Melihat Tradisi Tukar Rantang Warga Betawi Ciputat

Setiap perayaan Lebaran, ada aktivitas unik yang dilakukan warga Betawi Cirendeu, Ciputat, Kota Tangsel. Bukan sekadar bersilaturahmi ataupun berziarah ke makam, namun ada tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga sekarang yakni tukar rantang.

ADE MAULANA – Ciputat

ENTAH darimana asal tradisi ini, namun aktivitas tersebut sudah dilakukan sejak lama hingga terus berlangsung di setiap hari raya Idul Fitri. Kegiatan tukar rantang antar sanak saudara maupun kerabat dan tetangga dekat itu biasa dilakukan warga mulai sepuluh hari menjelang Lebaran, atau dua hari setelah Lebaran.

Rantang bersusun empat berbahan kaleng biasanya berisi bermacam jenis makanan ringan maupun lauk pauk seperti semur daging, ketupat sayur, hingga rendang.

Seseorang yang diberikan rantang, lantas wajib kembali mengisi makanan sejenis maupun berbeda ke rantang yang diberikan kepada kerabat yang mengantar. Dan aktivitas ini juga dilakukan oleh saudara paling muda ke saudara paling tua, maupun anak ke orang tua dan seterusnya. Aktivitas tersebut dilakukan lintas generasi hingga sekarang.

Sekjen MUI Tangsel, Abdul Rojak mengatakan, tradisi warga Betawi ini sudah menjadi kultur yang terus berlangsung dari generasi satu ke generasi lainnya yang patut dilestarikan. “Ini merupakan budaya yang dilakukan jelang dan usai Lebaran. Tentunya punya arti penghormatan antara yang muda kepada yang tua. Tukar rantang dan makanan menjadi simbol kekerabatan itu,” kata Rojak belum lama ini. Dia menambahkan, biasanya paling banyak warga Betawi melakukan pada tanggal ganjil Ramadan, seperti 21, 23, 25, 27 dan 29 sebelum hari Lebaran.

Dalam tradisi tersebut, Rojak menjelaskan lagi, selain membalas dengan makanan ringan, nasi dan lauk pauk, biasanya ada juga angpau atau amplop yang berisi uang yang disisipkan. “Bahkan ada juga amplop yang diberikan langsung kepada kerabat yang mengantar ataupun kepada anak-anaknya yang ikut,” jelasnya.

Untuk isi amplop beragam, mulai dari Rp5 ribu sampai dengan Rp50 ribu. Makanya tradisi ini juga kini menjadi ajang sejumlah anak kecil untuk mengumpulkan uang Lebaran. Maklum saja, semakin banyak orang yang diberi hantaran, akan semakin banyak amplop yang diperoleh.

Salah satu warga Cirendeu, Ciputat, Kota Tangsel Maysari mengatakan, tradisi tukar rantang sudah diajarkan sejak kecil oleh orang tuanya. “Kita dulu yang ikut-ikut orang tua bawa rantang untuk diantar dan diberikan ke rumah saudara. Nah sekarang tradisi itu harus kita turunkan juga ke anak cucu kita biar nggak hilang kemakan zaman,” tuturnya. (*)