Uli sedang dibakar.

Sebagian besar warga Tangerang Selatan mungkin tahu uli bakar legendaris ini. Letaknya ada di dalam kompleks Pasar Ciputat. Uli bakar ini jadi langganan anggota legislatif, lurah, pejabat sampai artis ibu kota.

TEMPATNYA sederhana, seperti warung kopi pada umumnya. Namun, warung kopi plus uli bakar ini ternyata punya sejarah panjang. Dikenal, ditinggalkan dan dikenang. Berbagai zaman sudah dilewati, tapi eksistensi warung uli bakar ini masih bertahan.

Di tengah zaman yang serba mudah, serta keunikan aneka warung kuliner, warung uli bakar Ciputat ini masih tetap eksis. Bahkan, suasananya masih sama seperti pertama kalinya berdiri. Hampir 37 tahun warung uli ini ada di sekitaran Pasar Ciputat.

Meskipun sempat berpindah-pindah karena adanya penertiban satpol PP, kini warung uli bakar itu menetap permanen di kompleks belakang Pasar Ciputat. Diurusi oleh keluarga besar sang anak yang meneruskan bisnis ayahnya.

Radar Banten berkesempatan mampir ke warung yang umumnya digunakan bersantai oleh kuli angkut, sopir angkot dan pedagang pasar itu. Wangi dari ketan yang dibakar itu menyeruak masuk ke dalam hidung. Ditambah dengan cuaca yang cukup dingin saat itu seolah memanggil agar setidaknya mencicipi makanan khas Sunda ini.

Pemilik usaha, Ujang mengatakan, warung yang masih ada sampai sekarang ini merupakan amanat dari almarhum ayahnya yang baru saja meninggal beberapa waktu lalu. Biaya kehidupan selama ia hidup ini ditanggung sang ayah dengan berjualan uli bakar tersebut.

Rasa sayangnya membuat ia bertahan, amanat sang ayah ia jaga. Bergantian dengan keluarga yang tersisa, warung tersebut terus ia kelola. Meskipun sudah tak lagi seramai dulu. Ia tetap menjaga eksistensi warung tersebut.

Ujang mengatakan, warung ini merupakan rumah bagi banyak orang. Jika dulu dijadikan tempat nongkrong dan bersantai oleh para pengunjung. Kini yang datang ke warung tersebut adalah orang-orang yang rindu dengan rumah mereka.

”Tidak ada konsep yang kami usung di dalam membuka warung. Tapi karena kami menyaksikan perubahan zaman, pelanggan menganggap kami rumah. Karena sejak berdiri, mulai dari tungku yang digunakan sampai dengan resep yang dibuat, tidak pernah berubah. Mungkin itu yang menjadi daya tarik kami,” kata Ujang ketika ditemui di warungnya, Senin (5/2).

Jika diminta memilih, Ujang mengaku bahwa yang saat ini dia jual bukanlah uli bakar melainkan kenangan yang ada sepanjang perjalanan warung uli bakar miliknya ini. Sebab, melihat ada banyak outlet makanan, uli bakar miliknya tidak ada yang istimewa.

”Yah soalnya yang datang bukan anak muda, tapi bapak-bapak. Pejabat yang sudah berumur, dewan angkatan lama sampai artis veteran. Misalnya Karno bersaudara itu yang suka beli. Bukan karena enak, karena mungkin setiap gigitannya bikin balik ke masa jaya-jayanya uli bakar punya ayah saya,” kata lelaki berkulit putih itu.

Memang, menurut pengakuan sejumlah pelanggan yang datang pun demikian. Warung uli Ciputat ini merupakan kenangan yang tersisa dari perkembangan zaman. Mulai dari belum adanya flyover Ciputat, Tangsel yang masih merupakan Kabupaten Tangerang, sampai gedung-gedung pencakar langit yang masih berupa tanah kosong.

Salah satu pengunjung Suherman mengatakan, jika zaman sudah memakan habis lahan dan tanah kosong yang ada di Ciputat. Mereka tidak bisa membeli kenangan yang tersimpan di dalam warung tersebut.

”Setiap rasa yang ada, meskipun sederhana, ada yang selalu membuat saya flashback. Rasanya rindu dengan Ciputat tempo dulu. Nggak ada macet, nggak ada polusi. Kalaupun ada mungkin dari asap bakar uli ini,” guraunya.

Maka itu ia berharap, sampai mana pun zaman yang berganti, warung uli sederhana itu tetap harus ada. ”Soalnya kalau rindu sama orang yang nggak bisa ditemui, ya ke sini saja. Apalagi saya waktu muda itu  suka nongkrong di tempat ini, makan uli sambil ngopi. Yah seperti itu,” kata dia.  (Annisa Fitrah Laela/RBG)

 

BAGIKAN