalam tafsirnya menjelaskan:

انزله جملة واحدة فى ليلة القدر من اللوح المحفوظ الى السماء الدنيا، فوضعه فى بيت العزة

“Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus pada malam laylat al-qadr dari Lauh Mahfudz ke langit dunia, dan kemudian disimpan di Bayt al-‘Izzah”. (Muhammad Husayn ibn Mas’ud al-Baghawi: Ma’alim al-Tanzil, J.8, 485).

Berdasarkan petunjuk tersebut, dapat dimengerti bahwa laylat al-qadr merupakan suatu waktu di mana al-Qur’an diturunkan secara sekaligus yang tersimpan di Bayt al-Izzah. Keterangan tersebut diperkuat sebagaimana dikutip al-Qaththan yang mengacu kepada hadits yang diriwayatkan Ibn ‘Abbas:

عن ابن عباس قال: أنزل القرأن جملة واحدة إلى السماء الدنيا ليلة القدر، ثم انزل بعد ذلك فى عشرين سنة

Dari Ibn ‘Abbas berkata: “al-Qur’an turun secara sekaligus ke langit dunia pada malam laylat al-qadr, kemudian setelah itu ia diturnkan selama dua puluh tahun”

Akan tetapi, secara eksplisi ayat tersebut menunjukkan keumuman makna, karena tidak tertera apakah laylat al-qadr merupakan suatu waktu dan keadaan al-Qur’an diturunkan sekaligus, atau waktu dan keadaan di mana wahyu pertama diberikan kepada Nabi Muhammad? Keadaan inilah yang membentuk makna ganda laylat al-qadr.

Cara kedua, setelah al-Qur’an disimpan di langit dunia, Jibril memberikan wahyu kepada Nabi secara berangsur-angsur selama kurun waktu 23 tahun yang terbagi pada 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Pendapat ini diambil mayoritas ulama dan diperkuat dengan hadits Ibn ‘Abbas. Tapi ada juga yang mengatakan, al-Qur’an diturunkan berangsung-angsur selama 20 tahun. Keterangan tersebut masih pula disandarkan pada riwayat ibn ‘Abbas sebagaimana dikemukakan hadits di atas.

Wahyu pertama yang disampaikan kepada Nabi adalah lima ayat awal dari surat al-‘Alaq ketika ia menghabiskan waktu ber-tahannuts di Gua Hira. Wahyu pertama itu terjadi pada bulan Ramadhan sebagaimana dijelaskan firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan ) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda” (al-Baqarah [2]:185)

Menurut ‘Ali al-Shabuni, proses terjadi turunnya al-Qur’an dari Lauh Mahfudz ke Bayt al-‘Izzah dan kemudian sampai kepada nabi dilakukan pada satu malam, karenanya waktu itu dinamakan malam yang penuh berkah, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. (Qs. al-Dukhan [44]:3). Istilah lain malam diberkahi adalah Laylat al-qadr.

Dengan demikian, makna ganda inilah yang dipakai, bahwa layalt al-qadr merupakan suatu keadaan proses turunnya al-Qur’an secara sekaligus berikut diberikannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw dalam satu waktu secara bersamaan. Pendapat ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan Ibn ‘Abbas:

انزل القرأن فى ليلة القدر فى شهر رمضان إلى سماء الدنيا جملة واحدة، ثم انزل نجوما

Al-Qur’an diturunkan pada malam laylat al-Qadr pada bulan Ramadhan dengan sekaligus ke langit dunia, kemudian ia diturunkansecara berangsur-angsur.

Salim Rosyadi
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan Pengurus Cabang GP Ansor Kabupaten Lebak