Mengenal Ahmad Quyom, Juara MTQ Tingkat Nasional 2015 Asal Serang

0
911 views
Ahmad Quyom sedang berfoto di samping piala hasil prestasinya di MTQ.

Pada 2015, Ahmad Quyom yang baru berusia 10 tahun menjadi qari terbaik se-Indonesia pada ajang MTQ Nasional di Kota Bekasi. Ia membawa pulang piala untuk kategori tilawah tingkat sekolah dasar. Seketika, namanya banyak dikenal orang, tak terkecuali di Provinsi Banten dan kampung kelahirannya di Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.

Sebelum menyabet qari terbaik tingkat nasional, remaja berbadan kurus pasangan Jahroni (40) dan Siti Rohmah (34) ini memiliki sederet prestasi di kejuaraan MTQ. Berawal dari juara umum MTQ Kota Serang pada 2013 saat berusia delapan tahun. Dan yang teranyar pada ajang MTQ Provinsi Banten 2016 ia pun menyabet juara umum.

Prestasi dan kemampuannya itu tidak didapat dari bangku sekolah atau pun les private, akan tetapi di belakang Quyom selalu ada orangtuanya yang membina. “Sambil main, saya ajarkan qari, jadi belajarnya tidak formal,” kata Jahrani, ayahanda Quyom kepada Radar Banten, Selasa (21/2).

Setelah kemampuannya didengar publik, Quyom sering kali mendapat undangan dari berbagai daerah untuk sekadar menjadi qari pada suatu acara. Kini Quyom memang semacam qari kondang papan atas yang banyak mendapatkan tawaran mengaji. Paling sedikit, ada tiga panggilan yang datang di setiap pekan. “Kadang satu minggu itu full,” katanya.

Ahmad Quyom berfoto bersama keluarga di rumahnya

Bahkan, anak keempat dari delapan bersaudara itu pernah diminta untuk mengisi salah satu acara di Hongkong. Namun, terpaksa ditolak. Penolakan dilakukan bukan tanpa alasan, tetapi lantaran Quyom harus mendahulukan permintaan undangan di berbagai wilayah di Indonesia. “Pernah ke Tasikmalaya, jadi mendahulukan yang mengundang duluan, bukan soal imbalan karena kita tidak pernah mematok,” kata Jahrani yang ditemui ketika berobat di sebuah klinik di Baros, kemarin siang.

Dari imbalan hasil qarinya di berbagai daerah itu, Quyom mampu meraup rezeki hingga dapat membiayai saudara-saudaranya yang sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren. Dua kakaknya kini tinggal di pondok pesantren di daerah Barugbug, Padarincang. Sementara satu lagi menuntut ilmu di pondok pesantren di daerah Sindangheula, Kecamatan Pabuaran. Sedangkan Quyom kini sedang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Cipocok Jaya, Kota Serang, dan duduk di bangku kelas satu pada sekolah menengah pertama. Ia menanggung seluruh biaya  pendidikan kakak-kakaknya selama di pesantren. “Ya itu kemauan dia sendiri,” ujar Jahrani.

Selain membiayai saudara-saudaranya, Quyom juga kerap membantu ekonomi keluarga. Jahrani yang sehari-hari hanya seorang petani dan guru mengaji di kampungnya itu tak jarang menerima berkah dari prestasi Quyom. “Kalau kita sebenarnya tidak melihat materinya, tapi berkahnya,” jelasnya.

Jahrani menyebutkan, selain Quyom ternyata anak-anaknya yang lain juga sedang menekuni bidang keagamaan. Dua kakak Quyom menekuni bidang kitab kuning, satu kakaknya bidang tahfiz. Sedangkan adiknya yang masih berusia tujuh tahun sedang mengikuti jejak Quyom di bidang qari. “Adiknya nanti mau ikut di MTQ tingkat kecamatan,” jelasnya.

Dengan prestasi dan sikap Quyom, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Jahrani dan keluarganya. Ia bercita-cita agar Quyom tumbuh menjadi anak yang berguna bagi keluarga dan orang-orang di sekelilingnya.

Komitemen Jahrani untuk menanamkan nilai-nilai agama pada anak-anaknya itu didasari karena kekhawatiran masa depan anak-anaknya. Menurutnya, nilai-nilai keagamaan adalah fondasi hidup agar tidak terjerumus sifat tercela. Selain menularkan kepada anak-anaknya, Jahrani juga berbagi ilmu keagamaan kepada murid pengajiannya di kampung. “Saya tidak punya pesantren, hanya mengajar mengaji di rumah saja. Kadang mereka juga diajarkan qari,” tuturnya. (A Rozak/Radar Banten)