Menelusuri Jejak Sakral Kasepuhan Banten Kidul (2)

0
410

Masyarakat Kasepuhan Banten Kidul sangat patuh dan taat kepada ketua adat. Bagi mereka, ketua adat adalah representasi leluhur. Perannya sangat sentral sebagai penentu segala urusan warga.

1KETUA ADAT PENENTU SEGALA URUSAN WARGA

LEBAK – Sebagai bagian Kasepuhan Banten Kidul, warga Desa Cisungsang benar-benar tunduk dan patuh pada semua perkataan ketua adat. Mulai dari urusan hajatan hingga bercocok tanam.

Warga di sana hidup dengan tiga hukum sekaligus; hukum adat, agama, dan negara. Namun, dari semuanya itu, hukum adat lebih utama sebagai panduan menjalankan kehidupan sehari-hari. “Termasuk dalam urusan bercocok tanam yang merupakan mata pencaharian pokok masyarakat kasepuhan,” kata  Henri Hatra Wijaya, Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang kepada Radar Banten, Sabtu (10/9) pekan lalu.

Juga, setiap warga yang memiliki gawe hajat, selalu melakukan konsultasi dengan ketua adat. Dalam istilah mereka disebut carita-carita. Sebuah tradisi menyampaikan suatu kepentingan kepada ketua adat melalui tradisi lisan atau bertutur.

Bukan cuma urusan pertanian, ketua adat juga yang menentukan kapan digelar upacara adat seperti seren taun, opat belas (ritual adat bulan purnama), muludan (Maulid Nabi). Termasuk urusan pribadi masyarakat seperti pernikahan, penentuan hari baik pernikahan, posisi baik pelaminan, dan lain-lain. Bahkan warga Cisungsang yang akan merantau, juga wajib meminta petunjuk ketua adat.

Mereka sangat percaya, semua itu dilakukan agar didoakan ketua adat dan tidak salah melangkah dalam menentukan pilihan. “Ini cara kami membangun komunikasi antara masyarakat dengan ketua adat atau orang tua leluhur. Tradisi ini sudah dijalankan secara turun-temurun,” kata pria yang akrab disapa Abah Henri itu.

Menurut Abah Henri secara berurutan, Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang dimulai dari era kepemimpinan Mbah Buyut atau Mbah Ruman yang konon hidup selama 350 tahun. Selanjutnya, generasi kedua ketua adat dipimpin Uyut Sakrim (250 tahun), ketiga Olot Sardani (126 tahun). Dan generasi keempat Abah Usep Suyatma yang kini berusia 47 tahun.