Menggagas Rumah Transaksi Pesantren

0
883 views

Oleh. H. M. Ali Mustofa

Sekretaris Dewan Pertimbangan FSPP dan Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 MUI Provinsi Banten

Pendidikan adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dan berpengaruh terhadap perubahan sosial. Melalui pendidikan diharapkan bisa menghasilkan generasi penerus yang mempunyai karakter yang kokoh untuk menerima tongkat estafeta kepemimpinan bangsa.

Salah satu lembaga pendidikan yang telah banyak menyumbang kepemimpinan bangsa adalah pondok pesantren (pontren). Selain itu pontren juga telah berkiprah dalam lapangan pendidikan dan lapangan wirausaha. Sumbangannya signifikan terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya ekonomi (SDE).

Pesantrenlah yang memberikan pendidikan pada masa-masa sulit dengan pembiayaan yang bersumber dari sumbangan para donatur dan kegiatan wirausaha yang dikelola secara mandiri. Menurut Zamakhsyari Dhofier (1982) tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi menanamkan kepada santri bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian kepada Allah SWT. Pesantren juga telah memberikan spirit dan pengalaman wirausaha dengan memberikan tanggung jawab kepada para santrinya antara lain dalam mengelola unit-unit usaha secara mandiri yang ada di lingkungan pondok pesantren sehingga turut membentuk karakter wirausaha santri.

Dalam perbincangan kiai-kiai yang tergabung dalam Forum Silaturrahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten dan FSPP kabupaten/kota terkait dengan kewirausahaan yang dikembangkan di pondok pesantren, wirausaha pontren pada awalnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan survivelnya. Dana donatur yang terkumpul pada awal pendirian pontren selain digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional, sebagian diantaranya disisihkan untuk diputar pada unit usaha yang terkait langsung dengan kebutuhan santri seperti kantin dan warung santri. Dalam perjalanan kehidupan pontren uang bulanan santri disimpan di Bank, Bank memberikan advis agar membuka usaha yang feasible lalu pontren membuka unit-unit usaha yang dibiayai Bank. Pontren membuka kegiatan usaha seperti toko sembako/sandang, perbengkelan, konveksi, peternakan, perikanan, pertanian, dan parawisata sesuai dengan potensinya masing-masing. Biaya usaha pontren berasal dari pontren diputar di unit usaha milik pontren dibeli oleh santri, ustadz dan masyarakat sekitar pontren. Kiai Anang Azhari Alie (Pimpinan Pontren Modern Al Mizan) menyebut pola demikian dengan istilah “ekonomi tertutup atau ekonomi protektif”. Pada ekonomi protektif ini relatif tidak terjadi aliran uang keluar pontren, kecuali saat uang pontren diparkir di Bank pada saat pontren belum memiliki unit usaha produktif yang digerakan oleh santrinya. Demikianlah gambaran singkat tumbuhnya spirit wirausaha di pondok pesantren pada umumnya baik di Banten maupun di luar Banten.

Spirit wirausaha inilah yang kemudian ditangkap oleh FSPP Provinsi Banten untuk melakukan kegiatan pemberdayaan ekonomi di pondok pesantren. Sejak didirikan akhir tahun 2002 FSPP Provinsi Banten segera menyusun database, hasilnya sekitar 1.500 pontren tergabung. Setelah dipetakan potensinya, pontren dominan bergumul dengan dunia pendidikan, ekonomi dan pembangunan sarana prasarana (sarpras). Penanganan sarpras dasar dikerjasamakan dengan Islamic Relief (IR) ratusan pontren di Banten dibantu oleh (IR) berupa pembangunan/ rehab sanitasi lingkungan, kamar mandi (KM) /WC berlangsung sejak tahun 2003-2009. Penanganan pendidikan dikerjasamakan dengan Pemprov Banten berupa insentif guru ngaji tercatat Pemprov Banten menghibahkan dananya untuk ribuan guru ngaji di Banten mulai tahun 2003, 2011 dan 2015. FSPP juga menjalin kemitraan dengan Asia Moslem Charity Foundation (AMCF) mendirikan Ma’had Tahfidz Al Quran di lingkungan sekretariat FSPP Provinsi Banten sejak tahun 2011 hingga kini. Sementara itu penanganan ekonomi dirintis dengan pendirian Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) pada masa kepemimpinan KH. Sulaiman Ma’ruf (2003-2009). Puskopontren pernah bekerja sama dengan koperasi milik Pemkot Cilegon mengelola unit usaha deterjen (merk Soblez) dan membagikan ratusan alat komunikasi (HP) sebagai sarana usaha pimpinan pontren se Banten.

Potensi pontren itu oleh FSPP Provinsi Banten ditemukenali persoalannya, dipetakan kembali potensinya dan dilakukan tahap-tahap pemberdayaan. FSPP Provinsi Banten ingin memandirikan dirinya dan juga anggotanya dengan terus menggagas model-model kewirusahaan dan pemberdayaan. Berdasarkan hasil dentifikasi terhadap potensi ekonomi pontren, warungan muncul sebagai unit usaha dominan yang ada di pontren-pontren Banten, disusul perikanan, pekarangan, pertanian sawah dan peternakan. Realitas ini adalah hal menarik dan menggambarkan bahwa pada potensi ekonomi pontren seakan-akan terdapat “emas dan perak”.

RUMAH TRANSAKSI

Untuk merealisasikan potesi pontren tersebut, pada tahun 2017 FSPP Provinsi Banten menggagas Rumah Transaksi dan Investasi (RTI) sebagai ikhtiar membangun komitmen transaksi antar pontren yang tergabung dalam FSPP Provinsi Banten. Seandainya potensi yang ada dari masing-masing pontren tersebut “Produknya” dipromosikan dan “ditransasksikan” melalui RTI FSPP Provinsi Banten maka akan terjadi aliran barang dan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Jika pergerakan aliran barang dan uang itu lancar maka dibutuhkan investasi untuk membuka unit-unit usaha baru di pontren-pontren potensial se Provinsi Banten. Pada tahun 2018 saat FSPP Provinsi Banten menerima dana hibah untuk disalurkan pada 3122 pondok pesantren telah dilakukan kajian potensi keuangan yang dapat dihasilkan dari unit-unit usaha pontren seandainya dana hibah pada saat itu boleh digulirkan untuk pemberdayaan ekonomi produktif di lingkungan pontren.

Hasil kajian ini menggambarkan seandainya lahan pekarangan pontren diberdayakan dengan ditanami jagung, kacang panjang dan cabe (panen 3 bulan), sawi dan kangkung (panen 1 bulan) serta lahan sawahnya ditanami padi konsumsi dan padi untuk penangkaran benih (panen 4 bulan) melibatkan 1155 pontren potensial dari total hampir 4000 pontren, investasi yang ditanam sebesar Rp 20,8 milyar, diperoleh pendapatan sekitar Rp 34,9 milyar dan keuntungan per musim Rp 11,8 milyar atau rata-rata per bulan Rp 3 milyar. Seandainya keuntungan tersebut dibagi tiga (pontren, pengelola dan dana pengembangan) maka masing-masing mendapatkan bagian Rp 1 milyar per bulan sehingga untuk 1155 pontren masing-masing memperoleh deviden sebanyak Rp 865.800 per bulan. Namun karena dana hibah untuk pontren saat itu tidak secara spesifik dapat digunakan untuk program pemberdayaan ekonomi maka kalkulasi profit yang diproyeksikan masih tertunda di atas kertas.

Bagaimanapun juga kegiatan pemberdayaan pontren dan kewirausahawannya harus terus digagas untuk didirealisasikan. Menumbuhkan, memberdayakan dan mengembangkan kewirausahaan di pontren sebaiknya menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diajarkan di pontren. Dengan pendidikan wirausaha ala pontren santri kelak sadar bahwa ternyata pada setiap jengkal lahan-lahan yang ada di sekitar pontren tersimpan emas dan perak yang jika diberdayakan bisa menjadi harapan masa depannya. Dengan demikian pontren tidak hanya melahirkan calon kiyai dan ulama tetapi juga calon pengusaha saat santri memilih jalan hidupnya sebagai seorang wirausahawan. Ia menggerakkan potensi sumberdaya ekonomi yang ada di pontrennya sembari membangun jejaring antar pondok pesantren. Kuncinya ada pada spirit, budaya dan karakter positif yang melekat pada dirinya dalam menjalankan kegiatan wirausaha. Juga ada pada semangat bela beli dan bela jual antar pondok pesantren yang kelak menjadi landasan spiritual berdirinya Rumah Transaksi Pesantren (RTP) sebagai pengembangan dari RTI. Maka merealisasikan RTP sebagai wadah usaha bersama (syirkah) antar pelaku wirausaha di lingkungan pontren adalah strategis dan urgen di tengah ekonomi negara yang kemarau tidak saja akibat Pandemi Covid-19 tetapi juga karena menurunnya pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.

Menggagas RTP adalah ikhtiar menumbuhkan pontren sebagai basis produksi sekaligus juga konsumsi, mendorong terjadinya aliran barang, uang dan profit antar pontren pada komunitas yang terberdayakan oleh FSPP bersama mitra strategisnya. Meski terasa sulit mewujudkan RTP juga penting sebagai jawaban dan pembuktian bahwa komunitas pontren tidak hanya bisa berkumpul tetapi juga bisa berbaris rapi menggerakan ekonomi umat. Wallahu’alam. (*)