Melihat Kondisi Warga di Pengungsian Banjir Lebak

Pengungsi dari Kampung Pasireurih menyusuri jalan berlumpur di Kampung Sinday, Desa Pajagan, Kecamatan Sajira, menuju lokasi pengungsian, kemarin.

Masih Trauma, Khawatir Banjir Susulan Datang

Warga Korban banjir bandang dan longsor di enam kecamatan di Lebak khawatir terjadi bencana banjir susulan. Untuk itu, mereka memilih mengungsi dan menjauh dari bantaran sungai.

MASTUR HUDA – Lebak

Pantauan Radar Banten di Kampung Sinday, Desa Pajagan, Kecamatan Sajira, masyarakat Kampung Sinday mengungsi ke rumah kerabat dan eks gedung SD Negeri 1 Pajagan. Kampung Sinday terendam banjir pada 1 Januari 2020 lalu dengan ketinggian lebih dari tiga meter. Kondisi tersebut membuat puluhan rumah rata dengan tanah. Jalan lingkungan tertutup lumpur dan akses jembatan dari Sinday menuju Pasireurih, Desa Tambak, Kecamatan Cimarga, terputus.

Kondisi tersebut membuat masyarakat Pasireurih terisolasi. Bahkan, bantuan baru masuk ke kampung tersebut beberapa hari setelah banjir meluluhlantakkan rumah penduduk. Masyarakat yang kehilangan rumah terpaksa mengungsi ke dataran tinggi di perbukitan yang tidak jauh dari kampung tersebut. Dengan mendirikan tenda seadanya, masyarakat bertahan sampai bantuan tiba.

Sekarang, masyarakat Kampung Pasireurih dan Sinday mengandalkan rakit untuk menyeberangi Sungai Ciberang. Mereka masih tinggal di pengungsian karena sebagian rumah warga sudah hanyut dan rusak berat.

Ruhiyat, warga Sinday, mengatakan, musim hujan masih akan terjadi sampai Februari 2020. Karena itu, dia dan masyarakat masih khawatir terjadi bencana banjir bandang susulan. Apalagi, informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang disiarkan di televisi, dalam beberapa hari ke depan curah hujan di Lebak dan Banten cukup tinggi.

“Masyarakat di sini masih trauma dengan bencana banjir bandang kemarin. Enggak biasanya banjir merendam Kampung Sinday dengan ketinggian lebih dari tiang listrik,” kata Ruhiyat kepada Radar Banten, kemarin.

Oleh karena itu, masyarakat Sinday akan bertahan di rumah kerabat dan lokasi pengungsian sampai wilayah bantaran sungai aman dari banjir. Mereka hanya turun ke Sinday pada siang hari untuk membersihkan lumpur dan puing-puing bangunan yang hancur. Pada sore hingga dini hari, masyarakat kembali ke lokasi pengungsian di rumah kerabat dan eks gedung sekolah dasar.

“Kalau siang hari, kami biasa aktivitas di sini. Tapi kalau malam hari, kami lebih baik menjauh dari bantaran sungai. Biarkan rumah kosong karena kami enggak ingin jadi korban ketika banjir susulan benar-benar terjadi,” tegasnya.

Ditanya terkait kondisi rumahnya, Ruhiyat mengaku, rumahnya porak poranda dihantam banjir bandang bercampur lumpur pada awal tahun. Karena itu, dia hanya bisa pasrah menerima musibah tersebut. Harapannya, ada perhatian dari pemerintah untuk pembangunan kembali rumahnya yang rata dengan tanah.

“Sebagian besar rumah di Sinday rusak berat dan sebagian hanyut. Namun, bangunan masjid di sini tetap kokoh dan akan kita bersihkan secepatnya,” jelasnya.

Umayah, warga Kampung Pasireurih, Desa Tambak, Kecamatan Cimarga, mengatakan, banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah Lebak telah menyisakan duka mendalam di masyarakat. Dia tiap hari harus bolak balik ke lokasi pengungsian karena khawatir terjadi lagi banjir besar seperti 1 Januari 2020 lalu. Banjir terparah sejak puluhan tahun lalu tersebut membuat rumah masyarakat hancur dan sebagian hanyut terbawa arus Sungai Ciberang.

“Takut, takut jika terjadi banjir susulan. Karena kemarin saja rumah kami hancur dan tidak tersisa sama sekali,” imbuhnya.

Hujan yang terjadi setiap hari membuatnya trauma dengan bencana banjir. Setiap hujan turun, Umayah lari ke dataran tinggi ke area perkebunan. Di sana, dia dan warga lain bertahan untuk sementara waktu, sambil menunggu hujan reda.

Ditanya terkait bantuan dari pemerintah, Umayah mengungkap, bantuan kebutuhan pokok dari pemerintah dan masyarakat terus berdatangan. Termasuk dari partai politik, perusahaan swasta, TNI, dan Polri. Bantuan yang diberikan berupa mi instan, air mineral, pakaian layak pakai, dan obat-obatan.

“Untuk bantuan sudah mulai berdatangan dari berbagai lapisan masyarakat. Kami ucapkan terima kasih kepada masyarakat dan pemerintah yang peduli terhadap korban banjir,” ucapnya.

Ketua DPRD Lebak Dindin Nurohmat yang berkunjung ke Sinday dan Pasireurih meminta kepada masyarakat mematuhi imbauan Bupati Iti Octavia Jayabaya untuk meninggalkan rumahnya yang ada di bantaran sungai. Curah hujan yang tinggi pada pertengahan Januari 2020 berpotensi menimbulkan bencana banjir susulan yang dapat merugikan masyarakat.

“Masyarakat lebih baik tinggal di lokasi yang aman. Kita sudah sediakan posko pengungsian dan akan jamin kebutuhan hidup masyarakat yang menjadi korban banjir dan longsor,” ujarnya.

Politikus Partai Gerindra itu juga mengapresiasi komitmen pemerintah pusat dan Pemprov Banten yang akan membantu pemulihan pascabencana banjir bandang dan longsor.

Dibutuhkan biaya besar untuk penanganan bencana di enam kecamatan di Bumi Multatuli. Karena itu, jika hanya mengandalkan APBD, maka Lebak akan kesulitan menyelesaikan pembangunan infrastruktur yang rusak akibat bencana tersebut.

“Sekarang yang terpenting masyarakat aman dan terjamin kebutuhan hidupnya. Karena itu, kita bahu membahu bersama eksekutif, swasta, dan masyarakat membantu korban banjir. Bahkan, saya hampir tiap hari ke lapangan untuk membantu masyarakat di enam kecamatan,” tukasnya.

BELUM DIPUTUSKAN

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Lebak Wawan Hermawan menyatakan, banjir bandang dan longsor di enam kecamatan di Lebak mengakibatkan ribuan rumah rusak. Dengan rincian, di Kecamatan Curugbitung rumah rusak berat 65 unit, rusak sedang 52 unit, rusak ringan 131 unit, dan total rumah rusak 248 unit.

Kecamatan Maja total rumah rusak 56 unit. Dengan rincian rusak berat 18 unit, rusak sedang 19 unit, dan rusak ringan 19 unit.

Di Kecamatan Sajira total ada 546 unit rumah rusak. Rinciannya, 406 rusak berat, 115 rusak sedang, dan 25 rusak ringan.

Selanjutnya, Kecamatan Cipanas sebanyak 257 unit rumah rusak. Dengan rincian, 201 unit rusak berat, 9 unit rusak sedang, dan 47 unit rusak ringan.

Di Kecamatan Lebakgedong total ada 438 unit rumah rusak. Dengan rincian 320 rusak berat, 34 rusak sedang, dan 84 unit rusak ringan.   Terakhir, Kecamatan Cimarga, total rumah yang rusak sebanyak 104 unit. Rinciannya, 100 unit rusak berat, satu  unit rusak sedang, dan tiga unit rusak ringan.

“Total rumah yang rusak sebanyak 1.649 unit dengan rincian 1.110 rusak berat, 230 rusak sedang, dan 309 rusak ringan. Tapi, ini masih data sementara dan data ini masih dinamis,” kata Wawan Hermawan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berencana akan memberikan bantuan dana tungguan hunian (DTH) Rp500 ribu per bulan. Dana tersebut akan diberikan selama enam bulan. Rencananya, Pemkab Lebak segera menyampaikan usulan kepada BNPB agar dana tersebut segera direalisasikan sehingga masyarakat korban banjir dan longsor tidak terlalu lama tinggal di pengungsian. Uang tersebut bisa digunakan pengungsi untuk sewa rumah atau biaya tinggal di rumah kerabatnya.

“Secepatnya data penerima DTH kita sampaikan ke pusat. Mungkin dalam satu atau dua hari ke depan,” imbuhnya.

Ditanya terkait dengan arahan Presiden terkait penanganan korban banjir bandang dan longsor, Wawan menyebutkan, sampai sekarang belum ada keputusan dari Bupati, apakah akan merelokasi permukiman penduduk atau tidak. Jika direlokasi maka Pemkab harus menyiapkan tempat yang aman. Namun, keputusan tersebut akan sulit karena tidak mudah mencari lahan yang aman untuk dibangun permukiman bagi korban bencana banjir dan longsor.

“Sampai sekarang belum diputuskan apakah relokasi atau tidak. Atau mungkin relokasi sebagian permukiman yang kampungnya sudah tidak aman ditempati akibat banjir atau longsor,” jelasnya.

Warga terdampak banjir bandang dan longsor, lanjutnya, akan menerima bantuan stimulan dari pemerintah pusat. Rumah yang rusak berat akan menerima bantuan Rp50 juta, rusak sedang Rp25 juta, dan rusak ringan Rp10 juta. Bantuan akan disalurkan kepada korban bencana setelah diverifikasi tim teknis yang dibentuk Bupati Iti Octavia Jayabaya.

“Tim teknis akan melakukan verifikasi karena penerima bantuan harus jelas sesuai dengan by name by addres,” ungkapnya.

DIKUNJUNGI MENTERI

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengunjungi korban banjir di Banjaririgasi, Kecamatan Lebakgedong, dan gedung PGRI Sajira. Adik kandung Muhaemin Iskandar itu memberikan bantuan kepada korban banjir yang ada di Lebak.

“Kondisi cuaca cukup ekstrem, karena itu saya minta kepada masyarakat tetap tinggal di pengungsian agar aman,” ujarnya.

Dia pun berpesan kepada pemerintah daerah untuk menjamin kebutuhan hidup para pengungsi. Jangan sampai muncul berita ada pengungsi yang tidak tersentuh bantuan dari pemerintah. Karena itu, posko pengungsian harus dikelola dengan baik sehingga para pengungsi tidak stres tinggal di posko.

“Terkait akses jalan dan jembatan yang terputus. Presiden sudah memerintahkan Menteri PUPR untuk menanganinya, termasuk akses jalan antardesa yang terdampak bencana banjir dan longsor,” pungkasnya. (*)