Menelusuri Perajin Petasan Tradisional di Pagedangan Tangerang

0
137
Petasan yang disita polisi di Kampung Undrus, Desa Cijantra, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Selasa (31/10).

TANGERANG – Kampung Undrus mendadak tenar. Polisi menemukan 25 karung berisi petasan renceng di sebuah gubuk di pinggir sawah di wilayah yang masuk Desa Cijantra, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Selasa (31/10) malam. Hingga kini, sang pemilik gubuk Ade Mukhtar belum dicokok. Perajin mercon musiman ini masih siap melayani pertanyaan wartawan.

Kampung Undrus berada sekitar satu kilometer dari Jalan Legok Karawaci, Kabupaten Tangerang. Lokasinya dikelilingi persawahan. Sepertinya, hanya di kampung tersebut, sebagian besar warganya masih bertani di tengah belantara hutan beton properti BSD City dan Summarecon Gadingserpong.

Menuju ke sana kita harus melewati Desa Legok. Jalan beton terputus sebelum memasuki daerah paling ujung Kecamatan Pagedangan tersebut. Suasana kampung terasa sejuk. Rimbunan pohon masih menutupi atap rumah.

Belasan orang tampak berkumpul di sebuah gubuk penggilingan padi. Seorang pria berpakaian rapi dan bersarung langsung mendatangi wartawan saat ditanyakan lokasi penangkapan. Wajah Ade Mukhtar tampak gelagapan. Suara Ketua RW 06 Kampung Undrus terdengar pelan.

Ada nada ketakutan saat ditanya soal penangkapan salah seorang warganya. Ada delapan orang yang kesemuanya warga terlihat berkumpul di depan rumahnya, seperti ingin mengetahui ujung pembicaraan wartawan dan Ade Mukhtar di teras rumahnya.

”Warga kami memang ada yang jadi perajin tapi bukan pabrik seperti kejadian di Kosambi,” ujarnya sembari membandingkan kejadian tragedi 48 korban terpanggang di PT Panca Buana Cahaya Sukses, Kosambi, Kamis (26/10) lalu.

Baca Juga : Polresta Tangerang Sita 11 Gulung Petasan Jumbo

Ade dan warga lainnya seperti sengaja merahasiakan sesuatu. Ya, Ade masih berstatus tersangka dalam kepemilikan barang peledak tersebut. Sepertinya ia tak ingin berita penggerebekan itu merusak citra nama kampungnya. Dengan nada perlahan, ia menjelaskan bahwa telah lebih dari 1—100 selalu ada warganya yang melestarikan kerajinan petasan renceng tersebut. Namun, baru kali itu mereka ketiban sial.

”Mungkin ada 100 tahun, kami kan kebanyakan orang dari Jakarta yang pindah ke sini jadi kalau buat petasan ya cuma musim nikah yaitu bulan haji saja (Dzulhijjah-red), bukan untuk yang aneh-aneh,” terangnya.

Ia menjelaskan, bahwa produksi petasan hanya berlangsung saat musim haji dan menjelang liburan. Dijelaskannya, petasan dibuat oleh para perantau dari Jakarta. Namanya juga industri rumahan, hampir semua anggota keluarga ikut bekerja. Ada yang meracik adonan petasan, mengemas, mengepak dan seterusnya.

Bagi warga Kampung Undrus misalnya, pembuatan petasan merupakan usaha turun-temurun yang ditekuni lima generasi yang lalu. ”Pembuatan petasan hanya berdasarkan pesanan dari sahibul hajat yang tengah melangsungkan pernikahan,” terang pria yang bekerja sebagai agen tiket Bus Bulan Jaya tersebut.

Saat disinggung siapa pemasoknya, Ade enggan berkomentar. Sebagai perajin, warganya yang menjadi perajin ini hanya menciptakan petasan khusus renceng yang panjangnya bisa mencapai lima meter yang suara ledakannya bisa memekakkan telinga. Sulit dipungkiri, sentra pembuatan petasan dan kembang api ini menyerap banyak tenaga kerja.

Lokasi penggerebekan sendiri berada di belakang rumah Ade. Diantar seorang petani, wartawan diajak ke lokasi. Petani tersebut seperti memegang radio dual band (Handy Talkie-red) entah dengan siapa dirinya berkomunikasi.

Jarak gubuk petasan dengan rumah Ade hanya 100 meter. Menuju ke sana kita harus melewati titian lahan persawahan yang disewa warga dari pemilik tanah. Sebuah gubuk setinggi dua meter masih dikelilingi garis kuning polisi. ”Belum ada setahun, kang,” ujarnya.

Belakangan, Polres Tangsel bertindak tegas dan melarang produksi petasan, imbas dari ledakan pabrik petasan di Kosambi. Tak heran, kebijakan ini sempat membuat takut sejumlah perajin di sana. Selasa (31/10) malam, gudang tersebut digerebek Tim Vipers Polsek Pagedangan setelah mendapatkan laporan warga terhadap keberadaan pabrik petasan tradisional tak berizin itu.

Dalam penggerebekan itu, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya 25 karung petasan berdiameter 5 cm, 24 petasan berdiameter 2 cm. Selain itu juga disita 2 kg potasium, 10 kg belerang, 6 renceng sumbu petasan, 9 karung cangkang petasan kosong, 2 karung berisi koran bekas untuk bahan selonsong petasan. Selain itu juga turut disita beberapa alat pembuatan petasan berupa palu kayu dan cangkang ukuran besar dan kecil. (Togar/RBG)