Melihat Persiapan Imlek di Wihara Avalokitesvara Banten

0
1.390 views
Pengunjung berswafoto dengan latar belakang Wihara Avalokitesvara, Kasemen, Kota Serang, Kamis (23/1). Bukan hanya umat Konghucu atau Buddha, wihara tersebut kerap dikunjungi wisatawan untuk sekadar berfoto.

Dulu Ada Arak-arakan, Kini Hanya di Wihara

Warga etnis Tionghoa di berbagai belahan dunia menyambut Tahun Baru Imlek 2571 penuh gembira. Berbagai persiapan dilakukan, tak terkecuali bersih-bersih dan menyiapkan pernak-pernik.

FAUZAN DARDIRI – Serang

Asap dupa tercium lebih kuat di Wihara Avalokitesvara Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, kemarin. Nyala api lilin di sudut tempat penyimpanan terlihat lebih banyak. Lampu hias lampion bertuliskan huruf Hanzi terpasang rapi mengitari bagian atas. Cat di setiap dinding terlihat lebih cerah. Dan, di gerbang pintu terpampang ucapan selamat datang.

Seminggu terakhir petugas Wihara Avalokitesvara sibuk, berbeda dari biasanya. Raut muka bahagia terpancar di tengah kesibukan. Tiap petugas cekatan menata berbagai pernak-pernik. Tak lain menyambut pergantian tahun baru Imlek. Rutinitas tahunan, tetapi selalu jadi istimewa.

Begitu juga dengan lingkungan di sekitar wihara yang memiliki sejarah panjang itu. Sajian jajanan pedagang tetap di lingkungan mulai terpenuhi beraneka macam. Membeludaknya pengunjung tiap tahun menjadi harapan. Penataan pun tak luput dilakukan sebagai bagian dari sambutan perayaan. 

Persiapan perayaan Imlek tahun ini, tak ada yang khusus. Namun, bagi warga etnis Tionghoa, pemasangan lampion menjadi pernak-pernik khas yang tak terlepas. Hingga kini tetap tersaji. Menjaga kemeriahan perayaan pergantian tahun.

“Bersih-bersih wihara sejak dua minggu. Ya, juga pemasangan lampu lampion,” ujar Halim salah satu pengurus Wihara Avalokitesvara saat berbincang, Kamis (23/1).

Kunjungan etnis Tionghoa di wilayah Serang dan sekitarnya ke wihara membuat persiapan mulai dari penataan lingkungan hingga tempat peribadatan tak bisa dipungkiri. “Biasanya ramai pengunjung. Mulai malam Sabtu hingga besok siangnya,” kata Halim.

Tidak seperti di daerah-daerah lain, untuk daerah Serang dan sekitarnya tidak ada persiapan khusus guna menyambut tahun ini. Bahkan, Wihara Avalokitesvara Banten di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, tidak menggelar persiapan istimewa.

“Jadi biasa-biasa saja. Enggak ada persiapan khusus,” kata  Humas Wihara Avalokitesvara Banten Asaji.

Persiapan atau ritual khusus menyambut perayaan Imlek di Serang, tidak seperti di Tangerang yang ramai dan meriah dengan aneka pertunjukan seperti barongsai, wihara di Serang seperti biasanya.

“Kalau dilihat persiapannya memang kalah jauh dari Tangerang,” ujarnya.

Kemeriahan menyambut Imlek di Tangerang, menurutnya, memang didukung oleh sejumlah hal. Misalkan, jumlah wihara di Tangerang yang memang banyak dan banyak juga warga keturunan Tionghoanya.

“Jadi kalau Tangerang memungkinkan itu (untuk memeriahkan Imlek-red),” katanya.

Lelaki kelahiran 1946 itu mengungkapkan, Imlek sesuatu yang wajib dan spesial bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Ia menilai, sepinya penyambutan Imlek di Serang telah sejak lama terjadi. Kondisi itu berbeda jauh saat masa kecilnya.

“Padahal waktu saya kecil bisa setengah bulan ramainya sebelum dan sesudah Imlek,” terangnya.

Asaji menuturkan, saat dirinya kecil, banyak kegiatan yang digelar menjelang Imlek seperti pertunjukan barongsai, musik tanjidor, gambang kromong, bahkan lenong. Pertunjukan lenong berlangsung selama setengah bulan di Mangga Dua, di Jalan Kapten Suwardo, Kota Serang. Kemeriahan Imlek bahkan bertahan sampai dengan 15 hari pasca Imlek dengan adanya perayaan Cap Go Meh.

“Ramai orang bisa ribuan orang. Pawai di jalan. Tidak hanya warga Tionghoa, juga warga Serang yang muslim,” terangnya.

Kenangan yang masih terekam di kepala Asaji mengenai kemeriahan Imlek pada tahun di bawah 1960-an itu saat ini tidak bisa lagi disaksikan. Termasuk budaya gotong petekong yang dahulu ada dan saat ini lenyap. “Budaya itu sedikit demi sedikit hilang. Generasi muda Tionghoa mulai tidak peduli. Maka sekarang, hilang,” kata Asaji.

Faktor lain, warga keturunan Tionghoa yang asli Serang karena lahir di Serang sudah banyak yang meninggal dunia. Sementara warga Tionghoa yang ada saat ini di Serang kebanyakan merupakan pendatang dari Medan dan Kalimantan. (*)