Memerangi Hoaks dengan Kearifan Lokal Betawi

Oleh Ahmad Lutfi, Pemerhati Sosial Tinggal di Kota Serang

Dunia media sosial (medsos) kita masih banyak diwarnai oleh berita palsu atau hoaks. Hampir setiap saat, kita disuguhi oleh isu-isu liar yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan mengisi dinding-dinding informasi di gawai. Apabila tidak cermat dan ceroboh, maka akan terkena hasutan informasi bohong tersebut.

Berita hoaks bukan tidak ada tujuan untuk disebarkan. Ia tentu punya maksud tersendiri yang sangat membahayakan terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat dan berbangsa. Di antara tujuan berita hoaks itu antara lain menyebarkan rasa kebencian, keresahan, dan ketakutan untuk memecah belah persatuan dan kerukunan antarwarga. Hoaks diproduksi dan disebarkan juga untuk menjatuhkan kelompok lain-diluar kelompoknya.

Lalu, apa sebenarnya berita hoaks itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, hoaks (hoax) adalah berita bohong. Sementara Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran. Sedangkan menurut Werme (2016), mendefinisikan hoaks sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu. Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Informasi bohong itu menyeruak ke alam pikiran kita dengan sangat cepat dan sangat mudah tanpa sensor. Sarananya lewat gawai yang kita genggam setiap hari. Lewat gawai itulah, informasi apa pun bisa masuk menyelinap. Mulai dari informasi politik, agama, kesehatan, sosial, pemerintahan, budaya, dan sebagainya. Tanpa dapat dibendung, informasi-informasi itu terus membanjiri isi kepala kita dan juga isi kepala anak-anak kita.

Namun, yang sangat disayangkan adalah kecepatan dan kemudahan mendapatkan informasi di gawai tidak dimbangi dengan sikap tabayyun dan kehati-hatian. Kita alpa untuk meneliti dan memverifikasi satu per satu informasi yang bisa diterima kapan saja itu. Dengan mudahnya, malah membagikan informasi yang belum terverifikasi kepada orang lain. Padahal informasi yang disebarkan tidak ada jaminan kebenarannya. Itulah bahayanya sifat tergesa-gesa dan tidak sabar menahan hati untuk tidak menyebarkan informasi yang belum sahih kebenarannya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada Januari 2019 menemukan ada 175 konten hoaks berhasil diverifikasi oleh Tim AIS Kemkominfo. Angka ini naik dua kali lipat di Februari 2019 menjadi 353 konten hoaks. Angka tersebut terus menanjak menjadi 453 hoaks selama Maret 2019. Sementara hoaks yang mendominasi antara lain politik, disusul pemerintahan, kesehatan, sisanya hoaks terkait isu agama, bencana alam, mitos, internasional dan isu lainnya. Isi hoaks politik berupa informasi bohong yang menyerang secara membabi buta pasangan capres/cawapres, partai politik peserta pemilu maupun penyelenggara pemilu, baik KPU maupun Bawaslu. (sumber www. Kominfo.go.id).

Sementara pada April 2019, Kominfo mengidentifikasi ada 486 berita hoaks. Jumlah yang sangat fantastis. Bisa dibayangkan, bila satu orang kembali menshare berita hoaks itu, maka korban penerima berita hoaks pun semakin membengkak. Korbannya bisa siapa saja dan dari kalangan mana saja sebab berita-berita hoaks itu berkeliaran secara massif lewat gawai.

Sedangkan Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (Mafindo) mengungkapkan bahwa dalam tiga bulan pertama di 2019 saja sudah ditemukan 320 konten hoaks, mayoritasnya bertema politik.

Melihat data-data itu, tampak jelas bahwa kabar bohong yang beredar di masyarakat terus meningkat dari bulan ke bulan. Peningkatannya pun sangat signifikan. Dinding informasi kita dipenuhi dengan kabar bohong dan ujaran kebencian yang menghasut.

Kenapa, berita bohong itu mudah sekali menyebar? Padahal, informasinya bohong dan fitnah tapi kenapa bisa terus menerus menyebar tanpa batas? Kenapa juga, orang-orang tertarik menyebarkan hoaks?

Hoaks dengan mudah menyebar cepat karena ada yang memproduksinya secara terorganisir dan rapi. Mereka berbagi peran masing-masing. Ada yang khusus membuat tema-tema hoaks, ada juga yang bertugas membagi-bagikan informasi itu kepada publik. Kelompok ini bekerja dan mendapatkan bayaran atas jasanya itu. Fakta-fakta itu terungkap saat beberapa waktu lalu, pihak kepolisian membongkar kelompok yang memproduksi dan menyebarkan hoaks. Jaringannya cukup luas dengan melibatkan banyak orang.

Mantan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo seperti dikutip laman www.beritasatu.com mengutarakan bahwa hoaks merupakan kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyaru sebagai kebenaran. Kepalsuan tersebut umumnya menggunakan data, foto dan kutipan orang, sehingga dianggap orang yang membacanya sebagai kebenaran.

Berita hoaks dapat dikenali dengan ciri-cirinya antara lain menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan; sumber tidak jelas; pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah; mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal. Lalu, memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat; judul dan pengantarnya sangat provokatif dan tidak cocok dengan isinya; minta supaya di-share atau diviralkan; menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya; dan memanipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto atau gambar yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

Tentu sangat berbahaya bila hoaks dibiarkan terus tumbuh dan menyebar. Harus ada upaya untuk menangkal hoaks dengan sekuat tenaga sehingga masyarakat terhindar dari hasutan dan fitnah yang keji. Ikhtiar harus dilakukan sebagai jalan jihad dalam membersihkan dinding informasi dari berita bohong. Bila tidak ada yang menangkalnya, akan mengancam generasi ke depan.

BAHAYANYA HOAKS
Berita hoaks sangat membahayakan karena memiliki dampak yang sangat buruk dan asosial. Ia dapat memecah belah persatuan dan kerukunan antarwarga. Gara-gara berita hoaks antarwarga bisa saling membenci dan bertengkar.

Sebagai contoh, kejadian saat Pilpres 2019 lalu. Penulis tergabung dalam sebuah grup WA yang berisi warga tempat penulis tinggal. Profesi para penghuni grup WA itu beragam. Ada yang ASN, wiraswasta, pengusaha, dosen, guru, dan sebagainya.

Saat ada salah satu anggota grup WA menshare berita mengenai informasi salah satu kandidat capres/cawapres, maka anggota lain menanggapi dengan nyinyir. Ia tidak terima dengan postingan warga-yang juga tetangga kompleksnya- itu karena yang dishare adalah hoaks terkait dengan agama yang dianut oleh salah satu pasangan capres/cawapres.

Warga yang lain pun ikut-ikutan nimbrung dalam perdebatan sengit di dunia maya itu. Hingga keluar kata-kata kasar dan kotor untuk menyerang yang tidak sepaham dengan pilihan politiknya. Keadaan semakin parah, bila ada penghuni grup memposting hoaks lain untuk menyerang hoaks tadi.

KAGAK BAKAL LARI DI UBER
Salah satu alternatif menangkal hoaks dengan mengambil nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom). Sebagai sebuah bangsa yang besar, sangat banyak kearifan lokal yang dimiliki Indonesia sesuai dengan kultur sosial masyarakat. Ia merupakan bagian penting dari budaya luhur bangsa.

Dalam sebuah artikel Satrio Arismunandar (pegiat media) menulis bahwa kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat, yang biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, melalui cerita dari mulut ke mulut dan sarana budaya lain. Kearifan lokal ada di dalam aturan adat, cerita rakyat, peribahasa, lagu, dan permainan rakyat.

Salah satu kearifan lokal di tanah Betawi adalah petuah yang sangat terkenal, ‘Kagak Bakal Lari di Uber.” Hal itu bermakna bahwa kita tidak perlu terburu-buru dalam melakukan sesuatu karena apabila hal tersebut adalah rezekinya maka akan didapatinya. Nilai yang terkandung dalam petuah itu tidak perlu tergesa-gesa melakukan sesuatu, namun tidak kenal lelah dalam mengerjakan pekerjaannya.

Tentu saja, kelahiran petuah bijak ini jauh lebih awal ketimbang kelahiran medsos dan disrupsi informasi saat ini. Petuah bijak di Betawi itu sangat relevan untuk memerangi hoaks.

Kagak Bakal Lari di Uber menyaratkan kepada kita semua agar memiliki kehatian-hatian dalam menyerap dan menyebarkan informasi yang belum tentu kebenarannya. Kita harus meneliti dan memverifikasi setiap informasi sebelum dibagikan kepada orang lain. Itu penting agar informasi yang dibagikan kepada orang lain adalah informasi yang sahih adanya. Bukan informasi bohong yang merusak tatanan sosial.

Kita dapat melakukan beragam cara untuk meneliti informasi. Salah satunya dengan rajin mengonfirmasi informasi dengan orang yang paham dengan informasi tersebut. Misalnya, informasi tentang makna jihad, maka kita dapat mengonfirmasi informasi itu kepada kiai/ulama yang benar-benar paham agama secara baik sesuai dengan tema yang dibahas dalam informasi itu.

Informasi mengenai politik maka kita dapat mengonfirmasi langsung kepada orang yang benar-benar mengerti politik dengan baik. Informasi mengenai kesehatan, maka kita dapat mengecek informasi terhadap orang yang mengerti dunia kesehatan atau dengan dokter. Dengan verifikasi itu, kita setidaknya sudah mengecek kebenaran informasi. Apakah informasi itu benar atau berita sesat yang membahayakan. Sensor diri ini harus benar-benar ditanamkan sejak awal sehingga secara otomatis ada kesadaran untuk tidak langsung mempercayai informasi yang tersebar di medsos.

Ikhtiar melawan informasi bohong dengan kearifan lokal sangat ditentukan oleh keterlibatan lembaga sosial dan sikap peduli warga. Caranya dengan mengampanyekan petuah-petuah bijak sarat makna di lingkungan keluarga, tetangga, teman, dan masyarakat. Agar efektif dan tepat sasaran, dapat menggunakan arisan rutin, pengajian mingguan, pengajian bulanan sebagai media kampanyenya. Di forum-forum warga itu, disampaikan mengenai bahayanya hoaks dan pentingnya memverifikasi informasi. Jangan bosan untuk terus menerus mengampanyekannya kepada publik pentingnya verifikasi dan kehati-hatian sehingga informasi yang diterima adalah informasi yang sehat. Dibutuhkan stamina yang cukup kuat untuk bergerilya dari satu arisan ke arisan lain, dari satu pengajian ke pengajian lain untuk mengampanyekan bahanya hoaks.

Selain itu, khutbah Jumat juga bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan bahaya hoaks kepada para jamaah. Para khatib dapat menyusun materi khutbah yang mengulas soal dosa besar menyebarkan kebohongan dan ganjaran pahala bagi yang meninggalkan kejahatan informasi. Dari atas mimbar, khatib dapat menyeru kebajikan kepada para jamaah untuk segera berpaling dari hoaks.

Khutbah Jumat merupakan sarana yang sangat ideal dalam mencapai sasaran yang ingin dicapai. Harus dilakukan secara berulang-ulang sehingga terbangun kesadaran secara komunal. Agar tidak membosankan, maka materi khutbah harus dikemas dan disampaikan dengan semenarik mungkin, tentu juga dengan bahasa yang mudah dipahami.

Kita sadar bahwa tanpa saringan yang ketat dan cerdas, maka hoaks tidak akan terbendung menyerang alam pikiran kita. Sebaliknya, dengan verifikasi yang ketat dan istikomah dalam mengonfirmasi ulang semua informasi maka penyebaran hoaks dapat diminimalisasi. Semoga. (*)