Membumikan Pancasila di Bumi Banten

0
703 views
Dari Kiri:, Rektor UIN SMH Banten Prof. Dr. Fauzul Iman, MA, dosen pascasarjana UIN SMH Banten Dr. Ali Muhtarom, M.Si, dan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan UIN SMH Banten sekaligus ketua panitia DKT BPIP RI Prof. Dr. Wawan Wahyudin,M.Pd.

SERANG – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI bekerja sama dengan UIN SMH Banten menggelar diskusi kelompok terpumpun jejaring panca mandala dan deklarasi jejaring panca mandala Provinsi Banten di kampus UIN SMH Banten, Rabu (14/10/2020).

Acara dihadiri para pejabat BPIP RI, Rektor UIN SMH Banten, tokoh masyarakat Banten, akademisi, pers, ormas, dan perwakilan pemda.

Plt Deputi Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jejaring BPIP RI Prof Dr Adji Samekto, M.Hum mengatakan, perlu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pancasila sebagai ideologi negara sudah final,” katanya saat membuka acara.

Prof Adji mengajak semua stakeholders bekerja sama dalam membumikan nilai-nilai Pancasila terutama kepada generasi penerus bangsa. Kata dia, karakter generasi bangsa beragam sehingga perlu kerja sama untuk mengatasi tantangan-tantangan seperti penguasaan teknologi informasi dan globalisasi.

Sementara Rektor UIN SMH Banten Prof Dr Fauzul Iman mengatakan, tidak ada pertentangan antara Islam dengan Pancasila. Bahkan nilai-nilai Islam itu tercermin dalam Pancasila seperti kemajemukan, keadilan sosial, kemakmuran, kesejahteraan, kedaulatan, dan persamaan. “Pancasila harus dipahami secara substansial, jangan terjebak pada simbolik,” katanya.

Kata Prof Fauzul, perlu kerja sama semua pihak untuk membumikan nilai-nilai Pancasila sehingga dapat mengikis pemikiran radikal yang mengancam persatuan bangsa.

Sementara Direktur Bina Ideologi, Karakter dan Wawasan Kebangsaan BPIP RI Drajad Wisnu Setyawan mengataka, NKRI adalah negara bangsa (nation state). Sebagai negara bangsa merupakan keberagaman ras, suku, etnis, golongan, agama, adat istiadat, kebudayaan maupun kondisi geografis adalah unsur pembentuk negara.

“Keberagaman adalah anugerah dan takdir Tuhan kepada bangsa Indonesia yang harus kita syukuri. Mari kita jaga persatuan, kestuan dan keutuhan NKRI di Bumi Pertiwi,” katanya.

Kata dia, kondisi saat ini masyarakat terprovokasi dengan isu SARA yang akhirnya menyebabkan konflik antara suku, agama, dan golongan. Selain itu juga muncul radikalisme yang menjadi ideologi kamum tertentu.

”Semua permasalahan nasional yang melanda negara Indonesia yang kita cintai ini dapat diselesaikan dengan kembali lagi dengan mengamalkan nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila. Pancasila sebagai ideologi dan juga jati diri negara Indonesia,” tegasnya.

Pembicara lain kemarin juga adalah Eko Prasojo, dari Universitas Indonesia, dan Prof Sadu Wasistiono. Keduanya juga sepakat bahwa Pancasila harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (alt)