Keluarga dan kerabat saat pemakaman Yon Koeswoyo di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Sabtu (6/1). Yon Koeswoyo meninggal dunia pada usia 77 tahun karena sakit komplikasi. Foto: Jawa Pos

Di Tuban, kebesaran Koes Plus diabadikan melalui museum. Keturunan ningrat yang tak membeda-bedakan teman.

MATA Hari Sunarno tampak berbinar. Dengan saksama diamatinya deretan foto dan gambar album itu. ”Yon ini pendiam, tak seperti adiknya, Yok,” kata Hari sembari menunjuk sebuah foto.

Ada empat pemuda gondrong bercelana klowor-klowor (lebar di bagian bawah) di foto tersebut. Dua di antaranya adalah Yon dan Yok Koeswoyo, personel band legendaris Indonesia Koes Plus.

Foto itu merupakan koleksi Museum Koes Plus yang berada di Tuban. Di kabupaten di pesisir utara Jawa Timur bagian barat itulah, persisnya di Sendangharjo, Koes Plus dilahirkan dengan nama awal Koes Bersaudara.

Para personel pertamanya adalah kakak beradik anak-anak pasangan R Koeswoyo dan Rr Atmini. Masih di Tuban pula, banyak koleksi Koes Plus yang diabadikan di Museum Kambang Putih.

Hari tahu banyak soal Yon yang meninggal Jumat (5/1) pagi lalu, Yok (satu-satunya personel tersisa), dan Koes Plus sendiri karena masih terhitung saudara dengan keluarga Koeswoyo. Munaryo, ayah Hari, adalah kakak Koeswoyo, ayah Tonny, Nomo, Yon, dan Yok (personel Koes Bersaudara).

Usia Hari dengan almarhum Yon Koeswoyo memang terpaut sangat jauh, 20 tahun. Sehingga kenangan Hari bersama sang maestro banyak dirajut ketika Yon berkunjung ke Tuban.

Tiap kali mudik ke Bumi Wali, julukan Kota Tuban, hampir pasti Yon selalu menjujuk rumah Hari. Hari mengaku terakhir bertemu Yon di Tuban pada 2015. Dan tiap kali berada di kota kelahirannya itu, Yon selalu mengajak ke tempat kuliner ayam panggang. ”Yang selalu dipesan tiap ke Tuban ayam panggang sama minum legen,” kenang Hari yang mengaku tak sempat melayat ke Jakarta.

Dari Koes Bersaudara ke Koes Plus, ada proses evolusi yang cukup panjang. Hanya Yon (vokal dan gitar pengiring) serta sang kakak Tonny (keyboard, gitar melodi, dan vokal) yang terus bertahan. Formasi terbaik Koes Plus dari periode 1969 sampai 1987 terdiri atas Tonny, Yon, Yok, dan Murry.

Yon pula yang terus mengibarkan panji Koes Plus sepeninggal Tonny pada 1987 dan setelah Yok serta Murry tak aktif lagi karena alasan kesehatan. Vokal khasnya juga sangat identik dengan Koes Plus meski semua personel sebenarnya juga turut menyumbangkan karya dan suara.

Tak mengherankan kalau kemudian begitu banyak fans Koes Plus yang turut mengantarkan Yon ke peristirahatan terakhir di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, kemarin. ”Mas Yon itu sangat ramah kepada para penggemarnya,” kata Bambang Riyanto, penasihat KPK (Komunitas Pecinta Koes Plus).

Semasa kecil di Tuban, Yon dan keluarga Koeswoyo tinggal di Jalan W.R. Supratman 46, Kelurahan Sendangharjo. Dia bersekolah di SD Kebonsari. Tapi, ketika belum lulus SD, pada 1950-an, Yon dan kedelapan saudaranya diboyong ayah-ibunya ke Jawa Barat dan kemudian ke Jakarta.

Rr Atmini, sang ibu, merupakan kerabat Bupati Tuban (waktu itu) RM Soemobroto. Sedangkan Koes diambil dari nama ayah mereka, Raden Koeswoyo.

”Meskipun lahir dari keluarga ningrat, Yon dan saudara-saudaranya dikenal ramah dan tidak membeda-bedakan teman bermain,” kata Hari yang juga kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Tuban.

Kini jejak Yon dan saudara-saudaranya yang telah melahirkan salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia itu masih bisa dinikmati melalui museum. Sebab, rumah keluarga Koeswoyo telah dijual dan berpindah tangan sejak lama.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Tuban Agus Wijaya mengapresiasi penuh para penggemar Koes Plus di Bumi Wali. Karena itu pula, pihaknya membuat Museum Koes Plus beberapa pekan yang lalu.

Museum yang menempati lantai 2 Dome Rest Area tersebut nanti tidak hanya menyimpan kenangan-kenangan tentang Koes Plus. Tapi sekaligus menjadi tempat berkumpul dan berkarya para penggemar. ”Koes Plus ini sudah menjadi salah satu ikon Kota Tuban,” tuturnya. (Yudha Satria Aditama/JPG)

BAGIKAN