SERANG – Tinggal di pesisir Karangantu, hidup melaut mencari ikan, beranak-pinak, membentuk sebuah perkampungan bernama Kampung Baru Bugis, Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Mereka orang rantauan asli Makassar. Tertarik ke Banten, mula-mula melihat satu kawannya sukses hidup di bumi kesultanan itu. Ya, melaut sebagai mata pencarian mereka, membuat si Bugis kaya-raya dan dihormati di tanah kelahirannya. Itu sepenggal kisah leluhur mereka yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Mereka berduyun-duyun berlayar gunakan perahu pinisi. Sebulan terombang-ambing di lautan. Dari Makasar menuju Kasemen, Banten. Perjuangan yang tak biasa, juga jangan dianggap sepele.

“Katanya karena tertarik ke Banten, mau nyari nafkah.
Orang sepuhnya udah pada nggak ada. Yang tau sejarah detilnya itu, orang-orang dulu. ,” kata Muhamad Yunus di sebuah warung, Kampung Baru Bugis, Kota Serang, Minggu (8/10).

Tak tahu persis mula datang, orang Bugis menginjakan kaki ke Banten. Namun, kata Ketua RT Kampung Bugis Muhamad Yunus sekira 1950-an. Ia satu dari ribuan warga Bugis yang menetap di pesisir Karangantu. Konon, hidup melaut menjadi tradisi bagi mereka.

Sayangnya, saat ini, ikan tidak terlalu melimpah seperti dulu. Oleh sebabnya, warga Bugis banyak beralih profesi, bukan nelayan lagi. Meski sebagian masih mempertahankan pekerjaan itu.

“Anak yang udah besar, biasanya kerja di pabrik, perusahaan. Kalau yang tua, itu yang nelayan,” ucapnya.

Yunus beserta 300 kepala keluarga lainnya, jarang mudik ke Makassar. Mereka sudah senang hidup di Banten. Berbaur bersama warga Banten. Bahkan, bahasa Jaseng dan Sunda Banten pun mereka paham, pun piawai mengucapkannya. Namun demikian, orang Bugis ini tetap menjaga tradisi, bahasa dan budaya adat Bugis.

Ketika Radar Banten Online menelisik adat Bugis, mereka paham betul tradisinya. Misalnya, adat pernikahan.

Ada tradisi mapenredui (narik duit). Pihak keluarga perempuan meminta uang panai, semacam mahar. Bila deal, antara pihak perempuan dan laki-laki, tinggal tentukan tanggal pernikahannya saja.

Sehari sebelum akad nikah, orang Bugis biasa adakan tudang peni (duduk malam). Dalam kegiatan itu, mereka gelaran makan bersama. Kemudian berzanji, semacam hiburan main gapleh hingga subuh.

“Ada acara mapaci, yakni pengantin perempuan dipakaikan daun pacar dan daun nangka di telapak tangannya,” kata Suryani, warga Kampung Bugis, Kota Serang, Minggu (8/10).

Suryani mengatakan, adat pernikahan Bugis hampir serupa dengan adat Sunda. Yang membedakan dari pakaian dan istilah saja. Misalnya ngunduh mantu, di Bugis ada istilah marolah semacam seserahan pihak laki-laki diberikan pada keluarga perempuan.

Dalam tradisi pernikahan, otomatis banyak makanan khas Bugis. Kata Suryani, ada tumpi-tumpi, salonde, onde-onde, barongko dan masih banyak lagi.

“Pas pernikahan itu, ada 50 jenis makanan. Ada telur digantung nanti warga pada rebutan. Pokonya banyak,” ujarnya.

Bila ingin tahu tradisi pernikahan Bugis, datanglah ketika pesta pernikahan. Semua tradisi Bugis akan dipakai dan digelar sesuai kebiasaan leluhur orang Makasar.

Terakhir, Suryani mengajarkan pada RBO bahasa sehari-hari mereka. “Joka-joka itu jalan-jalan. Mandre itu artinya makan. Taloleka artinya mau kemana,” katanya sambil tertawa.

Meski tradisi mereka masih bertahan, sayangnya anak Bugis yang lahir di Banten tak paham betul bahasa Bugis. “Kalau kata pemerintah sih, suruh ngajarin anak pake bahasa Bugis biar nggak luntur budayanya,” ucap Suryani.

Sebagaimana permukiman pesisir, banyak perahu-perahu parkir di dermaga. Di beberapa titik, warga Bugis tengah menjemur ikan hasil laut yang mereka tangkap. Di tempat itu pun, orang Bugis berjualan ikan.

Sekilas memang tiada berbeda antara warga Karangantu dan warga Bugis. Perbedaannya ada pada cara berbicaranya yang teramat keras. Jangan diambil hati kalau berpapasan bersama mereka.

“Kebiasaan orang Bugis, emang gaya bicaranya keras,” kata Suryani. Namun, mereka sangatlah ramah, baik dan terbuka dengan orang-orang disekitarnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).