Menelusuri Jejak Laksamana Cheng Ho: Kunjungan Balasan, Raja Brunei Meninggal

0
1.321 views
MASIH TERAWAT: Makam Raja Karna dari Brunei di Shizigang, Kota Nanjing, Tiongkok. Raja Brunei meninggal di Tiongkok saat kunjungan pada Dinasti Ming tahun 1408. Dimakamkan di bukit Shizigang dan dibangun prasasti berupa patung. FOTO: BOY SLAMET/JAWA POS

DALAM muhibahnya ke kepulauan Nusantara, Laksamana Cheng Ho juga menjalin persahabatan dengan Kerajaan Brunei. Salah seorang rajanya, Raja Karna atau Abdul Majid Hassan, dimakamkan di Nanjing. Dia sakit dan meninggal di sana saat melakukan kunjungan balasan pada 1408.

Taman Persahabatan Makam Raja Brunei

Makam Raja Karna berada di Bukit Shizigang (Bukit Kerikil). Letaknya di barat daya Kota Nanjing. Tempat itu sekarang dibangun menjadi Taman Persahabatan Tiongkok-Brunei.

Dua hari lalu (5/6) kami mengunjungi tempat tersebut. Udaranya sejuk. Suhu 19 derajat Celsius. Hujan yang mengguyur sejak beberapa jam sebelumnya membuat udara lebih dingin. Dari catatan yang ada, raja Brunei meninggal di Nanjing pada 19 Oktober 1408. ”Sampai sekarang, famili Kerajaan Brunei dan orang Brunei sering datang berkunjung,” kata Feng Mei Ying, petugas pengantar tamu di taman tersebut.

Taman itu memang belum secantik destinasi wisata sejarah lainnya di Nanjing. Pepohonan rimbun, tapi terkesan tumbuh liar. Kurang tertata. Begitu pula danaunya. Masih belum diapa-apakan.

Tapi, Feng kemudian menunjuk ke sebuah maket taman yang indah. ’’Taman ini belum jadi. Nanti tiga tahun ke depan bentuknya seperti itu,’’ katanya.

Taman itu mempunyai sebuah hall yang menyimpan banyak gambar dan dokumen terkait persahabatan Tiongkok-Brunei. Persahabatan tersebut terjalin sejak ratusan tahun lalu. Mungkin sama tuanya dengan usia persahabatan dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, seperti Majapahit dan Sriwijaya.

Sajian utama taman tersebut tentu saja makam raja Brunei. Lingkungannya cukup luas. Dari utara ke selatan panjangnya kira-kira 100 meter. Di muka makam terdapat sebuah jalan yang lebar. Di kedua tepinya berderet dari utara ke selatan lima pasang patung batu. Yakni, patung hulu balang, harimau, kambing, menteri, dan kuda. Jarak antarpatung kira-kira tiga meter.

Kemudian, berjalan ke tenggara kira-kira 70 meter, ada sebuah nisan berbentuk kura-kura. Di Tiongkok, kura-kura merupakan simbol panjang umur atau keabadian. Ada juga prasasti, tetapi beberapa hurufnya sudah hilang atau rusak. Yang masih bisa diidentifikasi sekira 200-300 kata. Isinya sebagai berikut: ”…Raja Boni…jauh terpisah puluhan ribu li (dua li = satu kilometer-red) dari Tiongkok… Baginda merasa gembira karena disambut dengan segala kehormatan dan kebesaran dan dijamu dengan aneka santapan yang lezat dan diberi cenderamata yang bernilai. Namun, tak disangka, baginda jatuh sakit setelah bertamu lebih dari sebulan…’’ Boni sendiri adalah pelafalan lidah orang Tiongkok untuk menyebut Brunei.

Menurut Feng, meski taman itu disebut taman persahabatan Tiongkok-Brunei, soal pendanaan dan operasional, semuanya berasal dari pemerintah Tiongkok. ’’Termasuk rencana revitalisasi taman itu menjadi sebuah taman hutan di tengah kota,’’ terangnya.

Hanya, Feng mengaku, tidak begitu paham detail rencana pembangunannya sampai berapa anggaran yang disiapkan. ”Saya harus bertanya dulu ke manajemen untuk soal itu. Soalnya, tugas saya adalah memandu tamu-tamu yang datang ke sini. Bukan terkait pengembangannya,” terangnya.

Menurut Feng, meski taman tersebut belum jadi dan penataannya masih sekadarnya, kunjungan masyarakat cukup tinggi. Rata-rata ada 500 orang tiap bulan. ”Kebanyakan orang umum. Ada juga peneliti sejarah yang datang. Tapi, hanya beberapa,” paparnya. ”Masyarakat kami selalu suka datang ke tempat sejarah. Anda lihat sendiri kan, selalu ramai tempat-tempat wisata sejarah,” sambungnya.

Ahli sejarah Nanjing yang juga keturunan Cheng Ho, Zheng Zhi Hai, menyatakan bahwa saat berkunjung ke ibukota kekaisaran Dinasti Ming tersebut, usia Raja Karna dari Brunei baru 28 tahun. Dia meninggal setelah 40 hari berada di Nanjing.

Zheng meyakini, Raja Karna berangkat ke Nanjing dengan kawalan armada Cheng Ho. ”Sebab, saat itu hanya Tiongkok yang mempunyai postur angkatan laut yang cukup besar,” katanya. Apalagi, Raja Karna ini membawa rombongan besar yang berisi 150 orang. ”Hampir pasti yang membawa mereka adalah armada yang dipunyai Cheng Ho,” tambahnya.

Dalam ekspedisinya, Cheng Ho memang sering mengajak raja atau utusan kerajaan yang dikunjungi untuk dibawa ke Tiongkok guna dipertemukan dengan Kaisar Zhu Di. Entah dengan maksud sebagai pengakuan kekuasaan untuk kerajaan yang lebih besar atau sekadar lambang persahabatan.

Kaisar Perintahkan Berkabung Tiga Hari

KOMPLEKS makam raja Brunei itu sempat ‘hilang’ dan tak terurus. Terutama setelah perang besar dengan Jepang di Nanjing. Perang Dunia II. Kompleks makam itu ditemukan setelah pemerintah Kota Nanjing membentuk Nanjing Cultural Relic Team. ”Tujuannya memetakan dan mengembangkan semua situs bersejarah di Nanjing,” ucap Feng Mei Ying.

Makam itu kembali ditemukan oleh tim tersebut pada 1958. Setelah sempat diteliti hampir setahun lamanya, akhirnya bisa dipastikan bahwa memang tempat itu adalah makam Raja Karna. Dibutuhkan waktu agak lama untuk mengidentifikasi karena banyak prasasti yang tulisannya sudah rusak.

Teridentifikasinya makam tersebut termasuk temuan penting. Terutama untuk melengkapi sejarah kebesaran Dinasti Ming. Sebab, itu membuktikan bahwa Laksamana Cheng Ho telah melakukan penjelajahan. Dan, kunjungan balasan Raja Karna adalah buktinya.

Dalam catatan sejarah Tiongkok, rombongan raja Brunei mendarat di Fujian, lalu menuju Nanjing dengan perjalanan darat. Catatan sejarah yang dimiliki Zheng Zhi Hai menunjukkan bahwa mereka sampai di Nanjing pada 20 September 1408. Saat itu, ibukota Dinasti Ming memang masih di Nanjing dan sedang dalam proses pemindahan ke Beijing.

Raja Brunei disambut Kaisar Zhu Di di Fengtianmen (Pintu Gerbang Penyembahan Langit). Mereka bertukar cenderamata. Kaisar Zhu Di memberikan pelana emas, sutra dewangga, tongkat, dan kursi kebesaran. Sementara itu, raja Brunei memberikan penyu karah, cula badak, peralatan yang terbuat dari emas dan perak khas Brunei.

Namun, hal malang terjadi. Genap 40 hari berada di Tiongkok, Raja Karna mendadak jatuh sakit. Meski Kaisar Zhu Di mengirimkan tabib-tabib terbaiknya, nyawa raja dari kerajaan kecil di Asia Tenggara itu tidak tertolong. ”Saya tidak tahu sakit apa. Tidak ada catatan sejarah yang menulis detail gejala penyakitnya. Hanya ditulis sakit,” kata Zheng. ”Mungkin saja, itu penyakit yang baru diketahui dunia medis pada abad ke-20, seperti kanker atau apa,” tambahnya.

Mendengar kabar duka itu, Kaisar Zhu Di bersedih. Dia langsung memerintahkan masa berkabung nasional selama tiga hari penuh. Kaisar juga mengadakan upacara pemakaman resmi kenegaraan dan mengubur tamunya tersebut di Bukit Shizigang, Nanjing. Selain itu, Kaisar Zhu Di memerintah pejabat setempat untuk mengadakan upacara duka dua kali setahun, masing-masing pada musim semi dan musim gugur untuk mengenang Raja Karna. (JPG)