Menengok Kampung Panebongcurug, Juara LKBA 2019

0
436 views
Warga RW 02, Kampung Panebongcurug, Desa Namboilir, Kecamatan Kibin, kompak gotong royong membuat sarana mencuci tangan, Kamis (1/10).

Optimistis Pertahankan Gelar Juara, Warga Makin Kompak

Meraih juara Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang bukan perkara mudah, tapi mempertahankan gelar juara bakal menjadi perjuangan lebih berat. Hal itulah yang kini dialami warga RW 02, Kampung Panebongcurug, Desa Namboilir, Kecamatan Kibin, juara LKBA Kabupaten Serang 2019 kategori Kampung Berkembang.

Haidar – Kibin

Siang itu, Kamis (1/10) terik matahari begitu menyengat, tapi hal itu tak membuat warga Kampung Panebongcurug berhenti gotong royong. Bapak-bapak dan pemuda terlihat sedang mengaduk semen untuk lokasi tempat mencuci tangan, gadis remajanya membereskan buku-buku di perpustakaan, sedangkan ibu-ibunya menyiapkan makan siang.

Suasana penataan di kampung ini terasa semarak dengan berbagai hasil penataan warga, mulai dari pot tanaman hijau, tong sampah dari ban bekas yang dicat warna-warni, hingga pos ronda yang sudah dilengkapi dengan alat keamanannya.

Untuk diketahui, pada LKBA 2019, warga RW 002 kerja keras selama tiga bulan hingga bisa meraih gelar juara. Mereka menata kampung mulai dari membersihkan sampah dan mendekorasi kampungnya.

Perubahan wajah kampung ini sangat terlihat di pos ronda yang terlihat rapi. Sarananya pun cukup lengkap. Selain itu ada Taman Cinta yang menjadi spot swafoto, serta taman baca hingga tempat kreasi cinderamata pemuda Panebongcurug.

Kesiapan Panebongcurug dapat dilihat dari ketersediaan bak sampah, drainase, dan ruang terbuka hijau. Tanaman dan bunga tak hanya berada di beberapa taman yang dibangun warga. Akan tetapi, juga ditanam di seluruh halaman rumah warganya.

Selain dekorasi kampung yang maksimal, salah satu kunci sukses warga meraih juara ialah penyambutan yang meriah untuk tim juri. Berbagai pertunjukan ditampilkan warga, mulai dari seni tari tradisional, seni pencak silat, hingga anak-anak yang berseragam polisi. Begitu pun dari antusias warga yang hadir saat proses penilaian.

Sisi keamanan dari kondisi empat pos ronda di Panebongcurug sangat layak. Artinya, warga antusias dan peduli terhadap keamanan lingkungannya. “Setiap malam, warga aktif melaksanakan gotong royong,” kata Jamal, salah satu penggerak kegiatan gotong royong warga Kampung Panebongcurug.

Jamal mengakui, perjuangan LKBA 2020 ini lebih berat karena warga harus tetap gotong royong di masa pandemi Covid-19. Kendati demikian, ia mengaku akan terus berupaya untuk mempertahankan gelar juara. “Harus tetap semangat, corona jangan dijadikan alasan,” ujarnya.

Jamal sadar, banyak kampung lain yang mungkin bakal lebih siap bersaing memperebutkan gelar juara. Oleh karena itu, ia bersama warga lainnya memiliki strategi penataan untuk bisa kembali mencuri hati tim penilai. “Penataan tahun ini kita lengkapi juga sarana protokol kesehatannya,” serunya.

Sarana protokol kesehatan itu, kata Jamal, terdiri dari tempat mencuci tangan, ruang isolasi mandiri, serta lumbung pangan warga. Semua itu warga penuhi lantaran kampung ini juga ditunjuk oleh Pemerintah Kecamatan Kibin sebagai lokasi Kampung Tangguh Nusantara.

Sementara itu di Kecamatan Carenang, Warga RW 02, Kampung Walikukun, Desa Walikukun, yang pada LKBA tahun lalu mendapat dua nominasi juara, yakni juara pertama Kampung Terinovatif dan Aman serta juara pertama pengelolaan lingkungan terbaik dan aman kini sudah melakukan penataan. Warga membuat taman cinta dan gedung tua.

Ketua RW 02, Madroni Saputra mengatakan, warga sudah mulai gotong royong membersihkan kampung sejak Agustus. Taman cinta, kata Madroni merupakan hasil kreativitas dari Ketua RT 05 Rodiah bersama ibu-ibu dan pemuda. Di taman ini, terdapat spot foto berupa tempat duduk pengantin yang terbuat dari bambu yang dicat warna-warni lengkap dengan tanaman bunga. “Jadi filosofinya, kalau ada pemuda yang masih jomblo terus foto di sini, langsung dapat pasangan,” kata Madroni.

Sedangkan gedung tua, merupakan rumah tua milik warga yang akan dihias dengan cat warna-warni dan ditambah spot foto serta taman hijau. Namun proses pembuatan hiasan di gedung tua ini baru dimulai pekan depan. “Nanti kita buat gedung tua ini menjadi bagus tapi tetap ada nilai seninya,” ungkap Madroni.

Ketua RT 05 Rodiah menambahkan, dengan modal juara tahun lalu, kekompakan dan semangat warga dalam menata kampung semakin besar. “Bukan cuma gotong royong bersih-bersih aja, tapi swadayanya juga berjalan,” ujarnya.

Kepala Desa Walikukun, Asep Faturrohman menambahkan, tak ada target khusus yang ingin dicapai. Namun dia hanya meminta kepada warga untuk terus menjaga kekompakan. “Harus timbul kesadaran dari hati untuk memperindah kampung, itu yang kita inginkan,” katanya.

Asep menilai, partisipasi warga dan kelompok pemuda di RW 02 sudah bagus, itu menjadi modal besar untuk memenuhi kriteria lainnya. “Nanti tinggal bikin inovasinya berupa pengolahan sampah bernilai ekonomi dan perbanyak tanaman bunga,” pungkas Asep. (*)