Melakukan Hubungan Seks Sebelum Nikah Berujung Petaka Saat Berumah Tangga

Memang sulit menjalani hari sebagai pemuda masa kini. Kalau tidak kuat iman dan memiliki mental lelaki sejati, pasti sudah melakukan tindakan berdasarkan nafsu berahi tanpa mengandalkan akal dan nurani. Seperti dialami Ciko (35) dan Tinul (34), keduanya nama samaran.

Menjalin hubungan hampir dua tahun, mereka berniat menuju jenjang pernikahan. Apa mau dikata, meski sudah saling mengenal antara kedua keluarga, entah karena firasat atau memang takdir sang kuasa, ibunda Ciko tidak merestui mereka. Mengaku sangat cinta dan ingin hidup bersama, ia pun memohon agar bisa menikah dengan Tinul.

Tak mempan dengan rayuan, Ciko sampai menangis sesenggukan. Tak tega melihat putra tercinta sengsara, sang ibu pun mengubah keputusannya, ia merestui hubungan Ciko dan Tinul. Dengan pesta yang digelar sederhana, hanya mengundang tetangga dan saudara, keduanya dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Apesnya, baru empat bulan merasakan hidup bahagia dalam naungan rumah tangga, Ciko harus menerima kenyataan kalau pernikahannya sirna lantaran sang istri menuntut perceraian. Apa mau dikata, ia yang tengah merasakan hidup sempurna dengan kehadiran Tinul, menolak bercerai dan membujuk sang istri untuk bertahan.

“Waktu itu saya enggak nyangka dia minta cerai, orang kemarin-kemarinnya saja hubungan kita masih harmonis, kok,” ungkap Ciko kepada Radar Banten.

Usut punya usust, ternyata, semenjak sebelum menikah, keduanya diam-diam sudah melakukan hubungan intim. Bersepakat merahasiakan aib bersama, baik Ciko maupun Tinul tidak pernah mempermasalahkan atau mengungkit hal itu. Parahnya, seolah mendapat hukuman setimpal dari Tuhan, Tinul hamil duluan.

Oalah. Kok bisa gitu, Kang?

“Saya juga enggak tahu, padahal katanya dia sudah pakai obat biar enggak hamil, ternyata masih hamil juga,” jelas Ciko.

Resah dengan kehamilannya, seolah tak punya hati, Tinul tega menggugurkan calon bayi yang ada di perutnya dengan meminum obat-obatan. Selamatlah nama baiknya dan keluarga. Ia menjalani hari seperti biasa sampai akhirnya berumah tangga. Ya namanya juga manusia, sejahat-jahatnya Tinul, pasti memiliki rasa.

Seperti diceritakan Ciko, entah bagaimana awalnya, selama menjalani rumah tangga, Tinul sering menangis seorang diri. Ketika ditanya, ia langsung menyembunyikan muka seolah tidak terjadi apa-apa. Hingga suatu hari, tanpa sepengetahuan sang suami, Tinul menceritakan semua yang terjadi pada dirinya kepada sang ibu tercinta.

Meledaklah amarah sang ibu mertua, menceritakan hal ini kepada anggota keluarga, mereka semua tersulut emosi yang membara. Mengetahui hal buruk akan terjadi pada suaminya, Tinul lekas meminta perceraian, hubungannya dengan Coki waktu itu sangat berantakan. Parahnya, Coki malah memilih bertahan, terjadilah keributan.

Dimarahi seluruh anggota keluarga Tinul, Coki tak bisa berkutik. Namun sebagai lelaki, ia terus memberikan perlawanan, apa mau dikata, sang kakak yang emosinya sudah terlanjur membeludak hampir melakukan tindak kekerasan. Beruntung masih bisa dipisahkan oleh saudara dan tetangga yang menyaksikan.

Duh, ngeri amat sih, Kang!

“Pokoknya mah waktu itu saya habis dicaci maki, kalau di sana enggak orang lain, mungkin sudah babak belur saya, Kang,” curhatnya.

Tapi kok Teh Tinulnya bisa sampai ngasih tahu ibunya sih, Kang?

“Nah itu dia. Setelah saya tanya, katanya sih dia nyesel ngegugurin kandungannya. Terus merasa berdosa. Pantes sering nangis sendiri, ternyata dia bimbang gitu pikirannya. Jadi deh ngadu ke ibunya,” terang Coki.

Tinul bukan wanita biasa. Terlahir dari keluarga sederhana, ia tumbuh menjadi seorang pekerja keras. Memiliki wajah yang cantik dengan kulit putih, membuatnya banyak diincar pria. Belum lagi statusnya sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Kota Serang, membuat Tinul semakin mudah mendapatkan lelaki pujaan hati.

Termasuk membuat Ciko jatuh cinta setengah mati. Bekerja di salah satu lembaga pemerintahan di Kota Serang, Ciko memiliki karisma dan posisi yang menguntungkan. Saat mendekati Tinul, ia tidak terlalu mengkhawatirkan kegagalan. Dengan jabatan dan penampilan yang dirasa tampan, Ciko memiliki kepercayaan diri tingkat tinggi.

Namun bukan Tinul namanya kalau tidak jual mahal. Seolah mengetes keseriusan Ciko dalam meraih cinta, ia tidak langsung menerima dan malah cenderung tidak mempedulikannya. Ibarat bermain judi, semakin lama justru semakin membuat penasaran. Ciko terus menerus menunjukkan kesungguhan kepada Tinul. Apa yang ia minta pasti dilakukan.

Puas akan segala rintangan yang telah ditaklukan Ciko, barulah Tinul merasa yakin dan bahagia. Dengan senyum manisnya, ia menerima Ciko sebagai ksatria dalam hatinya. Mereka jadian dan banyak menjalani hari bersama. Biasalah, seperti remaja pada umumnya, jalan berdua sambil bermanja ria.

Ciye…

Berawal dari pegang-pegangan hubungan mereka kebablasan. Bekerja di klinik kesehatan, Tinul tentu mengetahui banyak jenis obat-obat pencegah kehamilan. Namun apesnya, tampaknya Tuhan berkehendak lain. Tinul hamil dan menggugurkan kandungannya.

Sampai ia merasa berdosa, Tinul mengadukan kepada sang ibu tercinta. Dari sanalah masalah mulai tercipta. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, emosi seluruh keluarga terhadap Ciko tak dapat ditahan. Keributan terjadi dengan amat mengerikan.

Hingga dirasa sudah tidak ada lagi kecocokan, keduanya pun menuju perceraian. Mengakhiri rumah tangga untuk selama-lamanya.

Waduh, yang sabar saja ya Kang Ciko, hidup ini sebab-akibat, jadi kalau awalnya enggak benar, ke depannya juga bakal berantakan. Semoga diberi ampunan serta hidayah-Nya. Amin. (daru-zetizen/zee/RBG)