Mengenang Geng-geng Tahun 1980-an (2): Seak, Berandalan yang Punya Karya

Geng 80-an

SERANG – Selain Marsose dan Sadigo, Radar Banten juga mengupas kisah geng pemuda Serang. Namanya geng Seak. Sebuah geng yang keberadaannya melegenda di Serang.

Seak. Nama geng itu terinspirasi dari jenis burung‎ yang suka keluar malam alias burung hantu. Soalnya, aktivitas anggota Seak lebih banyak pada malam hari.

“Seak itu nama burung hantu, saat itu kedengarannya sangar dan keren makanya kita namakan perkumpulan dengan nama Seak. Meski belakangan berkembang, Seak itu kepanjangan dari Sekelompok Anak Kaking,” kata Tb Lulu Kaking, pendiri Seak sambil tertawa menceritakan sejarah nama gengnya dulu.

Awal membentuk geng saat itu hanya untuk gagah-gagahan saja. Awalnya yang tergabung dalam Seak punya hubungan keluarga alias teman se-kampung‎. “Awalnya kami sering bermain bareng sepulang sekolah. Kalau libur sekolah kami nongkrong sampai larut malam,” kata Lalu.

Untuk mendapat pengakuan dari orang lain, geng Seak membuat logo yang mencerminkan identitas. Dengan logo itu, nama geng Seak dikenal tidak hanya di tempat tongkrongan, yaitu di Pasar Royal dan Taman Sari, tapi juga terkenal hingga di sekolah. “Dengan membuat geng, tidak ada yang berani macam-macam sama kita,” tuturnya.

Di awal 80-an, anggota inti Seak ada 50-an orang. Sementara, jumlah simpatisannya mencapai ratusan orang. Seiring bertambahnya usia anggota Seak, kegiatan mereka menuju ke arah positif.

“Kita tidak mau hanya dikenal sebagai tukang bikin onar, tukang berantem, dan geng rusuh. Kami menggelar konser musik untuk tujuan amal,” katanya.

Hasilnya, grup band Koes Plus dan Panbers bisa manggung di Serang. Hasil penjualan tiket konser Koes Plus disumbangkan untuk membantu pembangunan RS DKT (RS Kencana-red),” sambung Lulu.

‎Niat anak-anak Seak menggelar konser amal Koes Plus tidak mudah. Konser yang awalnya akan digelar di halaman Bioskop Berita Serang tidak mendapatkan izin dari kepolisian. Namun, tekad Lulu dkk sudah bulat. Konser Koes Plus akhirnya dipindah ke gedung pertemuan umum (GPU) tidak jauh dari Makorem.

“Karena saya kuliah di Jakarta, jadi bisa mengundang Koes Plus ke Serang. Saat itu kita mengundangnya dengan melakukan konvoi motor dari Serang ke Cipete Jakarta,” tutur Lulu.

Sukses menggelar konser Koes Plus, geng Seak kemudian mengundang grup Panbers untuk konser di GPU beberapa bulan kemudian. Sejak menggelar kegiatan itu, Seak pun semakin dikenal luas tidak hanya tukang bikin onar, tapi sebagai kelompok pemuda kreatif.

“Kalau urusan berantem, Seak tetap nomor satu. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa berandalan pun bisa membuat karya yang elegan,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Seak pun sering menggelar berbagai kegiatan dan perlombaan. Mulai dari lomba balap sepeda hingga turnamen bola basket di Alun-alun Serang.

“Kami juga melakukan pencitraan pada aparat kepolisian, hampir setiap kejuaraan tim Seak selalu juara. Untuk lomba balap sepeda, kita merekrut tukang becak kemudian dilatih. Makanya, tidak heran kalau tim Seak juara. Kalau turnamen basket, saya sengaja mendatangkan tim basket dari Trisakti untuk membela klub basket Seak,” kata Lulu sambil terbahak-bahak.

Kendati geng Seak sudah mulai melebarkan sayap pada hal-hal yang positif, bukan berarti anggota genk Seak tidak akrab dengan sel. Lulu dkk akrab keluar masuk penjara gara-gara berkelahi di tempat tongkrongan. Saking seringnya membuat ulah, orangtuanya pun sudah tidak aneh lagi kalau ada polisi yang mencari-cari Lulu ke rumahnya.

“Pernah saya dan kawan-kawan usai tawuran dikejar polisi hingga ke rumah. Saat itu kami lebih dari lima orang sembunyi di dalam rumah. Kemudian polisi datang, bukannya dibelain, orangtua saya malah mengambil senapan angin dan menyuruh kami keluar dari tempat persembunyian. Alhamdulillah, di sel selama seminggu,” kata Lulu mengisahkan.

“Hingga kini, geng Seak tidak pernah resmi membubarkan diri. Hanya saja banyak yang sudah meninggal. Kini jarang reuni. Satu lagi yang saya tidak bisa lupakan, saya sampai jual motor kesayangan saya karena mendatangkan Koes Plus. Ternyata kami belum bayar pajak,” tutup Lulu Kaking.

Ayip Muflich, mantan anggota geng Seak mengaku suka tertawa sendiri saat mengenang masa mudanya bersama geng Seak. “Itu sebenarnya geng keluarga, kami semua se-kampung yang kemudian belajar di sekolah yang sama. Banyak kenangan yang tidak terlupakan. Terutama saat kami menggelar konser Koes Plus dan hasil penjualan tiketnya untuk amal. Itu rasanya sangat hebat,” katanya.

Pria yang menjabat Sekda Banten pertama ini menambahkan, sejumlah kenakalan remaja turut dilakukannya bersama teman-temannya di geng Seak.

“Namanya anak muda, ya enggak jauh dari berantem. Tapi, alhamdulillah, ‎seiring bertambahnya usia kami belajar tumbuh menjadi pemuda yang bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk untuk masa depan,” katanya.

Ayip mengajak generasi muda di Banten untuk tidak lupa mengabdi dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan daerah. “Sekarang anak mudanya jauh lebih pintar, sudah mengerti politik dan akrab dengan teknologi. Harusnya‎ sudah lebih maju pemikirannya dibandingkan zaman dulu,” ungkapnya. (Deni S/Radar Banten)