Mengenang Geng-geng Tahun 1980-an (1): Ngebut Pasti Dikejar Marsose

SERANG – Istilah geng atau gangster mungkin tak asing lagi didengar. Dalam film layar lebar, keberadaan geng identik dengan dunia hitam yang penuh dengan kekerasan. Virus film gangster yang marak pada era 80-an itu juga merasuki kehidupan anak-anak muda pada zaman itu. Termasuk melanda anak-anak muda di Serang dan Tangerang.

Di Kota Serang (dulu Kabupaten Serang), era 80-an berdiri sejumlah geng. Beberapa di antaranya terkenal sampai sekarang. Itu dapat dilihat di tembok-tembok atau di belakang mobil truk atau angkot. Geng-geng itu di antaranya Marsose, Belfast, Original, Sadigo, Marsieles, Seak, dan lain-lain.

Beberapa nama geng merupakan singkatan. Salah satunya Sadigo. Kepanjangan dari ‘Salah Dikit Golok’. Sekilas, mendengar namanya membuat orang merinding bercampur ngeri. Geng ini didirikan Muchtar Imi. “Memang dari mana tahu Sadigo?”  tanya Muchtar Imi mengawali perbincangan santai dengan Radar Banten, kemarin siang, di rumah rekan Muchtar di Penancangan, Kota Serang.

Geng Sadigo tidak berumur panjang. Geng ini cuma berumur dua tahun (1980-1982). Meski cuma dua tahun, Muchtar Imi mengklaim anggotanya terbilang fantastis. Total anggotanya ada seribuan lebih. Sementara, anggota aktifnya mencapai 200 orang.

Nama Sadigo memang terkesan seram. Namun, anggotanya tak seseram namanya. Nama Sadigo tercetus secara spontan karena latar belakang rata-rata anggotanya berasal dari Kecamatan Ciomas dan Pabuaran yang identik dengan kampung jawara Serang.

Diakui Muchtar, ada beberapa anggota Sadigo yang memang kerap terlibat dalam perkelahian. Sekira 1982, Geng Sadigo membubarkan diri. Itu setelah markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) berdiri di Banten. Anggota Kopassus sering menyoroti sepak terjang anak-anak Sadigo.

Padahal, kata Muchtar, banyak sisi positif yang dilakukan geng Sadigo. Misalnya, kegiatan sosial sunatan massal, aksi galang dana untuk anggota yang hajatan, atau sekadar touring ke Malingping atau Pandeglang. “Kita keliling pakai motor bebek 70-an,” kenang Muchtar yang kini menggeluti usaha konstruksi ini.

Nama Sandigo kini tinggal kenangan. Namun, namanya masih ada sampai hari ini. Terbukti masih banyak angkutan kota dan truk dari Ciomas yang menempeli dengan tulisan “Sadigo”.

Selain Sadigo, geng lainnya adalah Marsose. Diambil dari sejumlah literasi sejarah diketahui, nama Marsose dikenal sebagai Korps Militer Belanda yang kejam pada zaman Perang Aceh di era 1873-1942. Marsose dibentuk untuk membumihanguskan tanah Aceh.

Tidak demikian dengan Marsose yang dibentuk di Serang era 80-an. Geng Marsose itu kepanjangan dari Markaz Orang Serang. Sebuah geng yang anggotanya para pelajar yang hobinya suka balapan motor liar.

Bagaimana sepak terjang Marsose? Salah satu mantan anggota Marsose, Hendri Gunawan menceritakannya. Suami dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Serang sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Serang Ida Rosida Lutfi ini mengisahkan Marsose dibentuk sejumlah pelajar SMPN 2 Serang pada 1981 yang merupakan gabungan adik kelas dan kakak kelas.

Mereka punya hobi yang sama; kebut-kebutan motor. Marsose ini geng yang anggotanya semua laki-laki. Karena pada masa itu di sekolah juga ada geng perempuan bernama Marsieles.

Namanya juga anak muda, aktivitas geng Marsose juga tak lepas dari kenakalan remaja pada masa itu. Sejumlah anggotanya kerap minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang. Saat itu tenar dengan nama pil BK. Selain itu, mereka kerap mengganggu ketertiban umum dengan memanfaatkan jalan untuk trek-trekan motor.

Namun, menurut Hendri, sikap anggota Marsose terbilang santun sesuai komitmen awal pembentukan geng. Baik terhadap warga maupun geng lain. Lebih utama, anggota Marsose selama enam tahun berdiri dari 1981 sampai 1987 tak pernah bertindak anarkistis.

Rata-rata anggota Marsose menggunakan motor Yamaha RX King Cobra. Tentunya, yang punya motor itu bukan pelajar sembarangan. Mereka berasal dari kalangan menengah ke atas. Termasuk Hendri yang orangtuanya berasal dari kalangan pengusaha.

“Era 80-an kan tidak ada sistem kredit. Masih jarang yang punya motor, apalagi pelajar,” ujar pria berkumis tebal tersebut.

Lantaran itu, geng Marsose makin disegani para pelajar dari sekolah lain. Sejumlah pelajar dari SMA Mardiyuana serta SMP dan SMA lainnya di Serang menjadi anggota Marsose. Bahkan, pelajar dari luar daerah seperti dari Jakarta dan Lampung. Nama Geng Marsose pun makin berkibar dan menjadi penguasa kawasan Alun-alun Serang.

Anggota aktif Marsose saat itu mencapai lebih dari 200 pelajar. Daerah tongkrongan Marsose seringnya di jalan sekitar pendopo lama Gubernur Banten. Bahkan, pendopo gubernur lama-dulunya gedung keresidenan- dijadikan markas Marsose. Siang menongkrong di monumen alun-alun, sorenya di Pasar Lama.

Anggotanya ditandai kaus warna merah dengan celana panjang corduroy atau jeans cutbray bertuliskan nama geng ‘Marsose’ di bagian dada. Kaus dibuat di Bandung, Jawa Barat. Ciri lainnya, motor anggota ditempeli stiker Marsose di bodi samping. Rata-rata motor dipreteli atau istilahnya telanjang. Semua motor rata-rata dikorek.

“Tidak ada pola recruitment, yang mau gabung silakan saja, kita terbuka,” tegas lulusan D-3 Jurusan Manajemen Perbankan, Perbanas, Jakarta Selatan tersebut.

Hampir setiap hari anggota Marsose ada saja yang menongkrong terutama malam minggu. Aktivitasnya berkumpul, gitar-gitaran, minum-minuman keras, dan trek-trekan liar. Ketika ada motor yang mengebut di depan mereka, langsung dikejar dan ditantang balapan.

“Memang dulu ada rasa ingin nunjukin siapa aku. Tapi, kita santun tidak pernah mengarah ke anarki. Ketika yang kita kejar mundur, ya kita juga balik kanan,” tegas anak kelima dari enam bersaudara tersebut.

Meski rada bengal, anggota Geng Marsose banyak yang terlibat aktif di sekolah. Hendri pun mengaku miris melihat geng-geng saat ini yang dinilainya lebih banyak mengarah kepada unsur kriminal dan tidak punya etika. “Dulu kita liar, tapi ke orang lebih dewasa tetap hormat. Dengan geng lain, miss-komunikasi pernah, tapi bisa diselesaikan secara damai,” katanya.

Kata Henderi, selama ngetrek motor tidak ada yang namanya taruhan, melainkan sekadar untuk bersenang-senang. Tak jarang aksi roda gila para rekannya itu terkena razia polisi hingga morat-marit. “Razia seringnya malam minggu ketika rame-ramenya anggota Marsose ngetrek,” kata Henderi.

“Dulu, mana ada bocoran? Ponsel saja enggak ada. Kalau ketangkap, paling ditanyai surat-surat kendaraan saja sambil dibina, sudah begitu dilepas lagi,” tambah pria kelahiran 19 Oktober 1968 itu.

Geng lain yang menjadi saingan Marsose saat itu, yakni Belfast yang dihuni para pelajar SMPN I Serang dan Original. Namun, akhirnya Marsose dan Belfast bergabung pada 1987 dan berubah haluan ke motocross tergabung di Ikatan Motor Cross Serang (IMCS).

“Sekarang komunikasi dengan anggota tetap jalan dengan yang masih ada di Serang. Sudah banyak yang sukses, banyak yang jadi pengusaha, salah satunya Duce (panggilan Ayib Najib, mantan anggota DPRD Banten),” ungkap Hendri yang nikah pada 7 oktober 1995 dan menghasilkan dua anak tersebut dari buah perkawinannya itu. (Nizar S-Supriyono/Radar Banten)