Menggali Potensi Wisata Religi di Margasari

0
897
Sekretaris Desa Margasari Jarkasih

TANGERANG – Desa Margasari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kabupaten Tangerang. Di Kampung Kaduagung, ada dua makam keramat. Saat ini, makam Buyut Mas Bajrah dan Ki Buyut Mas Nurakhim tersebut telah banyak dikunjungi peziarah.

       Sekretaris Desa Margasari Jarkasih menuturkan, dulu, area tempat makam Buyut Mas Bajrah dan Ki Buyut Mas Nurakhim berupa hutan belantara. Kedua makam tua itu mulai dibangun oleh Pemerintah Desa Margasari setelah kakek dari Jarkasih mendapat mimpi.

”Suatu ketika, kakek saya didatangi satu cahaya yang tidak diketahui asalnya. Kejadian itu berlangsung selama tiga Jumat. Dari Jumat ke Jumat, cahaya itu semakin terang. Kemudian, di malam Jumat ketiga, kakek saya bermimpi didatangi seseorang yang mengaku keturunan Banten. Ia minta diurusi dan dibuatkan makamnya,” ujar Jarkasih.

Jarkasih yang mendapat cerita sejarah kedua makam keramat itu dari pamannya melanjutkan cerita, kedua buyut itu dipercaya sebagai makam petapa. Keduanya juga diyakini orang pertama yang tinggal dan meninggal pertama kali pula di Margasari.

Warga lalu bergotong royong membabat pepohonan di area kedua makam. Hutan yang menutupinya dibuka.

Kedua makam itu kemudian dibangun secara bertahap. Awalnya, hanya berupa gubuk kecil untuk menutupi atau memayungi kedua makam. Di pinggir gubuk ditanami peria, sayur yang lebih dikenal dengan nama pare.

”Setelah ditanami pare, mulai terjadi keanehan yang enggak masuk akal. Pare yang ditanam berbuah setiap hari. Hari ini dipetik, besok sudah ada lagi yang siap dipetik. Bahkan menurut cerita, membangun makam ini juga hasil dari penjualan pare yang dipetik setiap hari. Itu syariatnya. Hakikatnya tetap kepada Allah,” tegas Jarkasih.

Karena tidak ada satu pun warga yang mengakui sebagai pemilik lahan bekas hutan itu, area kedua makam keramat tersebut berstatus sebagai tanah wakaf. Kini, oleh Pemerintah Desa Margasari dijadikan sebagai tempat pemakaman umum.

”Area pemakaman ini luasnya sekitar satu hektare. Ramai peziarah setiap malam Jumat. (Peziarah-red) enggak cuma dari kampung di sini (Kaduagung-red) dan warga Margasari, ada juga yang dari desa lain, bahkan ada peziarah dari luar Tangerang,” kata Jarkasih.

Hawa di area pemakaman tempat Buyut Mas Bajrah dan Ki Buyut Mas Nurakhim bersemayam sangat sejuk. Pemerintah Desa Margasari telah membangun sumur berikut fasilitas penunjangnya, berjarak sekira 10 meter dari kedua makam keramat. Peziarah dapat bersuci, wudu atau mandi. Kedua makam keramat juga tampak terawat.

Upaya Pemerintah Desa Margasari menjadikannya sebagai destinasi wisata religi memang belum optimal. Makanya itu, Jarkasih mengharapkan perhatian dari Pemkab Tangerang. Dukungan pemerintah daerah dipercaya akan mempercepat program Pemerintah Desa Margasari mewujudkan wisata religi di desa seluas 450 hektare itu. 

”Ke depan, di sekitar makam, kami akan tata agar lebih baik lagi. Semakin hari, pengunjungnya banyak, terutama di musim pencalonan baik kepala desa atau pun legisltaif. Kalau tertata, nanti bisa dimanfaatkan warga mendirikan warung untuk membantu kebutuhan peziarah. Dengan begitu, bisa membantu perekonomian warga Margasari,” harap Jarkasih.

Desa berpenduduk 19.800 jiwa ini juga memiliki destinasi wisata keluarga. Yakni, kolam renang dan resto Citamiang.

Seperti di desa lain, pembangunan infrastruktur di Margasari juga cukup baik. Jalan di Margasari dibangun menggunakan paving block. Pemerintah Desa Margasari juga membangun saluran air dan saluran pembuangan air limbah (SPAL). Pembangunan fisik ini tersebar di 32 rukun tetangga (RT) dan sembilan rukun warga (RW). (pem/rb/sub)